Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus melakukan aksi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2026), dengan mengusung tajuk ‘Merebut Kemerdekaan’.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, menegaskan demonstrasi ini adalah bentuk tanggung jawab moral atas penindasan yang semakin nyata. Ia menuding kekuasaan eksekutif dan legislatif berkolaborasi melahirkan kebijakan yang merugikan rakyat kecil.

“Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, slogan ‘Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’ hanya omong kosong belaka,” tegas Athof, dikutip Rabu (19/8/2026).
Ia juga menyinggung penangkapan sewenang-wenang terhadap pemuda, represi terhadap media, serta krisis keadilan hukum. Menurutnya, janji negara atas pendidikan dan kesehatan gratis berkeadilan kini tinggal retorika.
“Amanat konstitusi mengenai pendidikan dan kesehatan gratis berkeadilan sekarang hanyalah omong kosong belaka,” ujarnya.
Selain itu, BEM UI menyoroti sulitnya lapangan kerja berkualitas yang mengancam masa depan generasi muda.
Di kesempatan yang sama, Wakil Ketua BEM UI Fatimah Azzahra menilai ada dua tuntutan utama yang harusnya bisa cepat dilaksanakan dan ditangani pemerintah.

Tuntutan pertama yang dinilai paling utama dan wajib segera diselesaikan adalah terkait dengan program MBG.
Menurut Fatimah, masalah ini sangat mendesak karena berkaitan langsung dengan keselamatan nyawa anak-anak.
Fatimah mengungkapkan kekhawatirannya yang mendalam mengenai banyaknya kasus anak-anak yang mengalami keracunan akibat program ini.
“Banyak sekali anak-anak yang keracunan dan mereka sendiri dalam video-videonya sudah mengatakan bahwa mereka sampai bilang ke Pak Sudaryono (Kepala BGN) gitu kan, ‘kita tidak mau lagi Pak makan MBG’ dan sebagainya dan satu nyawa itu sangat berharga,” kata Fatimah.
Lebih lanjut, Fatimah mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap remeh kasus keracunan.
Terutama yang terjadi pada anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, karena dampaknya bisa berjangka panjang dan lebih berat untuk dipulihkan
“Bahkan ketika seorang anak itu tidak sampai wafat gitu ya karena keracunan, tetap ada dampaknya ketika mereka baru dalam masa pertumbuhan.”
“Jadi, jangan dianggap enteng keracunan, diobati, sembuh. Ada dampak yang mungkin harus lebih berat lagi untuk dikembalikan dan sebagainya.”
“Jangan bermain-main dengan nyawa seseorang apalagi nyawa anak-anak calon penerus bangsa kita gitu kan,” tegas Fatimah.
Dalam aksi tersebut, BEM UI membawa delapan tuntutan di antaranya:
- Menghentikan penjajahan negara atas rakyat sendiri
- Menghentikan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)
- Mewujudkan reforma agraria sejati
- Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
- Mengevaluasi total PSN serta menghentikan MBG dan KDMP
- Menghentikan pemusatan kekuasaan dan pemangkasan Transfer ke Daerah (TKD), serta mengembalikan otonomi daerah
- Menetapkan status bencana nasional untuk daerah Sumatera dan Flores serta mempercepat pemulihan wilayah terdampak bencana
- Menghentikan represifitas dan intervensi TNI-Polri dalam ruang sipil serta membubarkan Yonif Teritorial Pembangunan.
Sumber: wartaekonomi.co.id dan tribunnews.com

Terkait
Kita Ini Bangsa Tempe!
Patrisia Lama Bahi: Kemerdekaan Perempuan Dimulai dari Kesetaraan Akses atas Hak
Merdeka di Ruang Digital Berarti Aman dan Terlindungi