Isu kesehatan reproduksi kerap memantik perdebatan. Di satu sisi, ia sudah diatur negara melalui Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2014 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025. Namun di sisi lain, praktik di lapangan masih menyisakan banyak celah, perbedaan tafsir, hingga pro dan kontra yang tajam.
Di ruang inilah VCAT atau Value Clarification and Attitude Transformation menjadi penting.
Dalam sesi pelatihan, Tursia—yang akrab disapa Chia—membuka diskusi dengan rendah hati. Ia menegaskan bahwa dirinya bukan dokter spesialis kandungan atau psikolog, meski materi yang dibawakan bersinggungan dengan dua bidang tersebut.
“Aku bukan narasumber, tetapi aku adalah teman sharing, kawan-kawan. Jadi perlakukan saya sebagai teman sharing. Bukan saya yang paling tahu dan bukan saya yang paling benar. Karena kita sama-sama berinteraksi.”
Nada ini menjadi kunci. VCAT bukan ruang ceramah satu arah, melainkan ruang aman untuk membongkar nilai, menguji sikap, dan membangun perspektif bersama.
Mengapa VCAT Penting untuk Isu Kesehatan Reproduksi
VCAT adalah metode interaktif untuk mengeksplorasi sikap terhadap isu-isu sensitif, termasuk kesehatan reproduksi. Chia mengajak peserta untuk membebaskan pikiran dari sekat bahasa dan stigma.
“Hari ini kita bebaskan pikiran kita. Artinya tidak ada sekat bahasa bahwa bahasa itu kotor atau bahasa itu baik. Kita hanya akan mengenal anatomi kita sendiri sebagai manusia.”
Kesehatan reproduksi bukan sekadar urusan biologis. Ia berkaitan dengan nilai, keyakinan, budaya, bahkan politik. Ketika negara sudah membuat regulasi, belum tentu implementasinya berjalan mulus.
“Secara regulasi, itu bagus. Tetapi dalam penerapannya, itu masih banyak bolong-bolong atau belum maksimal.”
Salah satu titik krusialnya adalah perdebatan antara pro-life dan pro-choice. Dalam pelatihan ini, peserta diajak merefleksikan posisi masing-masing tanpa paksaan.
“Ini pilihan personal masing-masing. Artinya, disclaimernya, Suluh Perempuan tidak memaksakan kita harus pro-life atau pro-choice.”
Bagi lembaga, sikap institusional memang diperlukan. Namun bagi individu, refleksi personal tetap dihormati. Di sinilah VCAT bekerja—bukan untuk menyeragamkan pilihan, melainkan menjernihkan nilai dan menyadari konsekuensi sikap.
Dari Nilai ke Sikap dalam Pendampingan
VCAT bukan sekadar diskusi ideologis. Ia menyentuh praktik pendampingan sehari-hari, terutama ketika berhadapan dengan penyintas.
“Karena ada attitude and transformation-nya, maka itu bicara masalah sikap. Bagaimana semua nilai-nilai itu ada dalam sikap kita, cara kita mendampingi komunitas, cara kita menghadapi survivor.”
Pendamping bisa saja memiliki keyakinan pribadi tertentu. Namun dalam praktik, yang utama adalah tidak menghakimi, tidak menyudutkan, dan tetap berpegang pada standar operasional prosedur.
“Gimana kita bicara dengan korban, jangan menghakimi dan seterusnya.”

Isu kesehatan reproduksi juga rentan terhadap kriminalisasi, terutama ketika berkaitan dengan aborsi. Dalam konteks ini, pemahaman yang tepat menjadi penting agar pendamping tidak terjebak stigma atau bahkan membahayakan diri sendiri dan komunitas.
“Kawan-kawan yang bergerak di isu kesehatan reproduksi itu rentan kriminalisasi, rentan dikriminalkan. Karena hubungannya dengan aborsi.”
Chia juga menyinggung realitas di lapangan, di mana praktik tidak aman masih terjadi.
“Yang banyak dilakukan di perkampungan rata adalah pakai dukun beranak, dia tidak punya standar yang jelas apakah ini aman atau tidak.”
Tanpa perspektif yang kuat, pendamping bisa kehilangan arah. Tanpa sikap yang jernih, korban bisa kembali terluka.
Membangun Perspektif Bersama
Dalam sesi tersebut, peserta diajak mendefinisikan ulang konsep-konsep dasar seperti gender, jenis kelamin, hingga hak kesehatan reproduksi. Diskusi dilakukan secara partisipatif, satu per satu, agar setiap orang menyadari nilai yang ia bawa.
“Yang umum-umum, yang harus kita ketahui sebagai pendamping, itu harus saya informasikan. Sehingga, saat kita bertemu dengan lembaga-lembaga yang juga di isu kesehatan, kita sudah punya perspektif.”
VCAT tidak berhenti pada isu reproduksi saja. Ada VCAT untuk anak, bahkan di beberapa negara ada pendekatan khusus untuk suami dan ayah, menunjukkan bahwa transformasi nilai memang harus menyentuh seluruh ekosistem keluarga.
Namun yang paling mendasar adalah ini: perubahan sosial tidak hanya dimulai dari regulasi, tetapi dari sikap.
Ketika pendamping mampu mengklarifikasi nilai dan mentransformasikan sikapnya, ia tidak hanya bekerja berdasarkan aturan, tetapi berdasarkan kesadaran. Ia tidak hanya hadir sebagai aktivis, tetapi sebagai manusia yang utuh—yang paham batas, paham risiko, dan paham tanggung jawab.[]
Sukir Anggraeni

Terkait
Ketika Perempuan Memimpin Aksi Iklim dari Akar Rumput
Cahaya dari Kardus Bekas di Tengah Luka Gaza
Ngabuburit Sedunia, Menunggu Maghrib dengan Cara yang Berbeda di Berbagai Negara