Ngabuburit di Indonesia lazim ‘war takjil’ takjil, atau aktivitas santai seperti jalan sore, atau berkumpul bersama teman. Sementara masyarakat di Asia bahkan di eropa menikmati suasana Ramadan yang megah dengan cara dan tradisi yang berbeda. Dan berikut beberapa tradisi ngabuburit tersebut:
Indonesia: ‘War Takjil’ dan Jalan Sore yang Selalu Dinanti

Di Indonesia, ngabuburit hampir menjadi ritual harian selama Ramadan. Pasar dadakan atau pasar Ramadan muncul di banyak kota seperti Jakarta, Bandung, hingga Yogyakarta. Aneka makanan khas berbuka seperti kolak, es buah, gorengan, hingga aneka kue tradisional menjadi daya tarik utama.
Selain berburu makanan, banyak orang memanfaatkan waktu ini untuk berjalan santai di taman kota atau ruang publik.
Seorang wisatawan asal Belanda yang pernah menghabiskan Ramadan di Bandung pernah mengatakan: “Saya belum pernah melihat suasana seperti ini. Menjelang matahari terbenam, semua orang keluar rumah, tersenyum, dan berbagi makanan. Rasanya sangat hangat.”
Menurut sejumlah laporan pariwisata daerah, pasar Ramadan juga ikut menggerakkan ekonomi lokal setiap tahun karena ribuan pedagang kecil ikut berpartisipasi.
Malaysia: Ramainya Bazar Ramadan yang Ikonik

Di Malaysia, tradisi serupa dikenal lewat kunjungan ke Bazar Ramadan. Hampir setiap kota besar seperti Kuala Lumpur, Penang, dan Johor Bahru memiliki bazar yang dipenuhi berbagai makanan khas berbuka.
Menu seperti murtabak, nasi lemak, ayam percik, hingga minuman air bandung menjadi favorit banyak orang.
Seorang warga Kuala Lumpur pernah menggambarkan suasana ini dengan sederhana:
“Bazar Ramadan bukan hanya tempat membeli makanan. Ini tempat bertemu teman lama, berjalan bersama keluarga, dan merasakan semangat Ramadan di kota.”
Dalam beberapa tahun terakhir, bazar Ramadan bahkan menjadi salah satu atraksi wisata kuliner yang menarik turis mancanegara.
Turki: Menunggu Maghrib di Sekitar Masjid Bersejarah

Di Turki, suasana ngabuburit terasa lebih tenang namun penuh makna. Banyak warga menghabiskan waktu di sekitar masjid bersejarah seperti Masjid Sultan Ahmed di Istanbul.
Taman-taman di sekitar masjid biasanya dipenuhi keluarga yang duduk santai, membaca Al-Qur’an, atau sekadar menikmati langit senja.
“Duduk di taman dekat masjid saat Ramadan di Istanbul terasa seperti berada dalam lukisan. Kota terasa hidup, tetapi juga damai,” kata seorang pelancong dari Prancis menggambarkan pengalamannya.
Turki juga dikenal memiliki tradisi iftar bersama di ruang publik, yang sering dihadiri ribuan orang.
Arab Saudi: Kebersamaan di Pelataran Masjid Suci

Di Arab Saudi, khususnya di Mekkah dan Madinah, waktu menjelang berbuka dihabiskan dengan duduk bersama di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Jamaah dari berbagai negara berkumpul, berdoa, membaca Al-Qur’an, atau berbagi makanan yang disediakan para donatur.
Banyak pengunjung menggambarkan suasana ini sebagai pengalaman spiritual yang sangat kuat.
“Tidak ada tempat lain di dunia di mana ribuan orang dari berbagai negara duduk bersama menunggu waktu berbuka dengan rasa damai seperti di sini,” ujar seorang jamaah asal Indonesia dalam sebuah wawancara perjalanan religi.
Mesir: Ngobrol Santai dan Minuman Qamar al-Din

Di Mesir, ngabuburit sering diisi dengan berkumpul di kafe atau taman kota. Minuman khas Ramadan seperti Qamar al-Din, jus aprikot yang manis dan segar, menjadi favorit.
Selain itu, ada tradisi yang unik: meriam Ramadan yang ditembakkan sebagai penanda waktu berbuka puasa. Tradisi ini sudah berlangsung sejak berabad-abad lalu dan masih dipertahankan di beberapa kota.
“Saat meriam berbunyi, rasanya seperti pengingat bahwa Ramadan adalah momen kebersamaan,” kata seorang warga Kairo.
Uni Emirat Arab: Festival Ramadan dan Pasar Malam

Di kota-kota seperti Dubai dan Abu Dhabi, ngabuburit sering dihabiskan dengan mengunjungi festival Ramadan atau pasar malam khusus Ramadan.
Banyak pusat perbelanjaan dan ruang publik mengadakan acara kuliner, pertunjukan budaya, hingga bazar kerajinan.
Seorang pengunjung dari Eropa pernah berkomentar: “Ramadan di Dubai seperti festival budaya. Anda bisa belajar tentang tradisi lokal sambil menikmati makanan dari seluruh dunia.”
Hotel-hotel juga menawarkan paket iftar buffet yang menarik wisatawan internasional.
Maroko: Keramaian Alun-Alun Kota yang Hidup

Di Maroko, suasana menjelang berbuka sangat terasa di alun-alun kota yang ramai, salah satunya Jemaa el-Fnaa.
Di tempat ini, pengunjung bisa melihat pertunjukan musik jalanan, pedagang makanan, hingga berbagai atraksi budaya.
Menu berbuka khas seperti harira (sup tradisional) dan chebakia (kue manis khas Ramadan) banyak dijajakan.
Seorang turis dari Spanyol pernah berkata: “Menunggu maghrib di Marrakesh terasa seperti festival jalanan, tapi dengan nuansa spiritual.”
Pakistan: Kriket, Street Food, dan Kebersamaan

Di Pakistan, ngabuburit sering diisi dengan aktivitas yang sangat khas: bermain kriket di jalan atau lapangan terbuka.
Selain itu, pasar makanan menjelang berbuka selalu ramai dengan penjual Pakora, Samosa, dan Chana Chaat.
Tidak ada yang benar-benar ingat bagaimana atau kapan Pakora bergabung dengan jajaran Rooh Afza dan kurma sebagai makanan pokok berbuka puasa di Pakistan. Namun setiap Ramadhan, banyak sekali kios bermunculan di setiap sudut dan celah yang menjual berbagai macam makanan, mulai dari terong hingga ayam, yang dicelupkan ke dalam adonan pedas lalu digoreng.
Seorang pedagang telah menjual pakora selama hampir enam puluh tahun berkata: “Warung saya adalah yang tertua di Islamabad. Kami menjual pakora cabai hijau, terong, kentang, dan sayuran campur.”
Kanada: Tradisi Open Iftar yang Menyatukan Banyak Komunitas

Di negara dengan komunitas Muslim yang terus berkembang seperti Kanada, muncul tradisi yang menarik: Open Iftar. Acara ini biasanya digelar di kota-kota besar seperti Toronto dan Vancouver.
Dalam kegiatan ini, masyarakat Muslim dan non-Muslim duduk bersama untuk berbuka puasa. Banyak relawan juga membagikan makanan dan pakaian bagi yang membutuhkan.
Mark Carney, Perdana Menteri Kanada, dalam pernyataannya tentang Ramadan menyampaikan pesan yang menggambarkan makna bulan suci ini.
“Saat matahari terbenam nanti, umat Muslim di Kanada dan seluruh dunia akan mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Dalam beberapa minggu mendatang, keluarga dan teman-teman akan berkumpul di rumah dan masjid untuk berdoa dan merenung. Setelah berpuasa dari subuh hingga maghrib, mereka akan berbuka puasa dengan iftar—makan malam tradisional. Bagi mereka yang menjalankan ibadah Ramadan, ini adalah waktu untuk merenung, bersyukur, dan merayakan,” ucapnya.
Mark Carney menjelaskan bahwa saat masa suci ini dimulai, terlalu banyak umat Muslim di Kanada yang terus menghadapi tindakan Islamofobia yang mengkhawatirkan. Memerangi kebencian adalah prioritas utama pemerintahnya, dan Islamofobia tidak memiliki tempat di Kanada.
Inti dari makna menjadi warga Kanada adalah nilai fundamental bahwa setiap orang berhak atas kebebasan, keamanan, dan kemampuan untuk berkembang di masyarakat kita.
“Bersama-sama, kita dapat membangun negara di mana semua Muslim dapat hidup dengan aman dan bangga, tanpa intimidasi atau rasa takut,” imbuhnya.
“Saya berharap semua orang yang menjalankan ibadah Ramadan mendapatkan bulan yang penuh berkah dan kedamaian. Ramadan Mubarak.”
Tradisi Berbeda, Makna yang Sama
Meski istilah ngabuburit mungkin hanya populer di Indonesia, semangat di baliknya ternyata dirasakan di seluruh dunia. Dari pasar takjil di Indonesia, bazar di Malaysia, taman masjid di Turki, hingga open iftar di Kanada, semuanya semangat yang sama yakni kebersamaan.
Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang memperkuat hubungan antarmanusia, memperluas empati, dan merayakan keberagaman budaya.[]
Dari berbagai sumber

Terkait
Ramadan Sedunia dan Tradisi Uniknya dari Mesir hingga Indonesia
Layanan Kesehatan Mental Digital Jadi Kebutuhan Mendesak Kaum Muda
Imlek dan Wajah Pluralisme