Hari Ibu Nasional yang diperingati setiap 22 Desember bukanlah perayaan sentimental semata, karena hari itu lahir dari sejarah pergerakan perempuan Indonesia, dari Kongres Perempuan Indonesia I tahun 1928, ketika perempuan-perempuan dari berbagai latar belakang berkumpul dan menyuarakan hak, pendidikan, serta keterlibatan politik mereka.
Kartini, jauh sebelum kongres itu berlangsung, telah menegaskan makna penting peran perempuan dan ibu dalam perubahan sosial. Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar pada 1899, Kartini menulis, “Kami di sini memohon diusahakannya pengajaran bagi anak-anak perempuan… agar mereka lebih cakap menunaikan kewajibannya sebagai ibu, pendidik manusia yang pertama.” Bagi Kartini, ibu bukan hanya sosok domestik, melainkan fondasi peradaban.
Semangat itu kemudian dilanjutkan oleh para tokoh perempuan pergerakan lain di berbagai wilayah. Mereka bergerak melalui pers, pendidikan, hingga ruang politik, menegaskan bahwa perempuan Indonesia sejak awal terlibat aktif dalam perjuangan bangsa.
Kutipan Tokoh Pergerakan Perempuan Indonesia
S.K. Trimurti, seorang penulis, wartawan, guru Sekolah Dasar, yang juga ikut serta dalam gerakan kemerdekaan Indonesia melawan penjajahan Belanda berkata: “Perjuangan perempuan bukan untuk menyaingi laki-laki, melainkan untuk bersama-sama bertanggung jawab atas nasib bangsa.”
S.K. Trimurti pernah menjabat sebagai Menteri Perburuhan pertama Indonesia dari tahun 1947 sampai 1948 di bawah Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin.
Lalu ada Maria Ulfah Santoso yang juga pernah menjadi Menteri Sosial Republik Indonesia pada tahun 1946-1947 di Kabinet Sjahrir II. Maria Ulfah, perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana hukum ini pernah berkata: “Perempuan Indonesia harus ikut menentukan arah masyarakatnya, sebab hukum dan politik tidak pernah netral bagi kehidupan perempuan.”
Rohana Kudus yang adalah jurnalis pertama Indonesia, melansir wikipedia, pada 1911 Rohana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Sembari aktif di bidang pendidikan, Rohana menulis di surat kabar perempuan “Poetri Hindia”. Ketika dibredel pemerintah Hindia Belanda, Rohana berinisiatif mendirikan surat kabar bernama “Soenting Melajoe” dan itu tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia.
Rohana hidup pada zaman yang sama dengan Kartini, ketika akses perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang baik sangat dibatasi, maka pada satu kesempatan ia berkata: “Perempuan tidak akan maju jika ia terus-menerus dibiarkan dalam kebodohan.”
Nyi Hajar Dewantara, seorang pegiat pendidikan dan pergerakan perempuan Indonesia ini menegaskan bahwa “Perempuan adalah pendidik manusia sejak dalam buaian, maka kemajuan bangsa bertumpu pada kemajuan perempuan.”
Sekarang, di tahun 2025 ini, peringatan Hari Ibu Nasional, seperti disebut di awal, tidak hanya perayaan sentimental dan jadi acara seremonial semata, tapi menjadi refleksi kita untuk menegaskan peran Ibu, peran perempuan yang tidak hanya di ranah domestik, tetapi turut berkontribusi di ruang publik, ruang ekonomi, sosial dan politik.
Terakhir, artikel ini ditutup dengan kutipan dari Siti Rubaidah, Ketua Umum Suluh Perempuan, “Hari Ibu bagi saya adalah momen penting dimana negara memberi penghormatan atas perjuangan para Ibu. Tak hanya bagi anak-anaknya, tapi juga dalam membentuk karakter bangsa serta merawat bumi untuk diwariskan kepada generasi yang akan datang.” []
Sukir Anggraeni, dari berbagai sumber

Terkait
Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda
Imlek dan Wajah Pluralisme
Perubahan Besar Dimulai dari Hal Kecil, Semangat Survivor Menguatkan Langkah Suluh Perempuan