25 Februari 2026

Ketika Perempuan Memimpin Aksi Iklim dari Akar Rumput

Source: www.un.org

0Shares

Ketika krisis iklim tak lagi sekadar wacana, tetapi menjadi kenyataan yang terasa hingga ke dapur dan sumber air, perempuan dari berbagai pelosok Indonesia justru tampil di garis depan. Mereka tidak hanya menjadi pihak yang terdampak, tetapi juga pemimpin perubahan di tingkat komunitas, dengan mengandalkan pengetahuan lokal, ketahanan hidup, serta kerja sama yang kuat.

Di berbagai daerah, perempuan akar rumput terus menyuarakan aspirasi dan mengajak banyak pihak, terutama negara, untuk mendukung langkah mereka. Dukungan ini menjadi penting karena perempuan sering berada di garda terdepan menghadapi dampak krisis iklim sehari-hari.

Semangat itu terlihat dalam Temu Nasional bertajuk “Lokal Bertindak, Nasional Berdampak: Membangun Kolaborasi untuk Kepemimpinan Perempuan dalam Transisi Energi dan Keadilan Iklim” yang digelar di Jakarta pada 4 Februari 2026. Dalam forum yang merupakan bagian dari proyek regional EmPower: Women for Climate-Resilient Societies Phase 2 oleh UN Women bersama UNEP, para perempuan dari berbagai daerah berbagi pengalaman nyata menghadapi krisis iklim. Forum ini juga didukung berbagai negara serta diselenggarakan bersama Women Research Institute.

Para pembicara yang tampil dalam Temu Nasional bertajuk: ”Lokal Bertindak, Nasional Berdampak: Membangun Kolaborasi untuk Kepemimpinan Perempuan dalam Transisi Energi dan Keadilan Iklim” di Jakarta, Rabu (4/2/2026). Mereka berbicara dalam panel diskusi bertajuk ”Dari Pengalaman ke Data: Pengalaman Perempuan dalam Aksi Iklim”. Foto: Dok. Panitia

Menjaga air dan pangan dari desa

Dari Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Imakulata F. Jedia dan Getrudis Rusiana Rini membawa cerita tentang desa mereka yang menghadapi kemarau panjang, gagal tanam, dan debit air yang terus menurun. Namun alih-alih menyerah, mereka memilih bergerak bersama komunitas.

“Saat gagal tanam itu, kami bisa menanam kembali segala tanaman yang sudah punah,” ujar Imakulata.

Ketika sumber air mulai berkurang, Imakulata memimpin kelompoknya melakukan konservasi mata air. Mereka menanam berbagai pohon lokal—seperti munting, beringin, bambu, hingga pinang—yang mampu menjaga dan meningkatkan ketersediaan air. Upaya ini juga dibarengi dengan pelestarian benih serta pangan lokal sebagai strategi bertahan menghadapi ancaman krisis pangan.

Sementara itu, Getrudis Rusiana Rini, yang menjabat sebagai Sekretaris Kelompok Momang Koe, membawa misi perubahan melalui pekarangan rumah. Ia menggerakkan para ibu untuk mengembangkan pertanian sayuran organik berbasis pekarangan.

“Kami melakukan ini untuk hidup kami yang berkelanjutan bersama anak cucu kami ke depannya nanti,” tegas Getrudis.

Dari krisis energi menuju inovasi desa

Cerita lain datang dari Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Di sana, kelangkaan gas elpiji saat musim tembakau memicu kesulitan baru bagi perempuan. Mereka harus berkeliling desa hingga berkilo-kilometer demi mendapatkan gas untuk memasak.

“Kami perempuan yang harus mencari gas bahkan keluar desa. Karena kalau tidak ada gas, bagaimana kami akan memasak,” tutur Baiq Sri Anom Padma.

Dari situ lahir solusi bersama: pembangunan instalasi biogas dari kotoran sapi melalui program EmPower. Teknologi ini bukan hanya menjawab krisis energi rumah tangga, tetapi juga membuka pemahaman baru tentang energi bersih.

“Kami dulunya tidak tahu apa itu energi kotor. Tetapi setelah ikut dalam program ini kami tahu, oh ternyata biogas itu energi bersih,” kata Anom.

Ia juga menambahkan bahwa pupuk organik cair dari biogas membantu memulihkan tanah. “Bumi lestari, cuan mengalir.”

Namun perubahan tidak selalu mudah. Hambatan terbesar justru datang dari norma sosial yang masih membatasi peran perempuan di ranah domestik. Untuk mengatasinya, organisasi lokal menggandeng tokoh agama dan pemimpin desa agar mendukung kepemimpinan perempuan.

Anggota kelompok perempuan di Samar Kilang, Kecamatan Syiah Utama, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, saat mengolah aren menjadi gula aren serbuk, 25 Januari 2022. Selain mendorong ekonomi, pemberdayaan perempuan di kawasan hutan Samar Kilang juga mendorong warga memelihara hutan. Foto: Dok. Katahati Institute.

“Kami sangat berhati-hati ketika bicara tentang kepemimpinan perempuan. Jangan sampai kemudian kita membebani perempuan lagi dengan kegiatan, tetapi di dalam rumah tangga tidak clear soal pembagian domestiknya,” jelas Haiziah dari Gema Alam.

Hasilnya mulai terlihat: kepala desa yang sebelumnya ragu kini justru mendukung gerakan perempuan, bahkan mengalokasikan anggaran desa.

Perempuan penjaga hutan dan sumber air

Di Aceh, pendekatan berbeda dilakukan oleh para perempuan penjaga hutan di Kabupaten Bener Meriah. Suraya Kamaruzaman menjelaskan bagaimana perempuan mampu meredakan konflik dengan pendekatan dialog saat menghadapi pembalak liar.

“Kalau rangers (penjaga hutan)-nya laki-laki, melarang pembalak hutan, itu bisa berkelahi. Tapi karena rangers-nya perempuan, dia punya strategi pendekatan yang berbeda. Dia bicara, kalau hutan ini hancur, anak ke depan bagaimana?” ujar Suraya.

Pendekatan yang humanis ini terbukti efektif mengubah cara pandang dan menjaga sumber air bagi masyarakat.

Perempuan sebagai aktor kunci solusi iklim

Kisah dari NTT, NTB, dan Aceh menunjukkan bahwa perempuan bukan sekadar korban perubahan iklim, melainkan penggerak solusi. Mereka memimpin inovasi, menjaga ekosistem, dan memperkuat ketahanan komunitas.

“Perempuan bukan hanya kelompok yang paling terdampak. Perempuan adalah aktor kunci perubahan,” tegas Dwi Yuliawati dari UN Women Indonesia, seraya mengutip pemikir feminis Vandana Shiva bahwa perempuan adalah pemegang pengetahuan ekologi dan penjaga biodiversitas.

Direktur Eksekutif Women Research Institute, Sita Aripurnami, juga menyoroti bahwa selama ini pengetahuan dan aksi perempuan sering kali tidak terlihat.

“Pengetahuan aksi nyata perempuan yang selama ini dilakukan kerap tak terdengar dan tak tampak. Melalui Program Empower II terlihat bahwa perempuan bertindak dan menghadirkan hasil yang nyata,” ujarnya.

Namun keberhasilan di tingkat lokal perlu didukung ekosistem kolaborasi yang kuat agar berkelanjutan.

“Diperlukan kolaborasi strategis yang melibatkan organisasi masyarakat sipil, akademisi, filantropi, sektor privat, pemerintah dan organisasi internasional untuk membangun ekosistem dukungan yang kokoh bagi kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim,” ujar Sita.

Pemerintah pun mengakui pentingnya langkah ini. Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Amurwani Dwi Lestariningsih, menyoroti bahwa partisipasi perempuan di sektor energi masih di bawah 32 persen.

“Kepemimpinan perempuan dalam pengambilan keputusan menjadi amat penting, tidak hanya dalam terlibat dalam penyusunan kebijakan, tetapi juga bagaimana meningkatkan implementasi kebijakan dilaksanakan,” katanya.

Dukungan juga datang dari komunitas internasional. Perwakilan Kedutaan Besar Selandia Baru, Katherine Halliburton, menegaskan bahwa transisi energi global dan keadilan iklim membutuhkan semua talenta, termasuk potensi penuh perempuan.

Pada akhirnya, kisah Imakulata, Getrudis, Baiq Sri Anom, Haiziah, dan Suraya menunjukkan satu hal penting: ketika perempuan diberi ruang, kapasitas, dan kepercayaan, mereka tidak hanya mampu bertahan menghadapi krisis iklim, mereka juga memimpin jalan menuju masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan.[]

Kompas

0Shares