Selama hampir satu dekade memimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa, saya telah menyaksikan dunia kita berulang kali diuji oleh guncangan iklim, kemiskinan yang semakin dalam, konflik kekerasan, dan penyempitan ruang sipil.
Namun saya juga telah menyaksikan banyak solusi yang berakar, dan semuanya memiliki satu kesamaan: perempuan.
Saat dunia memperingati Hari Perempuan Internasional, inilah saatnya untuk menyadari bahwa ketidaksetaraan gender adalah tantangan hak asasi manusia terbesar di zaman kita—dan memajukan kesetaraan adalah salah satu pendorong terkuat pembangunan berkelanjutan dan perdamaian.
Berikut delapan tindakan yang diambil dari pengalaman saya sendiri, dan terinspirasi oleh kerja sistem PBB dan gerakan masyarakat sipil di seluruh dunia, untuk memajukan hak-hak perempuan dan memberikan hasil nyata.
1. Perbaiki Kesenjangan Kekuasaan
Kesetaraan gender adalah soal kekuasaan. Namun, institusi yang didominasi laki-laki masih membentuk dunia kita. Gelombang otoritarianisme yang meningkat memperdalam ketidaksetaraan ini, membatalkan perlindungan yang telah susah payah diraih—mulai dari praktik kerja yang adil hingga hak reproduksi—dan memperkuat bias rasial dan gender yang menghambat perempuan. Kesetaraan gender memperkuat dan memajukan masyarakat. Ketika kekuasaan dibagi, kebebasan meluas.
2. Jadikan Kesetaraan Sebagai Prioritas
Perempuan sangat kurang terwakili dalam pemerintahan dan dewan direksi di seluruh dunia. Di Perserikatan Bangsa-Bangsa, kami bertekad untuk menjadikan kesetaraan gender sebagai prioritas, dimulai dari kepemimpinan senior.
Kami melakukan ini dengan memperluas pencarian kandidat yang berkualitas, bukan dengan menurunkan standar. PBB menjadi lebih kuat karenanya, dengan budaya tempat kerja yang lebih baik dan pengambilan keputusan yang lebih inklusif. Pelajarannya jelas. Ketika institusi memilih kesetaraan, hasilnya akan mengikuti.
3. Berinvestasi dengan Dampak Pengembalian Tertinggi
Investasi pada perempuan memberikan hasil yang luar biasa. Setiap dolar yang di investasikan pada pendidikan anak perempuan menghasilkan keuntungan hampir tiga kali lipat, sementara kesehatan ibu dan perencanaan keluarga menghasilkan manfaat lebih dari delapan kali lipat.
Kebijakan yang mendukung keluarga, seperti perawatan anak dan perawatan lansia, memperkuat komunitas dan membuka peluang pertumbuhan yang lebih besar. Secara bersama-sama, langkah-langkah tersebut meletakkan dasar untuk menutup kesenjangan gender, yang dapat meningkatkan pendapatan nasional hingga 20%.
4. Beri Ruang di Meja Perdamaian
Perjanjian perdamaian akan lebih langgeng jika perempuan ikut serta dalam negosiasi dan pelaksanaannya. Namun, dalam terlalu banyak konflik—termasuk di Gaza, Ukraina, dan Sudan—perempuan sebagian besar telah dikesampingkan, meskipun mereka menanggung beban perang yang paling berat.
Di tengah meningkatnya ketidakstabilan, inklusi bukanlah sekadar simbolis—melainkan jalan pintas untuk menstabilkan dunia kita yang terpecah belah.
5. Akhiri Diskriminasi Hukum
Di seluruh dunia, perempuan hanya memiliki 64 persen hak hukum yang dinikmati oleh laki-laki. Di terlalu banyak tempat, mereka tidak dapat memiliki properti, bekerja secara bebas, atau mengajukan perceraian.
Bahkan di tempat-tempat di mana perlindungan sudah ada, perempuan menghadapi hambatan yang lebih tinggi untuk mengakses bantuan hukum atau pengadilan. Setiap negara harus berkomitmen untuk membongkar undang-undang yang diskriminatif, dan untuk menegakkan hak-hak dalam praktiknya.
6. Nol Toleransi untuk Kekerasan Berbasis Gender – dan Tanpa Kompromi
Kekerasan terhadap perempuan adalah keadaan darurat global, berakar pada ketidaksetaraan dan dipelihara oleh kebisuan. Setiap perempuan dan anak perempuan berhak untuk hidup bebas dari rasa takut.
Namun, kekerasan berbasis gender—termasuk eksploitasi dan pelecehan seksual—tetap merupakan pelanggaran kepercayaan dan kemanusiaan yang mengerikan. Kita harus menghadapinya di mana pun, dengan nol toleransi, akuntabilitas penuh, dan dukungan tanpa henti bagi korban dan penyintas.
7. Hapus Bias Gender di Algoritma Dunia Digital
Dengan perempuan hanya mencakup seperempat dari pekerja teknologi, bias semakin tertanam dalam sistem yang membentuk kehidupan sehari-hari. Sementara itu, misogini meledak di dunia maya. Perusahaan teknologi dan pemerintah harus bertindak bersama untuk membangun ruang digital yang aman dan inklusif—dan dunia harus berbuat lebih banyak untuk menghilangkan hambatan bagi perempuan di bidang sains dan teknologi.
8. Masukkan Perspektif Gender dalam Rencana Iklim
Perubahan iklim bersifat seksis. Perempuan seringkali makan terakhir dalam krisis pangan dan menghadapi bahaya yang lebih besar dalam keadaan darurat. Anak perempuan menghadapi risiko pernikahan anak yang lebih tinggi ketika mata pencaharian runtuh.
Namun perempuan juga memimpin solusi iklim—memajukan legislasi ramah lingkungan, menggerakkan gerakan global, dan mendorong perubahan di lapangan.
Bumi yang layak huni membutuhkan kebijakan iklim yang responsif gender, termasuk akses yang setara terhadap pekerjaan ramah lingkungan, perlindungan yang lebih baik dalam keadaan darurat, dan partisipasi penuh dalam pengambilan keputusan lingkungan.
Di seluruh dunia, saya telah melihat delapan solusi ini diterapkan—di zona perang dan upaya pemulihan, parlemen dan ruang kelas, organisasi dan komunitas.
Jika para pemimpin serius memperhatikan kesetaraan gender dan berkomitmen terhadapnya sekarang, kita akan mengubah dunia—untuk perempuan dan anak perempuan, dan untuk kita semua.[]
António Guterres, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Terkait
Puasa Sebagai Sekolah Integritas: Fondasi Moral Pancasila bagi Demokrasi Yang Bermartabat – Bag. II
Puasa Sebagai Sekolah Integritas: Fondasi Moral Pancasila bagi Demokrasi Yang Bermartabat
John Tobing dan “Darah Juang” Yang Menjadi Milik Orang Banyak