Bagi Patrisia Lama Bahi, kemerdekaan perempuan bukan sekadar kebebasan untuk menentukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari. Kemerdekaan juga berarti ketika setiap perempuan memiliki ruang untuk mengakses hak-haknya secara setara, tanpa diskriminasi.
Lahir di Regong, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pada 4 Desember 1994, Patrisia, saat ini sebagai Ketua Kota Suluh Perempuan Flores Timur, juga aktif sebagai relawan di lembaga kemasyarakatan. Bagi Patrisia, pengalaman dan kehidupan sehari-hari membuat makna kemerdekaan menjadi sesuatu yang dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi perempuan.
“Makna kemerdekaan bagi saya adalah bahwa semua perempuan harus memiliki ruang untuk bisa mengakses hak-haknya,” ujar Patrisia.
Hak tersebut, menurutnya, mencakup banyak aspek kehidupan. Perempuan harus memiliki hak atas kehidupan yang layak, kesempatan memperoleh kehidupan ekonomi yang baik, layanan publik tanpa diskriminasi, pendidikan yang setara, serta layanan kesehatan yang menyeluruh dan gratis.
Dengan demikian, kemerdekaan tidak berhenti pada terbebasnya seseorang dari penjajahan, tetapi juga menyangkut bagaimana perempuan dapat menjalani kehidupan dengan hak dan kesempatan yang sama.
Kemerdekaan Dimulai dari Ruang Keluarga
Menurut Patrisia, pengalaman merasakan kemerdekaan juga berawal dari lingkungan terdekat, yakni keluarga. Ia melihat bahwa salah satu bentuk kemerdekaan adalah ketika perempuan mampu keluar dari cara pandang lama yang membatasi pendidikan perempuan.
“Saya merasa merdeka sepenuhnya bila—secara pribadi—di dalam keluarga sudah atau bisa keluar dari pikiran kolot soal pendidikan,” katanya.
Menurutnya, pendidikan tidak seharusnya dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Laki-laki maupun perempuan memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan.
Pemaknaan tersebut tidak terlepas dari sosok perempuan yang dekat dengan kehidupan Patrisia. Ketika ditanya tentang perempuan yang menginspirasinya dalam memaknai kebebasan, Patrisia menyebut Marsinah sebagai sosok pahlawan yang menginspirasinya. Sementara dalam kehidupan pribadi, sosok yang paling dekat dengan makna tersebut adalah mamanya.
Kedua sosok tersebut menunjukkan bahwa inspirasi tentang kebebasan dapat datang dari berbagai ruang. Ia bisa ditemukan dalam kisah perjuangan seorang perempuan yang dikenang dalam sejarah, tetapi juga tumbuh dari pengalaman dan keteladanan perempuan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Perjuangan yang Belum Selesai
Patrisia melihat masih banyak perjuangan yang harus dilakukan perempuan Indonesia untuk benar-benar dapat menikmati kemerdekaan. Salah satunya adalah perjuangan untuk mengakses hak-hak perempuan, bebas dari diskriminasi, dan keluar dari sistem sosial kita yang masih patriarki.
Perjuangan tersebut, menurutnya, dapat dilakukan melalui berbagai jalan. Pendidikan dan literasi menjadi salah satu fondasi penting untuk membuka kesadaran perempuan atas hak-haknya. Di sisi lain, perjuangan di ranah hukum, aksi-aksi bersama, serta kemandirian ekonomi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi perempuan.[]
Sukir Anggraeni

Terkait
Merdeka di Ruang Digital Berarti Aman dan Terlindungi
Bagi Dede Patonah, Kemerdekaan Perempuan Dimulai dari Bebas Berpendapat dan Mandiri
Perempuan Adat Menjaga Wilayah, Merawat Pengetahuan, dan Menyambung Perjuangan