Festival Toleransi yang digelar Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), dengan dukungan berbagai kementerian, lembaga, serta organisasi masyarakat, menjadi ruang penting untuk kembali menegaskan salah satu nilai paling mendasar dalam kehidupan berbangsa: toleransi. Sebagai organisasi lintas iman, ICRP memandang toleransi bukan sekadar sikap sosial, melainkan fondasi perdamaian—ajaran yang menjadi jiwa dari semua agama dan kepercayaan.
Toleransi, bersama perdamaian dan kemanusiaan, adalah nilai yang menjadi “napas” Indonesia. Bukan hanya konsep moral, tetapi tiang penyangga peradaban bangsa. Dan pertanyaan pentingnya adalah: mengapa toleransi begitu penting bagi Indonesia?
Indonesia: Rumah Besar Kebhinekaan
Indonesia adalah negara-bangsa dengan kekayaan keragaman yang luar biasa: lebih dari 1.700 pulau, 1.300 suku bangsa, ratusan bahasa daerah, serta ragam agama dan kepercayaan. Keragaman ini indah, namun sekaligus rentan. Di sinilah toleransi menjadi prinsip utama untuk merawat persatuan.
Dalam ajaran Islam, perintah untuk saling mengenal (ta’aruf) ditegaskan dalam QS. Al-Hujurat: 13, sementara tradisi Kristen mengajarkan kasih kepada sesama. Ajaran Buddha mengingatkan bahwa kebencian hanya bisa dihapus oleh cinta, dan Bhagavad Gita menegaskan bahwa kasih sayang adalah jalan mendekat kepada Tuhan. Semua agama, berbeda teks namun satu pesan: kemanusiaan yang menyatukan.
Ulama besar Syekh Yusuf al-Makassary menekankan bahwa kedekatan dengan Tuhan hanya mungkin jika seseorang menebarkan kedamaian. Ibn Arabi bahkan menyebut bahwa hatinya mampu menerima semua bentuk; ia mengikuti “agama cinta”—sebuah teologi yang melihat perbedaan sebagai keindahan, bukan ancaman.
Perdamaian: Puncak Peradaban
Perdamaian tidak hadir begitu saja; ia harus diusahakan. Dalam Islam, akar kata salam adalah damai, sementara QS. Al-Anfal: 61 memerintahkan umat untuk condong kepada perdamaian. Dalam tradisi Kristen, “berbahagialah para pembawa damai”. Buddha mengingatkan bahwa kemenangan hanya melahirkan kebencian, sementara Dalai Lama menegaskan bahwa perdamaian dunia berawal dari kedamaian dalam diri.
Perdamaian adalah titik temu ajaran semua tradisi suci. Karena itu, orang beriman sejati seharusnya membawa kesejukan, bukan ketakutan. Toleransi, dalam perspektif ini, adalah wujud pengabdian kepada Tuhan melalui pelayanan kepada sesama manusia. Ia adalah ibadah sosial—menghadirkan kedamaian sebagai cermin cinta kepada Sang Pencipta.
Faktor-Faktor yang Mendorong Toleransi dan Perdamaian
Beberapa pilar penting yang mendukung tumbuhnya toleransi di masyarakat adalah:
- Pendidikan inklusif dan moderat, yang menanamkan nilai kemanusiaan dan dialog lintas iman.
- Kepemimpinan bijaksana yang menolak polarisasi identitas dan menjaga ruang publik tetap kondusif.
- Media yang mencerahkan, menghadirkan literasi dan verifikasi informasi.
- Tradisi keagamaan yang menonjolkan kasih dan keadilan.
- Interaksi sosial positif yang memperkecil prasangka dan memperluas pemahaman lintas identitas.

Faktor-Faktor yang Menghambat Toleransi
Tantangan yang kerap muncul antara lain:
- Polarisasi sosial dan politisasi identitas.
- Rendahnya literasi digital sehingga mudah terjebak hoaks dan ujaran kebencian.
- Ekstremisme keagamaan yang menolak dialog.
- Ketidakadilan sosial dan ekonomi.
- Minimnya ruang dialog antar kelompok.
Kelima faktor ini, jika tidak diatasi, bisa memperbesar jurang perpecahan.
Menuju Indonesia yang Berkeadaban
Indonesia yang berkeadaban adalah Indonesia yang menjunjung akhlak, etika, dan kebijaksanaan. Sebuah bangsa yang:
- Menghormati martabat setiap warga negara,
- Menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan,
- Mendorong dialog lintas iman,
- Menguatkan literasi digital,
- Mengedepankan keadilan sosial.
KH. Ahmad Dahlan pernah mengingatkan bahwa agama adalah akal budi, dan ajaran yang bertentangan dengan akal budi bukanlah agama. Gus Dur menambahkan pesan sederhana namun mendalam: kebaikan jauh lebih penting daripada identitas agama atau suku.
Kemanusiaan yang Melampaui Perbedaan
Ketika kita melihat orang lain sebagai “kita”, bukan “mereka”, toleransi akan tumbuh dengan sendirinya. Prinsip ini hadir dalam banyak ajaran: hadis Nabi tentang manusia terbaik yang bermanfaat bagi sesama, Tat Twam Asi dalam Hindu (“Aku adalah engkau”), hingga pesan Buddha bahwa semua makhluk ingin bahagia.
Kemanusiaan adalah bahasa universal yang mampu mengalahkan ketakutan dan kebencian.
Peran Pemerintah dan Masyarakat Agama
Beberapa langkah strategis bagi pemerintah antara lain:
- Penguatan pendidikan moderasi,
- Penegakan hukum yang adil,
- Pengawasan hoaks secara regulatif dan edukatif,
- Fasilitasi dialog lintas agama hingga tingkat desa,
- Pengurangan ketimpangan ekonomi.
Sementara masyarakat agama dapat berperan melalui:
- Tafsir keagamaan yang humanis,
- Kerja sama lintas iman dalam aksi sosial,
- Menolak kebencian atas nama agama,
- Menjadikan rumah ibadah sebagai pusat pendidikan damai,
- Menanamkan etika digital.
Gandhi pernah berkata, “Kekuatan tidak berasal dari kekerasan, tetapi dari keteguhan hati yang damai”—sebuah pesan yang dirayakan oleh tradisi keagamaan mana pun.
Penutup: Toleransi sebagai Strategi Peradaban
Toleransi bukan cuma pilihan moral, namun strategi peradaban. Perdamaian bukan utopia, tetapi tanggung jawab kolektif. Dan kemanusiaan bukan slogan, melainkan komitmen harian.
Festival Toleransi ini mengingatkan bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh kuasa politik, tetapi oleh nilai luhur: kebhinekaan, gotong royong, keadilan, dan persaudaraan. Nilai-nilai yang selaras dengan pesan Al-Qur’an tentang Nabi sebagai rahmat bagi semesta alam, serta pesan universal Nelson Mandela bahwa tidak ada yang terlahir membenci.
Kini tantangannya adalah menjadikan toleransi bukan hanya slogan, tetapi laku hidup—di keluarga, sekolah, rumah ibadah, media sosial, hingga ruang batin kita masing-masing.
Semoga kita menjadi generasi yang merawat toleransi, menumbuhkan perdamaian, dan memuliakan kemanusiaan demi Indonesia yang sungguh berkeadaban.(*)
Disarikan dari Orasi Budaya Musdah Mulia, dalam ‘Festival Toleransi dan Budaya 2025’, Minggu, 16 November 2025

Terkait
Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda
Imlek dan Wajah Pluralisme
Perubahan Besar Dimulai dari Hal Kecil, Semangat Survivor Menguatkan Langkah Suluh Perempuan