28 September 2022

Resensi: Budaya Patriarki dalam Film Perempuan Berkalung Sorban

Intelektualitas dan pendidikan yang tinggi, modern serta ternama tidak menjamin seseorang terlepas dari watak dan perilaku patriarkis.
0Shares

Film Perempuan berkalung sorban merupakan film yang menceritakan tentang kehidupan di lingkungan pesantren. Tokoh utama dalam film tersebut adalah Revalina S. Temat yang berperan sebagai Anisa. Anisa yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat sekaligus pesantren yang masih berpemahaman bahwa perempuan itu posisinya nomor dua dari laki-laki. Secara umum pemahaman ini biasanya disebut budaya patriarki.

Sejak awal film “Perempuan Berkalung Sorban” ini mulai berjalan, tampak jelas ditunjukkan bahwa kebebasan untuk berpendapat dan memperoleh hak yang sama seorang perempuan dari laki-laki sangat dibatasi. Mulai dari perempuan tidak dianjurkan untuk menjadi pemimpin di dalam kelas. Walaupun Anisa memperoleh suara yang lebih tinggi namun ia tidak diperbolehkan untuk menjadi ketua kelas dengan dalih perempuan dalam Islam tidak boleh menjadi seorang pemimpin. Perempuan tidak diperbolehkan untuk belajar berkuda sebab kuda adalah mainan untuk laki-laki. Sampai pada perempuan tidak boleh melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Masyarakat di lingkungan sekitar selalu berasumsi bahwa kodrat seorang perempuan adalah menjadi istri dan ibu rumah tangga serta dapat menjaga keutuhan keluarganya dengan baik dan benar. Anisa merupakan anak dari seorang Kyai sekaligus pemilik Pesantren Al-Huda yang terletak di Jawa Timur. Lahir dari seorang Kyai yang terpandang di kampungnya dan seorang ibu yang memiliki pembawaan pada umumnya seorang ibu sekaligus sebagai istri di kampung tersebut.

Nama besar suami menjadikan sikap ibu Anisa selalu diam dan mengalah saat berdiskusi dengan sang suami atau laki-laki meskipun pendapat laki-laki tersebut terdapat kekeliruan. Anisa memiliki dua orang kakak laki-laki bernama Reza dan Wildan. Sejak kanak-kanak kedua kakak Anisa diperlakukan khusus dan istimewa. Mereka diperbolehkan untuk belajar mengendarai kuda sampai bahkan menempuh pendidikan setinggi mungkin. Berbanding terbalik dengan Anisa karena lahiriyahnya sebagai seorang perempuan.

Pada kesempatan kali ini penulis hanya menguraikan secara singkat latar belakang keluarga dan orang-orang disekitar Anisa. sebab penulis akan fokus pada budaya dan kebiasaan dalam film tersebut. Sebagai seorang putri Kyai, Anisa otomatis menjadi contoh bagi para santriwati sebagaimana ajaran yang diajarkan oleh para guru dan Kyai di pesantren. Dalam perjalanan film ini, Anisa diceritakan selalu menolak apabila ada perlakuan-perlakuan yang dianggapnya tidak adil dan selalu berposisi menjadi nomor dua dari laki-laki yang ada disekitarnya.

Anisa kecil maupun setelah dewasa selalu menentang baik itu berupa omongan maupun tindakan yang dirasanya keliru dan tidak adil. Meskipun perlakuan itu telah menjadi kebiasaan turun temurun baik di lingkungan pesantren maupun dalam lingkup daerah tempat tinggalnya. Sejak kecil, Anisa selalu mendebat dan mempertanyakan kepada lawan bicaranya baik itu kedua kakaknya, guru-guru di pesantren maupun orang tuanya, jika dianggapnya ada ketidak adilan dan terkesan sangat mendiskriminasi Anisa sebagai seorang perempuan.

Setelah Anisa dewasa dia ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena ingin mewujudkan impiannya menjadi seorang perempuan yang berpendidikan, cerdas, mandiri, dan memberi penyadaran masyarakat setempat dari cara berpikir yang kolot. Tetapi, keinginan itu tidak mendapatkan izin dan restu dari keluarga, terutama ayahnya dengan dalih seorang perempuan tidak diperbolehkan keluar rumah tanpa seorang Mahram takutnya nanti jadi fitnah.

Alhasil untuk mencegah keinginan Anisa yang dianggap sesuatu yang salah, Ayahnya kemudian menjodohkan Anisa dengan laki-laki pilihan ayahnya yang merupakan anak dari sahabatnya yang berlatar belakang Kyai pula. Sosok lelaki yang akan menjadi calon suami Anisa tersebut merupakan seorang sarjana lulusan Kairo dan akan menjadi penerus pesantren ayahnya. Walau menolak rencana perjodohan yang dipaksakan, namun akhirnya Anisa menerima keputusan itu. Ayahnya meyakinkan bahwa setelah menikah Anisa boleh melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi karena sudah ada yang akan menjaga dirinya.

Setelah menikah Anisa masih saja mendapat perlakuan tidak adil dari suaminya. Meskipun suami Anisa seorang Sarjana lulusan universitas ternama di Kairo yang menjadi ibu kota dan kota terbesar di Mesir. Anisa bahkan mendapatkan perlakuan kasar selama menjalani pernikahan. Berbagai perlakuan buruk dan diskriminasi diterimanya, mulai dari kekerasan fisik, kekerasan mental, kekerasan seksual, hingga poligami yang dianggap sah-sah saja meski seorang istri didalam hatinya tidak dapat menerima untuk dipoligami. Akibatnya Anisa mengalami trauma berat karena perlakuan buruk yang diterimanya.

Kisah dalam film “Perempuan Berkalung Sorban” tersebut menjadikan kita paham bahwa lingkungan sosial masyarakat kita sebagian besar masih menerapkan budaya patriarki yang diskriminatif. Budaya patriarki yang sangat dipaksakan sehingga yang mengalaminya merasakan kekerasan dan ketidakadilan secara terus menerus dan dalam kurun waktu yang relatif lama.

Film ini ingin menunjukkan kepada kita semua baik perempuan, terkhusus untuk laki-laki bahwa perilaku patriarki yang kolot dan feodal bisa dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki setinggi apapun wawasan dan pendidikannya. Intelektualitas dan pendidikan yang tinggi, modern serta ternama tidak menjamin seseorang terlepas dari watak dan perilaku patriarkis.

Ironinya, secara umum perempuan lah yang selalu menjadi objek sasaran kekejaman perilaku patriarkis tersebut. Selain itu, ketidakpahaman seseorang atau karena faktor kesengajaan demi mempertahankan status quo dirinya. Umumnya masyarakat kita menganggap budaya patriarki merupakan hal yang wajar. Korbannya pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Alur cerita Film “Perempuan Berkalung Sorban” kisahnya memuat pelajaran hidup sebagai bagian dari pegangan dalam pergaulan dimasyarakat, diantaranya:

Pertama, perilaku patriarki adalah kebiasaan yang sengaja dirawat turun temurun oleh manusia tidak berperikemanusiaan hanya demi mempertahankan status kekuasaannya terhadap manusia lain. 

Kedua, ajaran yag mendiskreditkan dan mensubordinasi manusia lain (patriarki) bukanlah ajaran agama mupun adat istiadat yang diwariskan leluhur kita. Sebab, baik agama maupun adat atau kebudayaan kita menjunjung tinggi perikemanusiaan apapun golongan, agama, ras maupun jenis kelamin kita. 

Ketiga, seorang perempuan juga bisa mandiri dan tidak selalu bergantung kepada laki-laki tanpa mengabaikan kewajiban mutlaknya sebagi seorang perempuan dan mahluk sosial. 

Keempat, perempuan dan laki-laki mempunyai hak dan kewajiban yang sama dibidang pendidikan, sosial, ekonomi, dan politik. Kodrat perempuan hanyalah menstruasi, mengandung, melahirkan serta menyusui. Selebihnya tentu kita semua sepakat bahwa selain kodrat lahiriah perempuan itu, pekerjaan yang biasa dikerjakan perempuan tentu dapat pula dilakukan oleh laki-laki, begitupun sebaliknya.

Kelima, mewujudkan kesetaraan gender di lingkungan masyarakat tidak cukup hanya dengan omongan dan teori, tetapi juga harus dibarengi dengan praktek nyata sehingga masyarakat umum melihat bahwa keadaan yang setara antar sesama manusia tanpa membedakan jenis kelamin akan menghadirkan kondisi lingkungan sosial yang aman, tentram, adil, dan damai.

Feby Rahmayana

Aktivis Suluh Perempuan Kendari

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai