Pada Minggu, 5 Juli 2026, Suluh Perempuan kembali menyelenggarakan acara bertajuk “Sekolah Gender Suluh Perempuan: Belajar, Bergerak, Berdampak”di Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Acara ini mengajak serta Perempuan Pejuang Reforma Agraria (PPRA), di dukung oleh Pemersatu Petani Cianjur (PPC) dan Sarekat Pendamping Rakyat (SPR) Indonesia.
Kegiatan ini dihadiri 50an peserta, bapak-bapak dan ibu-ibu warga Desa Cibokor yang antusias mengikuti setiap sesi pembelajaran. Sekolah Gender menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai kesetaraan gender, peran perempuan, serta pentingnya menjaga kesehatan reproduksi.
Pada pembukaan acara, mewakili PPC, Etang Samsudin menjelaskan bahwa lahirnya Kelompok Perempuan Pejuang Reforma Agraria (PPRA) merupakan langkah penting agar perempuan tidak lagi ditempatkan di belakang dalam berbagai proses perjuangan. Menurutnya, selama ini masih ada anggapan bahwa urusan publik merupakan wilayah laki-laki, sementara perempuan hanya identik dengan pekerjaan domestik.
“Kalau bicara perempuan, rata-rata perempuan dikesampingkan atau mengesampingkan diri. Seolah-olah, ‘ini tugas laki-laki.’
Ia menegaskan bahwa Sekolah Gender dirancang sebagai ruang yang santai dan setara, tempat setiap peserta dapat saling berbagi pengalaman tanpa merasa digurui.
“Ini mengobrol terkait masalah kita, dari masalah keluarga, lingkungan, dan yang lain-lain. Intinya kita saling belajar.”
Sementara itu, Wigatiningsih dari SPR Indonesia menekankan pentingnya pendidikan sebagai bagian dari penguatan organisasi rakyat. Ia berharap proses belajar ini tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkuat kemampuan peserta dalam melakukan pengorganisasian di wilayah masing-masing.
Menurutnya, seluruh peserta hadir sebagai sesama pembelajar yang memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh.
“Tidak ada yang lebih pintar di sini. Kita belajar bareng-bareng.”
Ia juga berharap pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat menjadi bekal untuk memperkuat gerakan masyarakat di tingkat akar rumput.
Dalam sambutannya juga, Siti Rubaidah, Ketua Umum Suluh Perempuan, menjelaskan bahwa Sekolah Gender mengusung tema “Belajar, Bergerak, Berdampak”, yang menjadi semangat utama kegiatan. Ia menegaskan bahwa pendidikan gender bukan sekadar memahami konsep kesetaraan, tetapi menjadi jalan untuk membangun keberanian perempuan mengambil peran dalam keluarga, masyarakat, maupun organisasi.

Menanggapi persoalan yang disampaikan sebelumnya, ia mengajak peserta untuk mengkritisi berbagai anggapan yang selama ini membatasi perempuan.
“Kenapa perempuan selalu dianggap hanya urusan dapur? Ada masalah apa? Kenapa perempuan yang sekolah tinggi itu sedikit? Nah, itu nanti kita akan kupas.”
Ia juga memberikan contoh para pengurus Suluh Perempuan yang berasal dari berbagai daerah dan profesi sebagai bukti bahwa perempuan mampu berkarya di berbagai bidang.
“Perempuan itu tugasnya tidak hanya di dapur, tetapi perempuan juga bisa meraih mimpinya setinggi-tingginya.”
Di akhir sambutan, Siti Rubaidah menjelaskan bahwa kegiatan sehari penuh tersebut tidak berhenti pada proses belajar, melainkan diarahkan untuk menghasilkan rencana tindak lanjut yang disusun bersama oleh peserta.
“Setelah pendidikan ini, kita mau apa? Itu yang akan kita bahas dalam rencana tindak lanjut.”
Setelah memberi sambutan, Siti Rubaidah memaparkan materinya dengan tema “Seks dan Gender” serta “Perempuan dan Politik”. Melalui diskusi yang interaktif, peserta diajak memahami perbedaan antara seks dan gender, sekaligus melihat pentingnya keterlibatan perempuan dalam ruang-ruang pengambilan keputusan, baik di keluarga maupun di masyarakat.
Selanjutnya dr. Adinda Bunga Syafina, Sp.B, mengangkat tema “Kesehatan Reproduksi dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS)”. Materi ini membekali peserta dengan pengetahuan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari cara menjaga kesehatan reproduksi, mengenali penyakit infeksi menular seksual, hingga pentingnya pencegahan dan meluruskan berbagai mitos yang masih berkembang di masyarakat.
Untuk merefleksikan kembali materi yang telah dipelajari, Jung Nurshabah memandu sesi ice breaking yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan. Melalui permainan edukatif, peserta diajak mengingat kembali poin-poin penting dari setiap materi. Metode ini membuat suasana belajar menjadi lebih hidup sekaligus membantu peserta memahami dan mengingat materi dengan lebih mudah karena dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari.
Sementara itu, anak-anak juga mendapatkan ruang belajar yang menyenangkan. Selama orang tua mengikuti kelas, mereka mengikuti kegiatan mewarnai gambar, juga membuat karya seni berupa topeng kupu-kupu, serta melantunkan sholawat dipandu oleh Ridhoah. Kehadiran kelas anak menjadikan Sekolah Gender sebagai ruang belajar yang ramah keluarga, di mana setiap anggota keluarga dapat belajar sesuai usianya.

Sebagai penutup, seluruh peserta—baik orang dewasa maupun anak-anak—mengikuti sesi tanya jawab dan kuis untuk mengingat kembali materi yang telah dipelajari. Antusiasme peserta terlihat dari semangat mereka menjawab setiap pertanyaan. Sebagai bentuk apresiasi atas keberanian dan semangat belajar tersebut, panitia membagikan doorprize kepada para peserta. Suasana penuh tawa dan kebahagiaan mengiringi berakhirnya kegiatan, meninggalkan kesan bahwa belajar dapat menjadi pengalaman yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Kehangatan kegiatan semakin terasa melalui sambutan hangat masyarakat Desa Cibokor. Sebagai bentuk rasa syukur dan ungkapan terima kasih kepada Suluh Perempuan yang telah berkenan hadir dan berbagi manfaat bagi warga, Abah Baban, selaku koordinator Organisasi Tani Lokal beserta keluarga memberikan buah tangan berupa aneka umbi-umbian hasil kebun mereka. Hadiah sederhana tersebut menjadi simbol ketulusan, penghargaan, dan kuatnya nilai gotong royong yang hidup di tengah masyarakat Desa Cibokor.[]
Jung Nurshabah Natsir

Terkait
Artery Performa Menyuarakan Bumi yang Terluka Lewat Album Perdana
La Brujineta: Ketika Para Penyihir Perempuan Mengawal Argentina Menuju Juara Dunia
Aliansi Perempuan Indonesia Desak Pemerintah Turunkan Harga dan Hentikan MBG di Tengah Krisis Hidup Rakyat