Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) menyatakan kecaman keras atas meningkatnya eskalasi geopolitik di Amerika Latin, khususnya agresi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela sebagai negara berdaulat. Intervensi tersebut dinilai sebagai bentuk agresi imperialis yang melanggar hukum internasional dan mengancam stabilitas global.
GEBRAK menyoroti pengerahan pasukan militer AS di kawasan Karibia dengan dalih pemberantasan perdagangan narkoba, yang kemudian berujung pada operasi militer skala besar hingga ke Ibu Kota Venezuela, Caracas dan penangkapan Presiden Nicolás Maduro beserta istri secara ilegal.
“Penculikan Presiden Venezuela dan istrinya adalah tindakan agresif yang belum pernah terjadi sebelumnya dan secara nyata melanggar prinsip dasar hukum internasional serta praktik peradilan global,” tegas Sunarno, Ketua Umum Konfederasi KASBI sekaligus Juru Bicara Aliansi GEBRAK.
Menurut GEBRAK, intervensi militer AS berpotensi membuka front perang baru di tengah situasi dunia yang tidak stabil. Langkah ini dinilai sebagai fase lanjutan dari agresi imperialis global yang penuh kekacauan dan berisiko membawa konsekuensi tak terduga bagi rakyat dunia, terutama kelas pekerja.
“Intervensi ini bukan semata soal politik, tetapi upaya mengendalikan kekayaan mineral dan energi Venezuela dalam pusaran antagonisme antar-imperialisme demi dominasi global,” lanjut Sunarno.
Aliansi GEBRAK menegaskan solidaritasnya bersama berbagai gerakan buruh internasional yang secara tegas mengutuk campur tangan imperialis di Venezuela. Di Indonesia, serikat buruh dan organisasi rakyat yang berorientasi pada perjuangan kelas menyatakan dukungan penuh terhadap kedaulatan rakyat Venezuela.
“Kami berdiri bersama rakyat Venezuela untuk mempertahankan hak yang tidak dapat dinegosiasikan, yakni hak menentukan masa kini dan masa depan mereka sendiri secara bebas dan demokratis, tanpa intervensi kekuatan asing,” ujar Sunarno.
Sebagai bentuk nyata solidaritas internasional, Aliansi GEBRAK menggelar aksi dengan tajuk “Solidaritas untuk Kedaulatan Rakyat Venezuela” pada hari Selasa (6/1/2026) di Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta.
Aksi tersebut menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya:
- Mendesak Pemerintah Indonesia menyatakan sikap tegas menolak intervensi militer AS terhadap Venezuela;
- Menghentikan embargo dan blokade ekonomi terhadap Venezuela;
- Membebaskan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya;
- Menghentikan perang imperialis yang terus mengorbankan rakyat kecil dan kelas pekerja di seluruh dunia.
“Perang dan embargo hanya memperpanjang penderitaan rakyat. Solidaritas internasional adalah keharusan moral bagi gerakan buruh dan rakyat tertindas di mana pun,” pungkas Sunarno.[]
Sukir Anggraeni

Terkait
Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda
Imlek dan Wajah Pluralisme
Perubahan Besar Dimulai dari Hal Kecil, Semangat Survivor Menguatkan Langkah Suluh Perempuan