Setiap tanggal 9 Agustus, dunia memperingati Hari Masyarakat Adat Internasional. Peringatan ini bukan sekadar pengakuan atas keberadaan masyarakat adat sebagai bagian dari identitas bangsa, tetapi juga pengingat bahwa mereka masih menghadapi berbagai tantangan dalam mempertahankan ruang hidup, hak atas wilayah adat, hingga kelestarian budaya yang diwariskan turun-temurun.
Di tengah berbagai persoalan tersebut, ada satu kelompok yang sering luput dari perhatian, yakni perempuan adat. Padahal, mereka memegang peran yang sangat penting dalam menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Dari tangan merekalah pengetahuan tentang hutan, pangan lokal, pengobatan tradisional, hingga nilai-nilai budaya diwariskan kepada generasi berikutnya.
Namun, peran besar itu sering kali tidak diikuti dengan ruang yang setara dalam pengambilan keputusan maupun kebijakan pembangunan.
Bagi Yunithia (Thia Samsudin), praktisi manajemen seni, kurator, sekaligus pendamping komunitas adat di Tanah Papua, perempuan adat sesungguhnya adalah fondasi yang menjaga keberlangsungan kehidupan.
“Perempuan adat membutuhkan ruang, bukan hanya untuk didengar, tetapi juga untuk berkarya, berinovasi, dan membawa warisan budaya serta pangan lokal menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.”
Pengalaman mendampingi komunitas perempuan adat di Papua membuat Thia melihat secara langsung bagaimana perempuan menjadi penghubung antara manusia, alam, dan budaya. Karena itu, menurutnya, pengakuan terhadap masyarakat adat tidak boleh berhenti pada simbol atau seremoni, tetapi harus diwujudkan melalui perlindungan hak-hak mereka dan pelibatan yang bermakna dalam setiap kebijakan yang menyangkut wilayah adat.
“Masyarakat adat harus menjadi mitra utama pembangunan, bukan hanya penerima manfaat. Pengetahuan lokal yang mereka miliki sangat berharga bagi konservasi maupun pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Perempuan Adat Penjaga Kehidupan
Bagi Thia, perempuan adat bukan sekadar pendamping dalam kehidupan masyarakat adat. Mereka adalah penjaga kehidupan yang memastikan alam, budaya, dan keluarga tetap bertahan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
“Menurut saya, perempuan adat adalah penjaga kehidupan. Mereka bukan hanya menjaga keluarga, tetapi juga menjaga pengetahuan, budaya, dan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakatnya.”
Pengalaman mendampingi komunitas perempuan di Tanah Papua memperlihatkan bagaimana perempuan mengelola pangan lokal berbasis sagu. Mereka memahami seluruh proses, mulai dari menjaga pohon sagu, mengolah hasilnya menjadi berbagai produk pangan, hingga memastikan sumber pangan tersebut tetap tersedia bagi anak cucunya.
Di sisi lain, perempuan adat juga menjadi penjaga identitas budaya. Mereka merawat tarian, musik, kerajinan tangan, bahasa daerah, hingga berbagai tradisi yang menjadi jati diri komunitas.
“Bagi saya, baik pangan maupun seni adalah warisan yang sama pentingnya untuk dijaga,” kata Thia.
Sayangnya, masyarakat sering hanya melihat hasil akhirnya. Padahal, perempuan adat memegang banyak peran sekaligus: menjaga pangan lokal, menggerakkan ekonomi keluarga, melestarikan budaya, sekaligus menjadi pendidik pertama bagi generasi muda.
Menurut Thia, mereka masih membutuhkan dukungan berupa pendampingan teknologi pengolahan pangan yang sesuai dengan kebutuhan pasar, perluasan akses pemasaran, hingga solusi atas tingginya biaya logistik. Sementara bagi perempuan adat yang berkarya di bidang seni, ruang berekspresi, perlindungan terhadap karya budaya, serta akses ekonomi kreatif menjadi kebutuhan yang tidak kalah penting.
Menjaga Hutan Menjaga Masa Depan
Selama ini perempuan adat sering disebut sebagai penjaga hutan. Namun, bagi Thia, makna tersebut jauh lebih luas daripada sekadar menjaga pepohonan.
“Bagi saya, perempuan adat bukan hanya menjaga hutan, tetapi menjaga kehidupan.”
Ia melihat sendiri bagaimana perempuan adat di Papua menjaga ekosistem sagu sebagai sumber kehidupan keluarga. Mereka mengambil hasil secukupnya, merawat hutan, dan memastikan alam tetap lestari untuk generasi berikutnya. Cara hidup seperti itu lahir dari pengetahuan yang diwariskan turun-temurun, bukan dari teori, melainkan dari pengalaman hidup bersama alam.
Menurut Thia, menjaga lingkungan tidak dapat dipisahkan dari menjaga budaya. Tradisi, bahasa, seni, hingga pengetahuan lokal tumbuh bersama bentang alam tempat masyarakat adat hidup.
“Menjaga alam dan menjaga budaya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan karena keduanya merupakan identitas masyarakat adat,” ujarnya.
Di tengah dunia yang semakin menghadapi krisis iklim, pengetahuan tersebut justru menjadi pelajaran penting. Perempuan adat memahami kapan alam boleh dimanfaatkan dan kapan harus dipulihkan agar keseimbangannya tetap terjaga.
Ketika Perempuan Adat Berhadapan dengan Krisis
Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan yang paling cepat dirasakan perempuan adat. Ketika musim berubah, hasil hutan berkurang, atau sumber pangan terganggu, perempuanlah yang harus memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Namun, menurut Thia, ancaman yang mereka hadapi tidak berhenti pada krisis iklim. Konflik lahan, alih fungsi hutan, dan eksploitasi sumber daya alam juga terus menggerus ruang hidup masyarakat adat.
Ketika hutan hilang, bukan hanya lingkungan yang rusak. Sumber pangan, budaya, mata pencaharian, hingga identitas masyarakat adat ikut terancam.

Meski demikian, Thia percaya perempuan adat bukan sekadar korban.
“Perempuan adat bukan hanya kelompok yang terdampak krisis iklim, tetapi juga bagian dari solusi. Pengetahuan yang mereka miliki tentang menjaga alam perlu dihargai dan didukung melalui kebijakan yang berpihak kepada mereka.”
Sayangnya, suara perempuan adat masih belum sepenuhnya didengar dalam penyusunan kebijakan pembangunan maupun lingkungan. Padahal, mereka memiliki pengalaman langsung dalam menjaga sumber daya alam, ketahanan pangan, dan keberlanjutan budaya.
Menurut Thia, pelibatan perempuan adat tidak boleh berhenti pada kehadiran dalam forum. Aspirasi dan pengetahuan mereka harus benar-benar menjadi bagian dari proses perencanaan hingga evaluasi kebijakan agar pembangunan tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menghadirkan keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan.
Menjelang Hari Masyarakat Adat Internasional, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk memandang perempuan adat sebagai mitra yang memiliki banyak pelajaran tentang kehidupan yang berkelanjutan. (*)
Sukir Anggraeni

Terkait
Indra Yeni dan Ikhtiar Menghidupkan Lagu Anak di Tengah Derasnya Konten Dewasa
Aliansi Perempuan Indonesia Mendesak Negara Menghentikan Persekusi terhadap Kelompok SOGIE
Membaca Tanda-Tanda Zaman: Krisis Ekonomi, Tantangan Demokrasi, dan Tanggung Jawab Umat