Musik Indonesia punya tradisi panjang dalam merawat kesadaran lingkungan. Di balik harmoni dan nada yang menggugah, sejumlah musisi perempuan menjadikan panggung, lirik, dan karya mereka sebagai ruang untuk menyuarakan kepedulian terhadap alam. Dari balada lingkungan yang tumbuh sejak puluhan tahun lalu hingga pertunjukan musik eksperimental lintas samudra, mereka memperlihatkan bahwa musik dapat menjadi medium untuk mengajak publik melihat kembali hubungan manusia dengan bumi.
Bagi sebagian musisi, peduli lingkungan tidak berhenti pada mencipta lagu, mereka membangun komunitas, melakukan aksi penanaman pohon, kampanye pengurangan sampah, hingga mengubah cara mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Bahkan musik menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang lebih luas: kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), krisis iklim, pencemaran laut, dan keberlanjutan hidup manusia.
Dari Balada Lingkungan hingga Panggung di Tengah Samudra
Salah satu nama yang penting dalam perjalanan musik bertema lingkungan di Indonesia adalah Ully Sigar Rusady. Musisi balada senior ini telah mengangkat persoalan alam melalui lagu-lagu yang bercerita tentang hutan, sungai, sumber air, dan kerusakan lingkungan. Sejak akhir 1970-an, ia menekuni musik balada yang tidak hanya mengandalkan keindahan melodi, tetapi juga menyampaikan kisah dan kegelisahan tentang kehidupan.

Salah satu penggalan liriknya berbunyi, “Berikan dukamu kepadamu pohon-pohon, sungai-sungai. Sebuah hutan adalah rumah kita, yang pintunya senantiasa lebar terbuka. Hutan adalah rumah kita…” Lirik tersebut dinyanyikan Ully dalam pembukaan pameran Apa Kabar Ibu? #2 di Galeri Nasional, Jakarta, pada 2014.
Bagi Ully, musik balada memang tidak bisa dilepaskan dari kenyataan yang terjadi di sekitar manusia. Dalam wawancara dengan Koran Sulindo pada 2016, ia menjelaskan, “Musik balada tercipta berdasarkan cerita dan pengalaman penciptanya, bukan berasal dari rekaan dan khayalan belaka.”
Ia bahkan menekankan bahwa pesan dalam lagu seharusnya diikuti tindakan nyata. “Lagu balada itu bukan hanya punya pesan, tapi juga ada action. Kalau lagunya soal tanam pohon, ya, kamu beneran tanam pohon,” katanya.
Pandangan itu tidak berhenti sebagai gagasan. Pada 2014, Ully mendirikan Rumah Balada Indonesia (RBI), sebuah wadah bagi komunitas, pemusik, dan pencinta musik balada. Selain mengembangkan musik, komunitas ini juga terlibat dalam gerakan peduli lingkungan, termasuk penanaman pohon dan upaya melindungi mata air di berbagai daerah. Ully juga mendirikan Yayasan Garuda Nusantara yang bergerak dalam kepedulian lingkungan dan persoalan sosial.
Kiprah Ully memperlihatkan bahwa musik lingkungan bukan tren yang baru muncul belakangan. Jauh sebelum krisis iklim menjadi pembicaraan luas seperti sekarang, ia telah menggunakan balada untuk mengingatkan publik bahwa hutan dan sumber air merupakan bagian penting dari kehidupan.
Jika Ully menyuarakan kegelisahan terhadap alam melalui balada, Nova Ruth membawa pesan ekologis ke ruang pertunjukan yang lebih eksperimental. Bersama Grey Filastine, ia mengembangkan Arka Kinari, proyek musik dan seni audiovisual yang dipentaskan di atas kapal layar tradisional bertenaga angin dan panel surya.

Kapal tersebut menjadi panggung sekaligus sarana perjalanan untuk menyampaikan pesan tentang krisis iklim, laut, dan kehidupan yang lebih rendah emisi karbon. Arka Kinari berlayar ke berbagai tempat, bertemu komunitas, dan menghadirkan pertunjukan yang mengajak penonton membayangkan kehidupan setelah ketergantungan pada energi fosil.
Dalam wawancara dengan detikJatim pada 2022, Nova menjelaskan bahwa Arka Kinari menggunakan musik sebagai medium untuk menyampaikan perubahan iklim. Ia tidak ingin kampanye lingkungan hanya hadir dalam bentuk ceramah atau sederet peringatan.
“Kami tidak kampanye ekstrem dengan mengundang banyak orang dengan menjejali kalimat perubahan iklim. Tapi dengan mengundang masyarakat yang mau mendengar dengan musik,” ujarnya.
Nova juga menyampaikan kegelisahannya tentang perubahan bumi yang berlangsung begitu cepat. “Kenyataannya, bumi berubah terlalu cepat melebihi fiksi dalam naskah,” katanya.
Pengalaman berlayar membuat persoalan perubahan iklim tidak lagi sekadar gagasan yang dibicarakan dalam pertunjukan. Dalam perjalanan Arka Kinari, Nova menyaksikan langsung kehidupan masyarakat pulau yang terdampak kenaikan permukaan laut. Kepada ABC News pada 2024, ia menceritakan komunitas masyarakat adat di Kepulauan San Blas yang sumber air tawarnya tercemar air laut akibat naiknya permukaan laut. Mereka bahkan harus meminta air bersih kepada kapal yang melintas.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan yang membuatnya terus melanjutkan perjalanan. Bagi Nova, seni dapat menjadi jalan untuk membuat persoalan ekologis lebih dekat dengan kehidupan orang banyak. Dalam wawancara dengan Greeners, ia juga berharap generasinya tidak bersikap acuh terhadap kondisi alam, sebab kehidupan generasi berikutnya turut bergantung pada tindakan yang dilakukan hari ini.
Gagasan tentang musik sebagai penggerak kesadaran lingkungan juga berkembang melalui gerakan kolektif. Pada Juli 2024, Nova terlibat sebagai fasilitator dalam lokakarya IKLIM bertema Aktivisme Musik dan Lingkungan di Bali. Kegiatan tersebut mempertemukan musisi dengan organisasi dan pegiat lingkungan untuk membangun pemahaman bersama tentang krisis iklim.
Dalam keterangan yang dikutip Billboard Indonesia, Nova menyampaikan, “Musik memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan mendesak tentang krisis iklim. Melalui IKLIM, kami bertujuan menginspirasi tindakan dan meningkatkan kesadaran melalui ekspresi kreatif.”
Merawat Bumi Melalui Karya dan Cara Hidup
Kesadaran ekologis juga tumbuh di kalangan musisi generasi muda. Salah satunya Rara Sekar, penyanyi sekaligus peneliti yang menggunakan musik dan kegiatan sehari-hari untuk mengajak masyarakat membangun hubungan yang lebih dekat dengan alam.

Dalam berbagai kegiatannya, Rara mengangkat gagasan hidup minim sampah, mengonsumsi pangan lokal, berkebun, dan kembali mengenali lingkungan sekitar. Baginya, kepedulian terhadap bumi tidak cukup disampaikan melalui lagu, tetapi perlu hadir dalam pilihan hidup sehari-hari.
Dalam wawancara dengan Associated Press (AP) pada 2025, Rara mengatakan, “I try to give back to nature in everything I do. Not just about the songs I write but also how I live.” Ia berusaha memberi kembali kepada alam melalui segala hal yang dilakukan, bukan hanya lewat lagu, tetapi juga cara menjalani kehidupan.
Rara juga pernah mengorganisasi kegiatan bersepeda di Pulau Jawa pada 2022 dan 2023. Kegiatan tersebut mengajak masyarakat melihat lebih dekat persoalan erosi dan banjir sekaligus menikmati kembali hubungan dengan alam. AP mencatat, pendekatan kampanye lingkungan Rara berangkat dari upaya membangun kehidupan yang lebih sederhana dan minim sampah.
Di panggung Skoll World Forum di Oxford, Inggris, pada April 2025, Rara membawakan lagu “Kabut Putih”, karya Zubaidah Nuntjik yang ditulis pada 1971. Lagu tersebut memiliki sejarah yang berkaitan dengan pengalaman penahanan dan kekerasan politik di Indonesia. Rara mengatakan lagu itu memberinya kekuatan ketika merasa putus asa dalam aktivisme iklim maupun perjuangan lainnya.
“Most of my songs are inspired by nature,” katanya kepada AP. Ia juga berupaya memasukkan pendidikan tentang iklim dan krisis iklim ke dalam tur musiknya.
Sementara itu, seniman dan musisi asal Bali, Ayu Laksmi, membawa hubungan manusia dengan alam melalui pendekatan seni dan spiritualitas. Dalam perjalanan bermusiknya, Ayu mengembangkan karya yang berakar pada tradisi, bahasa, dan filosofi Bali. Album Svara Semesta, yang dirilis pada 2010, menjadi salah satu penanda perjalanan artistiknya dalam mengolah musik sebagai ruang perenungan.

Dalam pemberitaan ANTARA mengenai album tersebut, produsernya, Rudolf, menyebut karya Ayu sebagai refleksi dari perjalanan panjang dan kesadaran artistiknya. Ia juga mengatakan bahwa lagu-lagu Ayu berpijak pada kearifan lokal, budaya, dan tradisi Nusantara.
Ayu sendiri memandang musik dan karya seni sebagai bentuk persembahan. Dalam wawancara dengan Kumparan, ia menjelaskan bahwa bagi masyarakat Bali, berkesenian merupakan salah satu cara berkomunikasi dengan sesama dan semesta. Ia juga menguraikan filosofi Tri Hita Karana, yakni hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
“Di Bali ada konsep Tri Hita Karana—hubungan harmonis antara manusia dengan alam, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan alam. Semua harus dihormati,” ujarnya.
Kedekatan personal dengan alam juga terlihat dalam karya Eva Celia. Dalam wawancara dengan ELLE Indonesia pada 2019, Eva menceritakan lagu “Kala Senja” yang terinspirasi dari kerinduannya berada di tengah alam. “Lagu ini tentang rasa rindu yang saya alami saat berada di tengah alam. Saya pun sulit untuk menjelaskannya, namun rasanya seperti pulang ke rumah,” ungkapnya.

Pernyataan itu memperlihatkan bagaimana alam dapat menjadi sumber rasa, inspirasi, dan pengalaman personal dalam penciptaan musik. Eva kemudian terlibat bersama Diskoria dan Laleilmanino dalam lagu “Dengar Alam Bernyanyi”, sebuah karya kolaboratif yang mengajak pendengar memperhatikan pentingnya menjaga hutan Indonesia.
Lagu tersebut menjadi contoh bagaimana pesan lingkungan dapat disampaikan melalui kolaborasi musisi dengan latar musik yang berbeda. Musik populer dapat menjadi pintu masuk bagi pendengar, terutama generasi muda, untuk mengenali ancaman terhadap hutan dan keanekaragaman hayati.
Musik memang tidak dengan sendirinya menghentikan deforestasi, memulihkan laut, atau mengatasi krisis iklim. Namun, musik dapat membuat persoalan itu terdengar, dirasakan, dan dibicarakan lebih luas. Seperti yang ditekankan Ully Sigar Rusady, pesan dalam lagu perlu diikuti tindakan nyata. Sebab merawat bumi bukan hanya urusan mereka yang menyuarakannya di atas panggung, melainkan tanggung jawab bersama semua orang yang hidup di dalamnya. (***SA)
Sumber referensi
Ully Sigar Rusady
- Koran Sulindo — “Wujud Cinta Ully Sigar Rusady ke Musik Balada dan Lingkungan” (12 Juli 2016).
- DetikHot — “Ully Sigar Rusady Pamerkan Dokumentasi Musik Bertutur” (18 November 2014).
Nova Ruth dan Arka Kinari
- detikJatim — “Arka Kinari Gelar Konser di Atas Kapal Layar, Kampanyekan Perubahan Iklim” (2022).
- Koalisi Seni — “Nova Ruth dan Nyanyian Krisis Iklim dari Lautan” (2 November 2022).
- ABC News — “How musicians Filastine & Nova toured the world in a sustainable way on their boat Arka Kinari” (24 Februari 2024).
- Billboard Indonesia — “Efek Rumah Kaca dan 14 Musisi Lain Bangun Gerakan Kesadaran Krisis Iklim” (3 Juli 2024).
Rara Sekar
- Associated Press (AP) — “Singer Rara Sekar draws inspiration from nature, encourages people to return to simple living” (5 April 2025). Ini salah satu referensi paling kuat untuk bagian Rara.
Ayu Laksmi
- Whiteboard Journal — “Melihat Perkembangan Seni di Pulau Dewata dari Masa ke Masa Bersama Ayu Laksmi”.
- Okezone — “Ayu Laksmi Gunakan Lima Bahasa di Album Baru” (3 Desember 2010).
Eva Celia dan “Dengar Alam Bernyanyi”
- ELLE Indonesia — “Eva Celia: Mengalahkan Emosi dan Kembali Pada Jati Diri” (12 Juli 2019).
- ANTARA — “‘Dengar Alam Bernyanyi’ Laleilmanino terpilih jadi lagu tema Y20 2022” (3 Juni 2022).

Terkait
Jilbab dan Politik Kuasa atas Tubuh Perempuan: Studi Kasus Taliban dan Iran
Patriarki Tidak Jatuh dari Langit: Sejarah Penaklukan Perempuan
Dari Indonesia hingga Eropa, Gelombang Protes Menuntut Pemerintah Bertanggung Jawab