19 Februari 2026

Ratu Kalinyamat dan Kejayaan Laut Nusantara

Source: lhlukman98.medium.com

0Shares

Bayangkan sebuah pelabuhan di abad ke-16, ketika hutan tiang kapal menjulang di cakrawala dan aroma rempah bercampur dengan hiruk-pikuk perdagangan internasional. Jepara kala itu bukan kota pesisir biasa, tapi simpul perdagangan internasional. Seperti yang digambarkan Tome Pires, dalam ‘Suma Oriental’, mencatat pesisir utara Jawa sebagai “urat nadi ekonomi” yang menghubungkan dunia Barat dan Timur. Jepara berada tepat di jantungnya.

Di tengah lanskap maritim yang bergelora itu, berdirilah sosok perempuan yang namanya menembus batas zaman: Retna Kencana, atau yang lebih dikenal sebagai Ratu Kalinyamat. Ia bukan sekadar ratu yang duduk di singgasana. “Ratu Kalinyamat adalah intelektual dan ahli strategi militer,” tulis sejumlah sejarawan, sebuah pengakuan yang jarang disematkan pada pemimpin perempuan di masa itu.

Namun, kekuasaan besar itu lahir dari perjalanan yang tidak mudah. Babad Tanah Jawi mengisahkan masa kelam ketika Ratu Kalinyamat kehilangan suami tercintanya, Pangeran Hadiri, akibat konflik politik yang berdarah. Dalam duka mendalam, Ratu Kalinyamat menjalani laku prihatin yang dikenal sebagai Tapa Wuda Sinjang Rambut sebagai proses penempaan batin.

“Ia tidak membiarkan kesedihan melumpuhkan dirinya,” demikian dicatat sejarawan H.J. de Graaf. Justru dari luka itulah, Jepara bangkit. Pasca kekacauan Demak, Jepara tumbuh sebagai kekuatan mandiri yang tangguh. Kepemimpinan sang Ratu membuktikan bahwa duka bisa diolah menjadi tekad, dan kehilangan bisa menjelma strategi.

Di bawah kendalinya, Jepara menjelma poros maritim yang disegani. Kota ini dikenal sebagai pusat galangan kapal dengan teknologi perkapalan tercanggih di masanya. Kapal-kapal Jung Jawa buatan Jepara bahkan diakui sebagai “benteng terapung” yang mampu menahan gempuran meriam Eropa. “Keunggulan laut adalah fondasi kedaulatan,” seolah menjadi prinsip tak tertulis yang dijalankan sang Ratu.

Jepara tempo dulu. Sumber: Wikimedia Commons

Visi Ratu Kalinyamat tidak berhenti di batas kerajaannya sendiri. Ia membangun solidaritas Nusantara. Ribuan prajurit dikirim untuk membantu Malaka dan Maluku melawan Portugis. Diego de Couto, sejarawan resmi Portugis, menulis dalam Da Asia dengan nada takzim tentang besarnya armada Jepara yang diluncurkan pada 1551 dan 1574. Catatan musuh ini justru menjadi bukti kekuatan yang tak terbantahkan.

Tak heran bila Ratu Kalinyamat oleh pihak lawan dijuluki “Rainha de Japara, Senhora Poderosa e Rica”—Ratu Jepara, perempuan yang kaya dan sangat berkuasa. Julukan itu bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan geopolitik. “Pengakuan dari musuh adalah validasi paling jujur atas kekuatan seseorang,” demikian kerap disimpulkan para sejarawan.

Novel Ratu Kalinyamat terbitan Grasindo karya Setyo Wardoyo, berjudul “Ratu Kalinyamat: Laksamana yang Disegani Portugis”. Foto: www.soerakarta.id

Lebih jauh, Ratu Kalinyamat menghadirkan teladan kepemimpinan perempuan jauh sebelum istilah kesetaraan gender menjadi wacana modern. Berdasarkan Naskah Akademik pengusulan gelar Pahlawan Nasional, ia dikenal berani mengambil risiko dan piawai membangun koalisi lintas kerajaan, termasuk dengan Aceh dan Johor. Diplomasi dan kekuatan militer berjalan beriringan di bawah kepemimpinannya.

Ratu Kalinyamat bukan sekadar legenda masa lalu. Ia adalah bukti historis bahwa negeri ini pernah memiliki pemimpin perempuan yang mampu menggetarkan kekuatan global. Sejarah mencatat, kejayaan laut Nusantara pernah berdiri tegak—dan di baliknya, ada seorang perempuan yang menjadikan kedaulatan maritim sebagai harga mati.[]

Ditulis ulang dari artikel berjudul “Ratu Kalinyamat: Sang Singa Betina dari Pesisir Utara”, terbit di https://lhlukman98.medium.com

0Shares