Cerita tentang John Tobing—atau John, biasa aku menyapanya—adalah cerita tentang lagu Darah Juang yang mengalun abadi, massa demontrasi era 98 tentu hafal luar kepala lagu ini, bahkan lagu ini tak terhitung sudah di cover, dinyayikan ulang oleh banyak musisi dalam berbagai genre musik. Seperti Marjinal, band punk yang punya hits ‘Hukum Rimba’ ini membawakan ulang Darah Juang dengan tempo cepat, juga Lontar Band dari Surabaya, merekam-mengaransemen ulang Darah Juang menjadi himne rock nan gagah dan menambah semangat juang lagunya, plus interludenya yang apik.
Dulu, tahun 2000-an awal, saat aku “rajin” demontrasi—seminggu bisa 3 kali—kemanapun titik sasaran aksinya, Darah Juang jadi lagu wajib—selain Buruh Tani (Lagu Pembebasan) dan Topi Jerami. Selalu mengiringi, menyemangati massa aksi menyusuri jalanan kota menuju titik sasaran; istana negara, gedung DPR, instansi pemerintahan, atau dalam forum-forum diskusi.
Dulu aksi demontrasi kerap kali berujung bentrok dengan aparat polisi atau tentara, nah, saat suasana mulai panas, tim negosiator sudah buntu, massa aksi sudah berhadap-hadapan dengan aparat, maka Darah Juang ini dinyanyikan dengan dada bergemuruh, penuh emosional, tegang campur-aduk rasanya. Itu seperti adegan pidato/orasi William Wallace sambil menunggang kuda (diperankan Mel Gibson), mondar mandir dihadapan ribuan pasukannya sebelum memulai pertempuran Stirling dalam film Braveheart (1995), sementara pasukan lawan di seberang siap bertempur fisik, ikonik banget pokoknya.
Begitulah rasanya. Kalian yang pernah mengalami mungkin sama denganku, merasakan beda saat Darah Juang dinyanyikan di situasi normal, benar-benar pengalaman yang membekas di ingatan.

Darah Juang Yang Menjadi Folk Song
Darah Juang pada akhirnya telah bertransformasi menjadi semacam folk song, lagu rakyat, khususnya mereka yang pernah/sedang aktif di pergerakan rakyat dan mahasiswa.
Lagu ini menggunakan akord sederhana yang mengutamakan pesan daripada kerumitan musik, mirip dengan gaya lagu-lagu folk.
Nezar Patria, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, juga kawan satu kampus dengan John, menuliskan kisahnya dalam artikel di FB terkait folk song.
Beberapa tahun lalu dia bertandang ke rumah saya di Yogya, dan bicaranya agak lambat dan sedikit pelo. “Coy, apakah laguku bisa ditagih royaltinya?”, dia bertanya dengan keluguan yang dalam. Saya menjawab bahwa hal itu agak sulit karena lagu Darah Juang menjadi semacam “folk song” dan sebaiknya diikhlaskan saja menjadi milik sejarah, kecuali ada yang memakainya untuk hal yang komersial. John tersenyum dengan bibirnya bergetar seperti ingin mengatakan sesuatu namun tak terucapkan.
Aku juga punya pengalaman pribadi saat interaksiku dengah John. Pernah satu ketika aku berlatih bareng John, berlatih lagunya yang berjudul “Fajar Merah Milikmu”. Aku lupa itu tahun berapa, dan untuk pentas dimana, yang kuingat kami berlatih di Sanggar Ciliwung waktu itu.
Sambil memainkan gitar, kulirik John terpejam bernyanyi, begitu menyatu sekali dengan lagu itu, sementara aku masih mikir dan meraba-raba kord gitar lanjutannya yang harus dimainkan haha.. John memainkan lagunya, jari-jarinya ringan saja mengalir menelusuri fret-fret gitar membentuk nada, ketika kusela bertanya, “John, itu kunci apa?, dia jawab, “Wah aku gak tau, yang penting pas saja dengan suaraku,” jawabnya.

Semoga aku tidak berlebihan dan salah membandingkan, dimana tiap negeri punya musisi folknya sendiri-sendiri: Chile punya Victor Jara, Amerika punya Joan Baez dan Bob Dylan, juga ada John Lennon dari Liverpool, Inggris, maka kita punya John Tobing.
Selamat Jalan John. Terimakasih atas karya-karyamu.[]
Tejo Priyono

Terkait
Menjernihkan Nilai Menguatkan Sikap dalam Pendampingan Kesehatan Reproduksi
Ketika Perempuan Memimpin Aksi Iklim dari Akar Rumput
Cahaya dari Kardus Bekas di Tengah Luka Gaza