Suluh Perempuan terus menguatkan komitmennya dalam memperjuangkan hak asasi perempuan, khususnya bagi korban kekerasan seksual, melalui langkah yang lebih strategis dan transformatif. Salah satu upaya yang kini digerakkan adalah penyelenggaraan pelatihan Value Clarification and Attitude Transformation (VCAT), sebuah pendekatan yang dirancang untuk memperkuat perspektif korban dalam layanan kesehatan seksual dan reproduksi. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari ikhtiar membangun cara pandang yang lebih adil, empatik, dan tidak menghakimi terhadap perempuan korban kekerasan seksual.
Bagi Suluh Perempuan, kekerasan seksual bukan hanya persoalan kriminalitas, melainkan pelanggaran hak asasi manusia yang berdampak luas dan berlapis terhadap kehidupan perempuan. Dampaknya tidak berhenti pada luka sosial dan psikologis, tetapi juga menyentuh secara langsung kesehatan seksual dan reproduksi korban. Karena itu, pendekatan layanan kesehatan tidak cukup hanya berbasis medis, tetapi harus berangkat dari pemahaman utuh tentang hak korban atas tubuh, martabat, serta pemulihan yang bermakna.
“Kekerasan seksual terhadap perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang berdampak kompleks dan berlapis. Dampak tersebut tidak hanya dirasakan secara sosial dan psikologis, tetapi juga secara langsung memengaruhi kesehatan seksual dan reproduksi perempuan,” demikian pandangan Suluh Perempuan.
Banyak perempuan korban kekerasan seksual menghadapi risiko kesehatan reproduksi yang serius, mulai dari infeksi menular seksual, kehamilan tidak diinginkan, gangguan kesehatan organ reproduksi, hingga trauma berkepanjangan yang memengaruhi relasi perempuan dengan tubuhnya sendiri. Situasi ini kerap diperburuk oleh keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan yang berperspektif korban serta minimnya dukungan sosial yang memadai.
Dalam praktiknya, pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi bagi perempuan korban kekerasan seksual masih menghadapi berbagai hambatan. Suluh Perempuan menyoroti bahwa kurangnya pengetahuan korban mengenai hak-haknya, kuatnya stigma sosial, serta budaya menyalahkan korban menjadi faktor yang terus memperdalam kerentanan perempuan.
“Minimnya pengetahuan korban mengenai hak-haknya, kuatnya stigma dan budaya menyalahkan korban, serta keterbatasan layanan kesehatan yang berperspektif korban dan berbasis hak asasi manusia menjadi faktor yang memperparah kerentanan perempuan,” tegas Suluh Perempuan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa isu kekerasan seksual dan kesehatan reproduksi tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling terkait dan membutuhkan pendekatan yang berkeadilan gender. Tanpa perubahan perspektif di tingkat penyedia layanan, korban berisiko kembali mengalami diskriminasi bahkan saat berupaya mencari pertolongan dan pemulihan.
Di sinilah pelatihan VCAT menjadi relevan dan strategis. Dalam konteks Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, VCAT merujuk pada proses klarifikasi nilai dan transformasi sikap yang bertujuan mengubah cara pandang individu, khususnya para penyedia layanan kesehatan, agar lebih terbuka, tidak menghakimi, dan mendukung pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi secara komprehensif.
Melalui metode ini, peserta pelatihan diajak untuk mengenali nilai-nilai personal yang selama ini mereka pegang, mengevaluasi bagaimana nilai tersebut memengaruhi cara kita memperlakukan dan mendampingi korban, serta mentransformasikannya agar selaras dengan prinsip hak asasi manusia. VCAT tidak hanya menyasar tenaga kesehatan, tetapi juga pendidik dan pembuat kebijakan yang memiliki peran penting dalam menciptakan ruang layanan yang aman, adil, dan inklusif, terutama bagi perempuan dan remaja yang kerap menghadapi stigma sosial.
Sebagai organisasi yang bergerak dalam perjuangan hak asasi perempuan, Suluh Perempuan memandang kaderisasi sebagai proses yang tidak hanya bersifat organisatoris, tetapi juga ideologis dan substantif. Para kader diharapkan memiliki pemahaman yang mendalam mengenai tubuh perempuan, kesehatan reproduksi, serta kerangka hak asasi manusia, sehingga mampu berkontribusi secara nyata dalam pendampingan, edukasi, dan advokasi bagi perempuan korban kekerasan seksual.
“Kader Suluh Perempuan diharapkan memiliki pemahaman yang kuat mengenai tubuh perempuan, kesehatan reproduksi, serta kerangka hak asasi manusia agar mampu berpihak dan berkontribusi nyata dalam upaya pendampingan, edukasi, dan advokasi bagi perempuan korban kekerasan seksual,” demikian komitmen yang ditegaskan organisasi ini.
Atas dasar itulah, VCAT Training Suluh Perempuan 2026 dirancang sebagai ruang pembelajaran yang kritis sekaligus transformatif dengan mengusung tema “Hak Kesehatan Reproduksi bagi Perempuan korban Kekerasan Seksual”. Pelatihan ini bertujuan memperkuat pemahaman kader mengenai HKSR sekaligus membangun kesadaran gender yang lebih kokoh.
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya mempelajari aspek biologis dan dampak kesehatan reproduksi akibat kekerasan seksual, tetapi juga diajak memahami HKSR sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjuangan hak asasi perempuan. Proses ini diharapkan melahirkan kader yang mampu bekerja dengan perspektif korban serta memiliki komitmen jangka panjang dalam memperjuangkan pemenuhan hak kesehatan reproduksi perempuan.
“VCAT Training ini menjadi langkah strategis dalam membangun kader yang berkesadaran gender, berperspektif korban, serta berkomitmen memperjuangkan pemenuhan hak kesehatan reproduksi perempuan secara berkelanjutan,” tulis Suluh Perempuan.

Di Indonesia, metode VCAT telah digunakan oleh berbagai organisasi untuk mendukung pemenuhan hak kesehatan seksual dan reproduksi di berbagai daerah. Pendekatan ini dinilai penting dalam mendukung implementasi kebijakan kesehatan, termasuk penyediaan alat kontrasepsi yang tepat sasaran bagi kelompok rentan seperti remaja dan pasangan muda menikah, guna mencegah kehamilan berisiko tinggi serta menekan angka kematian ibu.[]
Humaira

Terkait
Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda
Imlek dan Wajah Pluralisme
Perubahan Besar Dimulai dari Hal Kecil, Semangat Survivor Menguatkan Langkah Suluh Perempuan