Australia berada di jalur yang tepat untuk menjadi negara pertama di dunia yang berhasil memberantas kanker serviks pada tahun 2035. Harapan besar ini muncul setelah laporan terbaru dari Pusat Penelitian Unggulan dalam Pengendalian Kanker Serviks menunjukkan tren penurunan yang konsisten dalam angka kejadian penyakit tersebut di kalangan perempuan.
Data nasional mencatat bahwa pada tahun 2021, angka kejadian kanker serviks turun menjadi 6,3 per 100.000 perempuan, dibandingkan 6,6 per 100.000 pada tahun sebelumnya. Lebih menggembirakan lagi, untuk pertama kalinya sejak pencatatan dimulai pada 1982, tidak ada satu pun kasus kanker serviks yang terdiagnosis pada perempuan di bawah usia 25 tahun pada tahun tersebut.
Peningkatan juga terlihat pada tingkat kelangsungan hidup. Dalam periode 2017–2021, tingkat kelangsungan hidup lima tahun mencapai 76,8 persen, naik dari 73,9 persen pada periode 2012–2016. Angka-angka ini mencerminkan kemajuan signifikan dalam pencegahan dan penanganan kanker serviks, yang selama ini menjadi salah satu ancaman serius bagi kesehatan perempuan.
Namun di balik capaian tersebut, laporan ini juga mengingatkan bahwa tantangan belum sepenuhnya teratasi. Tingkat vaksinasi Human Papillomavirus (HPV) dan partisipasi perempuan dalam pemeriksaan skrining serviks tercatat sedikit menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa upaya berkelanjutan masih sangat dibutuhkan, terutama untuk memastikan tidak ada perempuan yang tertinggal dalam akses layanan kesehatan.
Salah satu terobosan penting dalam upaya pemerataan akses adalah hadirnya opsi pengambilan sampel sendiri untuk pemeriksaan skrining serviks. Banyak perempuan memilih metode ini, termasuk mereka yang sebelumnya jarang atau bahkan belum pernah menjalani skrining. Opsi ini terbukti menjadi pintu masuk baru bagi kelompok-kelompok yang selama ini paling kurang terlayani, seperti masyarakat Aborigin, komunitas multikultural, LGBTQIA+, penyandang disabilitas, serta perempuan di wilayah regional dan terpencil.
Kampanye ‘Own It’ yang didanai oleh Pemerintah Albania juga memberikan dampak signifikan. Kampanye ini dirancang untuk meningkatkan kesadaran tentang opsi pengambilan sampel sendiri di kalangan masyarakat yang kurang terlayani, dan berhasil meningkatkan tingkat kesadaran hingga 45 persen di antara audiens sasaran.
Komitmen pemerintah terhadap isu kesehatan perempuan ditegaskan melalui alokasi dana sebesar 59 juta dolar untuk mendukung implementasi Strategi Nasional Eliminasi Kanker Serviks di Australia. Pendanaan ini ditujukan untuk meningkatkan partisipasi, memperkuat kesetaraan akses, serta menurunkan angka kanker serviks secara nasional.
Asisten Menteri Kesehatan dan Perawatan Lansia Australia, Rebecca White MP, menegaskan bahwa keberhasilan ini tidak datang begitu saja dan harus terus dijaga. Ia menyatakan, “Australia memimpin dunia dalam pemberantasan kanker serviks, tetapi kita harus mempertahankan momentum untuk mewujudkan tujuan ini.”

Rebecca White juga menekankan komitmen pemerintah dalam memastikan setiap perempuan memiliki akses yang adil terhadap layanan kesehatan. “Pemerintah Albania bertekad untuk memberantas kanker serviks pada tahun 2035 dan memastikan pemeriksaan serviks bersifat inklusif, mudah diakses, dan efektif,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan Australia saat ini tidak lepas dari keputusan-keputusan kebijakan yang berpihak pada kesehatan perempuan sejak dini. “Adopsi awal vaksin HPV untuk anak perempuan dan perempuan muda di Australia, serta peralihan tepat waktu ke skrining serviks daripada tes Pap smear, telah menempatkan kita pada jalur yang tepat untuk mencapai eliminasi dan menyelamatkan lebih banyak nyawa,” kata Rebecca White.
Namun ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut tidak boleh membuat lengah. “Namun kita harus terus meningkatkan akses yang adil untuk mempertahankan tingkat vaksinasi HPV dan memastikan setiap orang memiliki akses ke pemeriksaan skrining serviks,” tegasnya.
Tak hanya berfokus pada dalam negeri, Australia juga berperan aktif dalam membantu negara lain mengendalikan kanker serviks melalui Kemitraan Eliminasi Kanker Serviks di Indo-Pasifik (EPICC). Program yang didukung Pemerintah Australia dan Yayasan Minderoo ini memanfaatkan keahlian Australia untuk membantu negara-negara lain dalam pencegahan dan pengobatan kanker serviks.
Upaya kolektif ini menegaskan bahwa eliminasi kanker serviks bukan semata soal target angka, tetapi tentang memastikan hak perempuan atas kesehatan yang setara, inklusif, dan bermartabat, baik di Australia maupun di kawasan yang lebih luas.[]

Terkait
Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda
Imlek dan Wajah Pluralisme
Perubahan Besar Dimulai dari Hal Kecil, Semangat Survivor Menguatkan Langkah Suluh Perempuan