19 Februari 2026

“Broken Strings” yang Menggetarkan Kesadaran Publik tentang Child Grooming

Broken Strings & Ilustrasi Child Grooming. Dok. Qaniah

0Shares

Novel Broken Strings yang dirilis Aurelie Moeremans telah menjadi pendorong diskusi serius tentang praktik child grooming, yaitu proses manipulasi halus dan berbahaya oleh orang dewasa terhadap anak untuk eksploitasi emosional atau seksual. Buku yang awalnya bersifat memoir personal kini justru viral dan memicu beragam reaksi, mulai dari lembaga perlindungan anak, psikolog, pegiat HAM, politisi, hingga publik luas.

Edukasi dan Apresiasi dari Lembaga Perlindungan Anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan apresiasi tinggi terhadap karya ini karena berhasil mengedukasi masyarakat tentang bahaya child grooming, termasuk bagaimana pelaku memanipulasi korban untuk mengeksploitasi mereka. Lembaga ini menekankan bahwa praktik grooming sering dilakukan oleh orang yang dekat dengan korban, seperti teman, tenaga pendidik, atau bahkan keluarga, sehingga sulit terdeteksi.

“Kami berterima kasih sekali adanya buku itu sehingga membuka pengetahuan masyarakat luas terkait apa itu child grooming dan ternyata child grooming juga ada di sekitar kita,” kata Anggota KPAI Dian Sasmita dalam acara Laporan Akhir Tahun 2025 di Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Jumpa Pers KPAI. Foto: Rachma/detikcom

Menurut Dian Sasmita, kejahatan child grooming memiliki kekhasan, yakni adanya upaya manipulatif pelaku terhadap korban dengan tujuan untuk memanfaatkan korban atau menikmati sesuatu dari korban.

“Jadi manipulasi ini di dalam konsep perlindungan anak sudah termasuk pada aspek kekerasan, manipulasi, bujuk rayu, kemudian memberikan iming-iming termasuk kekerasan juga,” kata Dian Sasmita.

Selain itu, KPAI juga menyerukan pemerintah agar serius menangani fenomena ini, termasuk penyediaan layanan pendampingan dan penanganan hukum yang lebih mendalam terhadap korban serta strategi pencegahan.

Suara Psikolog: Grooming Bukan Sekadar Romantisasi

Para ahli kesehatan mental turut memberikan komentar penting atas viralnya Broken Strings. Psikiater dr. Lahargo Kembaren menjelaskan bahwa child grooming bukan peristiwa singkat, tetapi proses bertahap di mana pelaku membangun kepercayaan, kedekatan emosional, bahkan ketergantungan dengan korban untuk kemudian mengeksploitasi mereka.

Psikiater dr Lahargo Kembaren, Sp KJ, mengatakan child grooming adalah proses manipulasi psikologis yang disengaja, saat pelaku membangun kepercayaan kedekatan, emosional, dan ketergantungan pada anak dengan tujuan mengeksploitasi, baik secara emosional, psikologis, maupun seksual.

Ilustrasi Child Grooming. Foto: alodokter.com

“Yang berbahaya, grooming bukan peristiwa instan, tetapi proses bertahap,” ucapnya kepada detikcom, Sabtu (17/1/2026).

“Grooming bukan soal sentuhan dulu, tapi soal kepercayaan yang dicuri perlahan.”

dr Lahargo mengatakan pelaku sering tampak sebagai orang dewasa yang ‘paling peduli’, kakak atau mentor yang ‘paling mengerti’, bahkan figur aman ketika anak merasa kesepian.

Di tempat terpisah, psikolog klinis Arnold Lukito menekankan pentingnya mengenali taktik yang digunakan pelaku, dari memberi perhatian berlebihan, isolasi sosial terhadap korban, hingga strategi “rahasia” yang mencegah anak berbicara pada orang dewasa lain.

Dukungan Pegiat HAM

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Anis Hidayah, memberi dukungan terhadap keberanian Aurelie yang menyuarakan pengalaman traumanya. Mereka menilai isu child grooming sebagai salah satu bentuk kekerasan terhadap anak yang harus dibicarakan secara serius, tidak lagi menjadi topik tabu.

“Hak anak itu sesungguhnya dilindungi di dalam sejumlah ketentuan. Di tingkat internasional ada konvensi anak yang juga memberikan jaminan atas perlindungan hak-hak anak, UU Perlindungan Anak, UU Hak Asasi Manusia, di mana anak memiliki hak untuk bebas dari kekerasan,” katanya.

Ketua Komnas HAM Anis Hidayah. Foto: Ari Saputra/detikcom

Sementara politisi Rieke Diah Pitaloka juga angkat bicara di forum DPR, menegaskan bahwa kasus semacam ini bisa terjadi pada siapa saja dan negara tidak boleh diam menghadapi kekerasan terhadap anak.

“Bagaimana masa mudanya dihancurkan, bukan hanya dirampas dan ini adalah memoar yang terindikasi merupakan kisah hidup yang nyata dan ini bisa terjadi pada siapa saja, juga kepada anak-anak kita,” kata Rieke dalam rapat di DPR, Kamis (15/1/2026).

Reaksi Aurelie dan Publik

Aurelie sendiri menyatakan terharu atas respons luas yang muncul sejak buku itu viral. Ia menceritakan bahwa banyak penyintas lain yang akhirnya berani membuka kisah mereka sendiri, sesuatu yang dulu sukar terjadi karena stigma dan victim blaming yang kuat di masyarakat.

Di akun Instagram pribadinya, Aurelie mengaku terkejut karena banyaknya pesan masuk dari para penyintas yang selama ini memendam kisah mereka sendirian.

“Setiap aku buka DM (Direct Message), aku selalu kaget. Ternyata benar ya, sebanyak ini orang yang pernah mengalami child grooming, dan selama ini mereka simpan sendiri,” tulis Aurelie dikutip Kompas.com, Sabtu (17/1/2026).

Buku “Broken Strings” karya Aurelie Moeremans. Foto: youtube.com/@MrsAurelie

Di sisi publik, warganet membagikan opini yang beragam di berbagai ruang komunitas, forum-forum online. Banyak yang menyoroti bagaimana keseluruhan fenomena grooming masih sering diremehkan, bahkan ada komentar yang mengkritik budaya sosial yang toleran terhadap hubungan dengan anak di bawah umur.[]

Referensi

Edukasi soal child grooming lewat Broken Strings diapresiasi KPAI: https://www.antaranews.com/berita/5354345/edukasi-masyarakat-soal-child-grooming-the-broken-string-diapresiasi

Reaksi psikolog soal ciri child grooming: https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8312194/viral-broken-strings-aurelie-moeremans-ini-kata-psikiater-soal-ciri-child-grooming

Komnas HAM dukung Aurelie suara isu grooming: https://news.detik.com/berita/d-8309467/komnas-ham-apresiasi-aurelie-moeremans-berani-suarakan-child-grooming Respons publik dan penyintas setelah buku viral: https://amp.kompas.com/hype/read/2026/01/17/194607366/aurelie-moeremans-terharu-respons-publik-soal-isu-child-grooming-di-buku-broken-strings

0Shares