30 November 2025

Surat kepada Perempuan Pembela HAM yang Dipenjara

0Shares

“Alexa yang terhormat,

Kisah aktivismemu telah menginspirasi ribuan perempuan pembela hak asasi manusia di seluruh dunia. Terima kasih atas keberanian dan pengorbananmu dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan. Kamu berarti — kisahmu sedang disuarakan!”

Ini adalah salah satu dari ratusan surat yang ditulis untuk Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia (PPHAM) yang dipenjara karena perjuangan mereka.

Selama Forum AWID 2024, Koalisi Internasional Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia (WHRDIC) menghadirkan sebuah instalasi partisipatif publik yang menampilkan kisah 30 WHRD dari berbagai negara. Mereka adalah perempuan yang saat pernah menjalani hukuman penjara akibat kerja-kerja dan aktivisme yang membela hak asasi manusia. Kisah-kisah ini dikumpulkan oleh anggota dan mitra WHRDIC, sebagai upaya memberikan visibilitas terhadap keberanian dan ketangguhan para pembela yang tetap melawan penindasan dari balik jeruji besi.

“Intisar yang terhormat,

Terima kasih telah berjuang untuk semua perempuan, atas keberanianmu, dan karena mempertaruhkan nyawamu. Hari ini kami memikirkanmu, dan kami berdiri dalam solidaritas bersamamu. Kami akan terus berjuang untuk dunia di mana perempuan bebas memilih hidup dan jalan karier mereka. Kami tidak akan menyerah sampai itu menjadi kenyataan. Semangat untuk kalian!”

Surat ini ditujukan kepada salah satu PPHAM yang dipenjara di Yaman.

Menulis surat kepada PPHAM yang sedang menjalani hukuman bukan sekadar tindakan simpati, tetapi juga wujud kasih sayang, solidaritas, serta dorongan untuk terus bertahan. Dalam instalasi ini, para peserta diundang menuliskan pesan dukungan kepada 30 perempuan pembela HAM—pesan berisi kepedulian, kekuatan, dan harapan. Bila kondisi keamanan memungkinkan, surat-surat tersebut diteruskan kepada keluarga para pembela HAM, menjadi titik terang sekaligus pengingat bahwa perjuangan mereka tidak pernah sunyi.

“Amanda tersayang,

Aku tahu kamu adalah sosok ibu yang kuat dan penuh cinta. Cintamu adalah kekuatan. Esai, puisi, tulisan, dan renunganmu juga adalah kekuatan. Aku mengirimkan banyak cinta untukmu, juga untuk anakmu. Aku berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraanmu. Kamu adalah cahaya. Terima kasih.”

Pesan ini dikirimkan ke Filipina, ditujukan untuk seorang ibu muda yang dipenjara karena aktivismenya.

Anna Nikoghosyan, Koordinator Eksekutif WHRDIC, menegaskan bahwa perhatian global terhadap para perempuan pembela HAM yang dipenjara sangatlah mendesak:

“Semua orang harus membicarakan para aktivis yang dipenjara. Ini harus menjadi agenda utama setiap konferensi, pertemuan, dan diskusi. Kita membutuhkan aksi global untuk membantu membebaskan mereka. Tidak seorang pun boleh dianiaya, diancam, atau dipenjara karena aktivitas advokasinya. Setiap orang yang menentang sistem penindasan memiliki tanggung jawab untuk memperjuangkan pembebasan mereka.”

Instalasi ini merupakan bagian dari kampanye tahunan WHRDIC, Spreading the Echo, yang bertujuan memperluas suara para PPHAM yang dipenjara—menyerukan pembebasan mereka, menuntut keadilan, dan membangun solidaritas internasional. Setiap tahun, kampanye ini hadir di berbagai kanal media sosial melalui tagar #SpreadingTheEcho, menghubungkan para pendukung dari seluruh dunia.

Meskipun beberapa perempuan pembela HAM yang disorot dalam kampanye ini telah dibebaskan, sebagian besar lainnya masih menjalani hukuman yang tidak adil. Karena itu, WHRDIC akan terus #SpreadingTheEcho

Sumber : https://whrdic.org

0Shares