11 Maret 2026

Puasa Sebagai Sekolah Integritas: Fondasi Moral Pancasila bagi Demokrasi Yang Bermartabat

0Shares

Club Kajian Salam awalnya digagas oleh Mulia Raya Foundation (MR Foundation), Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dan Aksi Perempuan Indonesia Kartini (API Kartini). API Kartini kemudian berubah nama menjadi Suluh Perempuan dalam kongresnya di tahun 2014.

Club Kajian Salam secara rutin telah mengadakan rangkaian diskusi hingga #16 seri, antara lain:

  • Seri #1 : “Memahami Islam Sebagai Agama Cinta Damai” – 15 September 2018
  • Seri #2 : “Memahami Islam Sebagai Rahmat Lil ’Alamin” – 14 Oktober 2018
  • Seri #3 : “Memahami Islam Sebagai Agama Kemanusiaan” – 18 November 2018
  • Seri #4 : “Kemuliaan Perempuan Dalam Islam” – 16 Desember 2018
  • Seri #5 : “Islam Agama Cinta Lingkungan” – 13 Januari 2019
  • Seri #6 : “Demokrasi Dalam Islam” – 17 Februari 2019
  • Seri #7 : “Islam dan Pembangunan Ekonomi” – 24 Maret 2019
  • Seri #8 : “Feminisme Dalam Islam” – 14 April 2019
  • Seri #9 : “Bijak Memahami Hadist Misoginis” dan Bedah Buku “Perempuan dan Terorisme” – 19 Mei 2019
  • Seri #10 : “Memahami Inti Halal Bi Halal” – 23 Juni 2019
  • Seri #11 : “Peran Perempuan Dalam Islam”, bekerjasama Club Kajian ‘Salam’ dengan PKH Kecamatan Setiabudi
  • Seri #12 : “Poligami Menghambat Keluarga Harmonis” – 28 Agustus 2019
  • Seri #13 : diselenggarakan di MR Foundation
  • Seri #14 : Diskusi buku “Membunuh hantu-hantu Patriarki” – 17 Desember 2019
  • Seri #15 : diselenggarakan di MR Foundation
  • Seri #16 : “Re-interpretasi Konsep Hijrah” – 22 Januari 2020

Setelah cukup lama vakum, di awal bulan Maret 2026 ini Club Kajian Salam kembali hadir dan mengadakan diskusi bertema “Puasa Sebagai Sekolah Integritas: Fondasi Moral Pancasila bagi Demokrasi Yang Bermartabat.” Masih bersama narasumber tetap yakni Prof. Dr. Musdah Mulia, MA, juga menghadirkan Alif Iman Nurlambang, seorang Praktisi Sosial, dan Rizkia Permata R.A. dari Suluh Perempuan yang bertindak sebagai moderator.

Kajian Salam seri #17’ kali ini diselenggarakan Muslimah Reformis dan Suluh Perempuan, Redaksi SuluhPerempuan.org akan menyajikan paparan Prof. Musdah secara lengkap, dan membaginya menjadi dua bagian (bersambung). Selamat membaca.

Backdrop Club Kajian ‘Salam’. Dok. IST

*

Sore itu, layar televisi menampilkan deretan berita perang. Saluran demi saluran dipindahkan: Al-Jazeera, Al-Aqsa, CNN. Semuanya sama. Ledakan, sirene, kepulan asap.

Saya betul-betul gak sadar jadi melototin TV. Loh ini kok semuanya isinya perang ya? Kayak game anak-anak gitu, padahal ini kan perang beneran, “Naudzubillah”

Jadi kita berdoa dari jauh semoga Tuhan memberikan bimbingannya di bulan suci ini kepada para pemimpin dunia, bahwa tidak ada yang diuntungkan dengan perang. Perang itu pasti membawa kerugian buat manusia, buat alam semesta. Karena itu tidak ada siapapun yang diuntungkan dengan perang. Karenanya kita berdoa semoga orang-orang itu semuanya, para pengambil keputusan di tingkat global itu terbuka hatinya untuk melihat bahwa hidup itu ujungnya adalah damai. Tak ada yang diuntungkan dengan perang, apapun itu, karena perang hanya membawa bencana bagi kemanusiaan kita.

Integritas yang Sulit Ditemukan

Dalam kesempatan ini sebuah tema yang bagus diangkat oleh Suluh Perempuan tentang bagaimana menjadikan puasa itu sebagai sekolah integritas. Kata-kata integritas yang hari-hari ini kita cari susah, banyak orang yang pintar, banyak orang yang hebat tapi kok gak punya integritas.

Integritas itu kalau menurut saya adalah apa yang kamu omongin, itu yang kamu perbuat, jadi satu kesatuan yang utuh, integritas itu solid gitu, utuh. Kalau dia ngomong A keputusannya juga A, perilakunya juga A, semua kehidupannya terkait dengan A itu tadi. Jadi gak hari ini ngomong A besok lain lagi, besok lain lagi, kok ada orang seperti itu ya, pokoknya kalian tau semua lah orangnya, ya kan. Kita bingung kan ini ngomong apa? kok barusan kedengeran ngomong ini, barusan saja denger ini, kok sekarang lain lagi

Pokoknya kita akan swasembada beras, tiba-tiba impor, apa dia mengalami amnesia, penyakit lupa atau bagaimana, atau perlu dia berkonsultasi dengan psikolog.

Itulah sebabnya dalam Al’ Quran kita selalu diingatkan selalu ada relevansi ayat tentang kuasa, hampir setiap hari kita dengar melalui corong masjid yang toanya itu gak berhenti-berhenti, tetep saja sudah dikasih pelajaran, dikasih informasi, sudah ada kebijakan, ada undang-undang tentang pengaturan toa tetep saja seperti itu, tidak berubah-berubah.

Sekarang saya pikir apa yang bisa berubah dalam kehidupan kita sebagai bangsa ya, ngurusin toa saja tidak bisa gitu, apalagi yang lain.

Puasa Bukan Sekadar Menahan Lapar

Jadi ayat itu terbunyi ‘Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn’ jadi yang di Allah itu memang, kalau ke dalam Al’quran yang disampaikan itu jelas subjeknya siapa, kali ini hanya orang-orang yang beriman saja.

‘Kutiba ‘alaikumuṣ’ diwajibkan kepadamu puasa, karena kalau orang beriman tidak perlu diajak berpuasa, karena pasti tidak bisa, karena orang berpuasa itu sendiri membutuhkan iman dulu baru bisa. Karena puasa itu bukan sekedar menahan lapar, tapi intinya itu adalah kontrol diri, menahan diri.

Dan menariknya bahwa ibadah puasa itu bukan monopoli umat Islam ‘Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumuṣ, sebagaimana telah diwajibkan pada umat-umat sebelum kamu. Artinya apa? bahwa ada satu kesimpulan bahwa puasa ini bukan hanya kewajiban umat Islam tapi juga kewajiban untuk umat-umat sebelumnya, Kristen ada, di Buddha ada. Bahkan di Buddha lebih seru lagi, puasanya benar-benar hampir setiap hari, tapi para biku itu mereka kalau sudah lewat Zuhur, sudah lewat tengah hari itu mereka sudah tidak boleh makan selain yang berupa cairan, cairan pun sudah tidak boleh ada yang manis. Kita cuma 30 hari saja sudah seperti apa hebohnya.

Mereka berpuasa dengan penuh ketenangan, tidak ada hura-hura, tidak perlu harus pakai toa ribut-ribut. Jadi semua agama, semua kepercayaan itu punya syariat puasa, cuma syariat itu nanti ada yang beda-beda. Kalau Nabi Daud Alaihi Wasallam—jauh sebelum Islam kira-kira abad kedua Masehi—itu sehari puasa, sehari tidak, dan itu sepanjang hidupnya. Nabi Adam juga lain lagi puasanya.

Umat Nabi Muhammad itu puasanya di bulan Ramadan, meskipun setelah itu ada puasa-puasa yang lain seperti puasa sunnah, yang kamu mau melakukannya itu dianjurkan tapi bukan kewajiban. Kewajibannya itu hanya 30 hari. Persoalannya apakah puasa yang kita lakukan itu akan membangun integritas? tergantung bagaimana cara kita puasa. Kalau puasa kita yang umumnya kebanyakan kita itu hanya memindahkan jam makan saja, tak ada bedanya dengan hari-hari lain. Bahkan di bulan puasa ini kalau kamu mau lihat pengeluaran umat Islam itu jauh lebih besar dari hari-hari lain, karena pikirannya cuma makan saja, baru bangun tidur kita nanti buka apa ya? kok mikirin itu ya?

Jadi kalau orang-orang datang ke rumah itu kadang-kadang saya suka malu sendiri, karena mereka berharap di rumah saya itu pasti heboh banyak makanan gitu, masak ini, masak itu, tapi di rumah saya sehari-hari di bulan puasa, itu kita masak sama seperti hari-hari lain. Jadi kadang kalau ada tamu saya merasa malu karena di rumah kita tuh sepi, tidak heboh.

Karena kita mencoba bagaimana menahan diri tidak makan, kalau biasanya kita masak macam-macam tapi kali ini kita satu macam lauk saja, jadi kita bisa saving, bulan puasa bener-bener saving banyak, untuk apa? untuk infak, sodakoh, dan zakat, dengan demikian benar-benar berhasil puasa kita.

Tadinya kalau di hari-hari lain mungkin ada banyak makanan, kita coba satu jenis makanan saja bisa tidak? Kita kan orang yang selalu ada ketakutan, bagaimana kalau kita lapar? justru intinya disana bagaimana kita belajar lapar kok kamu malah takut lapar? Sudah kita haus kita takut lapar. Ketakutan-ketakutan seperti ini berarti kita belum bisa mengontrol diri, lalu gunanya kita berpuasa apa kalau sekedar memindahkan jam makan.

Memang kita tidak makan siang hari, tapi begitu bunyi azan waduh segala macam—bahkan porsinya bisa tiga kali lipat dari porsi saat kamu tidak puasa—coba bayangin, hitung sendiri kalau yang kamu makan selama bulan puasa itu lebih besar daripada ketika kamu tidak berpuasa.

Nah dalam kondisi seperti ini apakah kita berharap ada perubahan spiritual dalam hal seperti itu? Saya pikir ya.. gak ada. Kita hanya sekedar menjalani ritual tanpa ada perubahan apapun dalam diri kita, inilah problemnya di kita. Karena seolah-olah hanya hanya mengugurkan kewajiban kemudian kita puasa. Tapi benar tidak kita berpuasa? karena intinya puasa itu menahan diri. Itu adalah sebuah ujian dalam diri yang itu susah sekali.

Kalau puasanya Maryam, ibunya Nabi Isa alaihiwasalam, itu puasanya tidak bicara dan itu paling susah. Saya pernah mulai tidak bicara, baru beberapa jam sudah ketemu orang, aduh gimana rasanya gak bicara, gak enak nih ya.. harus ngomong nih. Puasa tidak bicara itu paling susah.

Bagaimana kita mencoba untuk puasa itu benar-benar mengendalikan diri kita saja dulu, bagaimana kita mengendalikan pikiran kita, mengendalikan perasaan kita, mengendalikan ketika tadinya mau marah, tidak jadi marah. Kita mulai dari diri kita dulu, dari ego kita, sebelum kita bisa mengendalikan yang lain. Karena ini susah sekali.

Karena itu puasa buat saya hal yang paling mudah dulu adalah memang menahan dari makan dan minum, memang kelihatannya sih tidak mudah. Subuh itu kita aduh makan yang banyak nanti besok kita lapar, sudah takutanm itu sudah menjadi seperti narkoba dalam diri kita.

Sekarang bagaimana caranya kita membangun diri kita, mencoba memulai dari diri kita sendiri untuk bisa menerima diri kita itu apa adanya, tanpa harus mendapatkan validasi dari orang lain. Tapi hari-hari ini saya melihat—apalagi dalam generasi gen Z—sekarang dia upload sesuatu, terus tidak ada yang “like” dia merasa “Aduh saya koq tidak diterima”. Peduli amat dengan orang suka atau tidak suka, ngapain kita hidup dengan pikiran orang lain, dengan penilaian orang lain, yang seperti ini kemudian mendorong kita untuk hidup penuh dengan—bukan hanya konsumeristik—hedonistik, yang ini kian mengerikan dalam kehidupan kita sekarang.

Coba bisa tidak kita mulai dari diri kita, mulai sekarang saya tidak peduli dengan pendapat orang lain, saya tidak perlu validasi apapun, dalam diri saya seperti ini, saya menerima apa diri saya. Coba bisa tidak itu sambil membangun bahwa sebagai manusia saya tuh harus punya karya, punya produktifitas, terserah orang lain mau suka atau tidak suka, tapi inilah bagian dari apa gunanya kita hidup.

Karena buat saya kehidupan ini adalah sebuah anugerah yang paling indah, yang harus kita syukuri siang dan malam. Kalau kita ada anugerah di kehidupan pasti ada sesuatu yang harus kita lakukan, karena hidup itu sendiri buat saya harus ada maknanya, tidak lewat begitu saja. Itulah sebabnya saya melihat bahwa kita mulai dengan hal-hal yang personal dulu, sebelum kita bicara hal-hal yang besar menyangkut kebangsaan.

Prof. Dr. Musdah Mulia, MA saat sedang memberikan kajian di acara Club Kajian ‘Salam’ MR Foundation & Suluh Perempuan, 1 Maret 2026. Foto: Dok. IST.

Tiga Dimensi Integritas

Sekarang bagaimana caranya menjadikan puasa itu sebagai formasi integritas personal? Jadi kita mulai dulu dengan diri kita. Secara psikologis—saya mencoba menulis karena kalau tidak saya bisa bicara ke sana ke mari, saya mencoba mengendalikan diri saya supaya tidak ngomong ke sana kemari—jadi bagaimana menjadikan puasa itu sebagai formasi integritas personal. Jadi secara psikologis dan etis puasa itu sebetulnya melatih tiga dimensi utama integritas diri, apa itu? Yang pertama pengendalian diri, self regulation. Orang yang berpuasa menahan diri—bukan karena takut akan sangsi, kita kan tidak takut pada apapun. Kita kalau mau makan tidak ada yang marah kok, tapi kok bisa kita tidak makan, tidak minum, padahal kita punya, milik kita sendiri koq, tidak ada yang marah kalau kita mau makan. Tapi koq bisa ya..kita tidak makan tidak minum? Semata-mata hanya karena kita yakin bahwa ada zat yang maha kuasa yang melakukan watching setiap saat, setiap detik dalam kehidupan kita. Kita takut pada pencipta kita, bukan takut pada manusia. Jadi kalau takutnya itu kepada Allah itu beda loh.

Saya ingat dulu Ibu saya, waktu saya masih remaja, ibu saya mengatakan “Kamu jangan pernah ya takut sama saya, karena jangkauan saya itu kan terbatas, takutlah kepada Allah. Jadi rupanya itu betul-betul tertanam pada diri saya, jadi kalau saya mau macem-macem saya tuh takutnya bukan sama ibu saya.

Jadi benar-benar Ibu saya menanamkan sesuatu ke saya, mau pergi kemana ya saya cuma diingatkan, “Kamu jangan takut sama saya, jangkauan saya terbatas, kalau kamu sudah keluar beberapa meter, saya sudah tidak tahu apa yang kamu lakukan.”

Ibu saya begitu loh, tapi Tuhan itu melihat sampai ke dalam batin kami yang paling dalam, jadi karena itu takutnya kepada Allah dan itu meresap sampai sekarang. Ibu saya itu benar-benar pinter membangun satu kekuatan, jadi kemana pun saya pergi saya tidak takut kepada siapapun, saya hanya takut pada Allah, dan itu betul-betul menjadi modal hidup saya sampai sekarang, terasa betul.

Jadi pengendalian diri ini penting, tetapi kesadaran batin dan fondasi dari perilaku etis dalam ruang publik ini penting, kalau kita tidak punya self regulation dalam diri, kita di ruang publik sama saja kita tidak takut sama siapa-siapa. Jadi kalau penjabat kita itu hanya takut kepada KPK, apalagi kalau KPK-nya bisa di disuap, ya tidak ada gunanya juga. Jadi penjabat publik itu kalau dia tidak punya rasa takut kepada Allah, percuma juga, karena semuanya bisa disuap, semuanya bisa direkayasa, apa sih yang tidak bisa direkayasa dalam kehidupan kita? Semuanya bisa, semuanya bisa dibeli, ijazah saja bisa dipalsuin. Coba kalau dia takut kepada Allah itu tidak akan terjadi. Takutnya kan kepada Allah bukan kepada siapapun, ini kalau takutnya hanya kepada Allah ditanamkan itu benar-benar dahsyat.

Kedua adalah kejujuran eksistensial. Puasa itu ibadah yang sangat privat, benar-benar privat. Bedanya puasa dengan ibadah-ibadah yang lain, kamu benar-benar dapat pahalanya hanya dari Allah SWT, karena itu betul-betul privacy.

Tidak ada yang tahu kita puasa atau tidak, gimana kalian tahu bahwa saya puasa? Tidak ada kan. Tapi kalau saya sholat kamu kan melihat, kalau saya berzakat misalnya, kamu melihat, kalau saya lagi umroh atau haji, kamu pasti melihat, tapi kalau puasa kamu tidak bisa melihat seluruh ibadah itu.

Mungkin bisa saja kamu melihat saya lagi sahur, oh dia sahur, puasa, belum tentu. Ada yang bangun sahurnya rajin, belum tentu, apakah dia butuh puasa juga soalnya.

Karena puasa bukan hanya sekedar menahan diri dari makan dan minum, kalau sekedar menahan makan dan minum semua orang bisa, anak kecil juga bisa, anak umur 4 tahun sudah bisa melakukan itu. Tapi apakah itu yang kita harapkan dalam diri kita sekedar menahan makan dan minum saja? Kasihan amat kita ya, tapi bisa tidak kita menahan diri dari semua perilaku yang bertentangan dengan kebenaran, bertentangan dengan keadilan.

Yang ketiga adalah empati sosial dengan merasakan lapar. Kenapa kita takut lapar, justru itu cara dalam banyak pengobatan otofagi. Dengan puasa itu metode alami tubuh untuk membersihkan dan mendaur ulang dengan memakan semua sel-sel rusak dalam tubuh kita. Jadi orang sengaja berlapar intermittent fasting.

Segala macam yang metode terbaru sekarang dikembangkan dalam banyak dunia medis, dan ternyata puasa itu bisa me-recovery penyakit-penyakit yang bertahun, yang kronik dalam diri kita, tapi kalau dilakukannya dengan benar. Kalau begitu breakfast, begitu buka puasa nanti yang dimakan langsung manis semua ya.. gak ada gunanya juga.

Semua puasa kita hilang makna karena tiba-tiba semua gula yang masuk itu akan merusak metabolisme yang tadi sudah dibangun dengan berpuasa. Jadi usahakan jangan ada gula yang masuk. Tapi kan susah kalau tidak ada gula? Pastikan gulanya dari nabati seperti kurma, kita cari padanannya kurma kalau di Indonesia apa, mungkin buah seperti semangka. Tidak mesti harus kurma.

Kita juga harus punya literasi yang baik tentang makanan, tentang gizi, karena kalau enggak percuma juga kita puasa. Berlapar-lapar 12 jam, 13 jam, sambil intermittent fasting 16 jam, tapi begitu kita berbuka dengan yang manis, kandungan glukosanya tinggi, itu merusak semua metabolisme yang kita bangun selama 16 jam, enggak ada gunanya juga.

Karena itu penting sekali kita memahami hal-hal seperti ini, orang mengatakan berpuasa agar kamu sehat, tapi koq banyak orang berpuasa itu malah kambuh penyakitnya, penyakit-penyakit kronis itu pada kambuh semua. Karena gula darahnya tinggi, diabetesnya naik, segala macam penyakit, naik semua. Karenanya jangan salahkan puasanya, tapi salah cara—how to fasting—itu yang penting buat kita pelajari.

Karena itu saya selalu mengatakan literasi umat Islam ini yang kurang, karena semuanya butuh literasi. Kita butuh literasi tentang gizi, bayangkan umat kita punya persoalan gizi tapi solusinya MBG, ha? Tidak menjawab apapun sama sekali, 1% dari solusi itu enggak terjawab sedikitpun. Karena saya pikir “Ya Allah bangsa apa ya kita ini, kita punya persoalan gizi yang akut sekali tapi solusinya bukan dengan MBG, mestinya ada semacam edukasi gizi melalui televisi, melalui media secara masif sehingga para orang tua itu bisa bagaimana caranya dia mengubah breakfast untuk anak-anaknya, untuk makan pagi buat anak-anaknya, itu bisa diubah kok cara makan itu bisa diubah.”

Kalau kita kebiasaan sarapannya itu dengan nasi uduk, sekarang bisa tidak nasi uduknya nanti siang, pagi itu kita makannya protein dengan serat. Itu kan bisa dipelajari, dan itu bisa diubah kok dalam kehidupan sehari-hari kita. Tapi ini upaya literasi seperti ini tidak ada di kita, orang seperti saya juga belajarnya terlambat seusia ini baru bisa paham kenapa enggak ada dari dulu-dulu.

Kalau di Jerman itu ada edukasi publik tentang bagaimana makan yang benar, bagaimana porsi yang benar. Di negara-negara maju yang seperti itu merupakan kewajiban negara untuk mengedukasi warganya sehingga warganya tidak sakit. Kita kan senang kalau warganya sakit supaya ada pekerjaan buat dokter, tapi bukan seperti itu maksudnya.

Jadi kalau penyakit-penyakit yang ringan itu ada edukasinya, saya berada di Perancis pagi-pagi saya buka radio atau buka televisi, itu ada edukasi sederhana buat penyakit-penyakit seperti flu, jadi masyarakat itu tidak perlu ke dokter, tidak perlu dia buang uang, dia harus bisa mengobati dirinya sendiri. Apalagi sekarang dengan BPJS negara kayaknya pelit banget ngasih BPJS, itu kan uang itu kita sendiri, bukan uangnya negara.

Peserta Club Kajian ‘Salam’ foto bersama para narasumber seusai acara, 1 Maret 2026. Foto: Dok. IST

Saya seumur hidup sebagai pegawai, sudah 40 tahun jadi pegawai selalu bayarkan BPJS, tapi saya belum pernah sekalipun menggunakan. Karena kalau saya mau ke rumah sakit ditanya dulu pakai BPJS wajahnya kayak gimana gitu ya..

Resonansi nilai puasa dengan moral Pancasila yang tiga poinnya saya katakan tadi itu pengendalian diri, self-regulation, kejujuran ekstensial empati sosial. Kalau itu betul-betul kita lakukan dalam puasa barulah integritas pribadi itu terbangun. Dan karenanya itu betul puasa itu merupakan sekolah integritas, pendidikan untuk integritas diri kalau tiga hal itu tadi terbangun dalam diri kita.

Jadi kita mesti melakukan introspeksi dulu, introspeksi diri dulu, yang dalam Islam itu Muhasabah. Saya selalu mengatakan jangan tunggu malaikat melakukan Muhasabah, kamu saja setiap malam sebelum tidur ingat-ingat, kira-kira pekerjaan yang ma’ruf berapa, yang mungkar berapa kita kan bisa tahu, dan kemudian “Ya Allah saya tobat, mudah-mudahan besok berikan saya kehidupan yang lebih baik, mudah-mudahan saya bisa memperbanyak ma’ruf daripada mungkar”, itu saja kan yang bisa kita lakukan.

— Bersambung —

0Shares