Indra Yeni, S.Pd., M.Pd, biasa dipanggil Bunda Yeni, memiliki latar yang sangat kuat di bidang pendidikan seni musik dan pendidikan anak usia dini, sekaligus pengalaman panjang dalam penelitian dan penciptaan lagu anak. Ia sudah menghasilkan album lagu anak Hiasan Langit (2018), serta karya-karya terbaru di 2026 ini seperti ‘Anak Indonesia Sehat dan Cerdas’, ’Sekolah Baru’, dan’ Bamain Basamo’, juga memperoleh Harapan 2 dalam ’Cipta Lagu Anak Indonesia 2025’.
Tejo Priyono berkesempatan mewawancarainya untuk www.suluhperempuan.org terkait perjalanan personal, kecintaan pada dunia anak, bahasa dan budaya Minangkabau, serta pandangannya tentang pentingnya lagu anak di tengah tantangan zaman. Berikut petikannya:
Bisa ceritakan bagaimana awal mula Bunda terjun ke dunia musik dan kemudian mulai menciptakan lagu, khususnya lagu untuk anak usia dini?
S1 saya itu pendidkan musik, S2 saya seni dan budaya. Sesuai dengan latar belakang pendidikan saya diamanatkan menjadi staf pengajar pada Prodi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG-PAUD).
Kemudian mulai menciptakan lagu semenjak tahun 2008, mencipta lagu anak-anak itu dari 2018, dan mencipta lagu Minang anak-anak itu dari 2020 hingga sekarang.
Apa yang membuat Bunda memilih untuk secara serius menciptakan lagu anak, di tengah dunia musik yang lebih banyak memberi ruang pada lagu untuk orang dewasa?
Karena keahlian saya—seperti sudah saya sampaikan di atas, dan mengajar di PAUD, otomatis saya akan memberikan pengalaman saya kepada mahasiswa terkait bagaimana konsep lagu untuk anak usia dini, seperti apa secara teoritis, secara didaktis, seperti apakah itu lagu yang akan dibuat dan yang akan diajarkan, lalu bagaimana cara mengajarkannya kepada anak.
Dari hasil pengamatan memang kalau untuk saat ini sudah banyak sekali lagu anak yang diciptakan, karena banyak sekali lembaga yang membuat even dan banyak pencipta lagu bisa menghadirkan lagu-lagu anak usia dini. Tapi kenyataannya, keluarga, orang tua, masyarakat, dengan media sosial yang ada itu lebih cenderung mendengarkan lagu-lagu orang dewasa. Misalnya di mobil, di rumah, yang diputar adalah lagu-lagu orang dewasa lagu kekinian, itulah maka anak usia dini sesuai dengan karakteristiknya adalah anak-anak yang meniru apa yang di dengar, apa yang dilihatnya, itulah yang akan di respon dan dilakukannya sehingga saya bertanggung jawab secara moral, intinya saya berupaya.
Karena semakin banyak lagu anak usia dini itu nanti memberikan pengertian, memberi banyak edukasi kepada orang tua, dan masyarakat. Melalui lagu itu sebenarnya anak sedang belajar mengembangkan semua aspek perkembangannya—sementara lagu orang dewasa sangat jauh sekali berbeda dalam penyajian syair, melodi, dan sebagainya. Jadi lagu usia dini itu sedang mengembangkan aspek kognitifnya, sosial emosionalnya, fisik motoriknya, seni itu sendiri, bahasanya, dan lain-lain. Jadi saya mempunyai tanggung jawab moral, serius untuk menciptakan lagu anak. Ini investasi, apabila ini dipakai, digunakan oleh pendidik, dinyanyikan oleh anak-anak, tergantungn bagaimana cara guru, orang tua, semua pihak membantu maka saya yakin dan percaya apa yang kita resahkan seperti saat ini—kasus anak tidak sayang kepada orang tua, kasus bullying, dan lain-lain—bisa kita atasi.
Bunda memiliki latar belakang panjang sebagai pendidik dan peneliti di bidang pendidikan anak usia dini. Sejauh mana pengalaman mendampingi dan mengamati perkembangan anak memengaruhi proses Bunda dalam menciptakan sebuah lagu anak?
Pengalaman mendampingi, mengamati perkembangan anak tentu mempengaruhi proses saya dalam menciptakan sebuah lagu anak. Contoh saya membuat lagu ‘Pagi Ceria’
mari bergembira bersama-sama
mari bergembira hilangkan duka
ayo teman-temanku
sambut pagi dengan ceria
mari bertepuk tangan
Beberapa lagu sudah ada di youtube saya https://www.youtube.com/@indrayeni1924
Jadi intinya saya amati kalau pagi hari itu untuk mengembangkan motoriknya, mengembangkan sosialnya, untuk mengembangkan NAM, nilai agama dan moralnya, yakni bersyukur kepada Allah, bersyukur dengan pencipta melalui lagu dan bagaimana kita mengemasnya.
Apa yang ingin Bunda tanamkan kepada anak-anak ketika mereka menyanyikan lagu berbahasa Minang? Apakah sekadar mengenalkan bahasa, atau juga memperkenalkan identitas, budaya, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat Minangkabau?
Sebenarnya tidak hanya lagu berbahasa Minang saja, tapi juga di Bahasa Indonesia dan juga Inggris juga begitu, basisnya kita menanamkan nilai-nilai kepada anak. Menanamkan karakter kepada anak itu banyak sekali. Intinya kalau saya membuat lagu itu selalu merujuk kepada hal-hal terdekat si anak. Kalau di PAUD itu berbasis tema-sub tema, misal tentang keluarga, di keluarga itu ada Ibu, ada ayah, kakak, adik. Juga tentang binatang, tentang kucing kesayangan. Berbasis itu kita menanamkan kalau kepada binatang adabnya seperti apa, kepada orang tua adabnya seperti apa, jadi itu yang tergambar—bisa dilihat di youtube saya lagu-lagu berbahasa Indonesia. Sementara lagu berbahasa Minang baru satu yang saya rilis karena perlu jeda untuk merilisnya. Alhamdulillah yang siap di take vocal itu ada tujuh lagu saya, sedang yang di take video baru tiga.
Bagaimana pengalaman Bunda ketika menciptakan lagu anak dalam bahasa Minang?
Saya mendapat tantangan terutama dalam pemilhan kata-kata karena kita perlu memikirkan kata yang paling mudah untuk dipahami oleh anak, walaupun sebenarnya itu terjadi juga di lagu berbahasa Indonesia. Sementara secara melodi dan tema saya sudah biasa melakukan.
Banyak juga yang sudah membuat lagu Minang untuk anak-anak tapi durasinya menurut saya terlalu panjang, dan bentuk lagunya banyak sekali. Format lagunya ada a-b-c-d, bait satu beda, bait dua beda lagi, bait tiga juga berbeda. Nah untuk anak usia dini tidak bisa begitu. Contoh lagu “Cicak Di Dinding’ itu satu bait saja sudah selesai dan itu melekat di benak anak-anak, konsepnya sederhana.
Jadi mempertimbangkan kosa kata bahasa Minang itu yang paling pas itu yang akan dipilih dan dekat dengan anak-anak. Itu tantangannya saya rasa.
Di tengah maraknya lagu dan konten digital yang dikonsumsi anak-anak, bagaimana Bunda melihat posisi lagu anak saat ini? Apa yang menurut Bunda sedang hilang atau justru perlu dikembalikan?
Saya melihat lagu anak itu sekarang sudah banyak sekali, tapi salahnya dimana saya tidak tahu? Apakah karena memang konten digital penciptaan lagu dewasa itu lebih dominan dan anak-anak banyak mengarkan itu maka itulah yang dinyanyikannya.
Namun kalau konten lagu Minang dari pengamatan saya boleh dikatakan ada lagu Minang yang bisa dinyanyikan oleh anak-anak, itu berbeda dengan ada lagu Minang khusus untuk anak-anak, nah yang kedua ini yang langka. Berangkat dari sana maka saya bersama tim Creativity mencetuskan:‘Manifesto Badendang.’ pada 15 Mei 2026.

Jadi Manifesto Badendang itu lahir, hadir, dari keresahan kami akan minimnya lagu-lagu Minang untuk anak usia dini. Jadi yang kami amati itu anak-anak banyak yang menyanyikan lagu minang, tapi lagu minangnya lagu untuk orang dewasa. Anak-anak yang kelaparan jiwa untuk bernyanyi, sedangkan lagu yang tersedia lagu orang dewasa yang untuk anak usia dini itu kan sudah tidak benar. Anak-anak seharusnya menyanyikan lagu yang sesuai dengan usia mereka, baik dari segi lirik, baik dari segi melodi, dan lain-lain.
Kalau lagu anak-anak berbahasa Indonesia sepertinya itu sudah banyak sekali, even-evennya pun sudah banyak sekali, cuma sesuaikah lagu anak yang sudah tercipta itu?—
dekat dengan keseharian si anak, melodinya bagaimana, secara didaktis itu apakah mengedukasi, kemasannya bagaimana— itu perlu dipertimbangakan untuk kemenarikan.
Bunda terus menciptakan lagu anak hingga 2026. Apa yang membuat Bunda tetap konsisten berkarya untuk anak-anak, dan apa harapan Bunda terhadap perkembangan lagu anak Indonesia ke depan?
Yang membuat saya konsisten berkarya ya karena saya berkecimpung di dunia musik dan PG-PAUD. Melalui lagu kita bisa mengembangkan semua aspek yang ada pada anak. Harapan saya semakin banyak hendaknya pencipta lagu untuk anak usia dini yang mempertimbangkan secara teoritis, secara didaktis lagu-lagu yang dekat dengan anak dan tentunya harus menyentuh semua aspek perkembangan anak, karena itu masa yang tidak akan terulang lagi.
Masih dalam suasana Hari Anak Nasional 2026, jika Bunda boleh menyampaikan satu pesan kepada orang tua, guru, dan masyarakat tentang pentingnya lagu bagi tumbuh kembang anak, apa yang ingin Bunda sampaikan?
Yang mau saya sampaikan, bagaimana keluarga, pendidik, semua lapisan bisa bersinergi mewujudkan sesuai dengan isi tema hari anak nasional itu. Melindungi dan memastikan anak bebas dari kekerasan—termasuk ancaman di dunia digital. Membangun masa depan, investasi melalui pendidikan, juga kesehatannya agar anak bisa menghadapi masa depan—termasuk di dalamnya ilmu pedagogi, gizi seimbang dan olahraga.
Mari bersama mengawal anak-anak kita usia dini, mereka yang berada pada periode golden age dimana pada masa ini otak anak akan menyerap informasi dan pengalaman sangat mudah dan sangat cepat. Terimakasih, saya benar-benar merasa terbantu menyalurkan aspirasi, dan bahwa inilah unek-unek saya. Semoga bisa membantu untuk kita bersama maju demi perkembangan anak-anak Indonesia hebat kedepannya.
***

Terkait
Aliansi Perempuan Indonesia Mendesak Negara Menghentikan Persekusi terhadap Kelompok SOGIE
Membaca Tanda-Tanda Zaman: Krisis Ekonomi, Tantangan Demokrasi, dan Tanggung Jawab Umat
Lima Tahun Menanti Keadilan Tjung Susanti Tak Pernah Berhenti Menyuarakan Kebenaran