Pembicaraan tentang tubuh perempuan sering kali dipenuhi mitos, rasa malu, bahkan ketakutan. Padahal, memahami tubuh sendiri adalah langkah awal untuk melindungi diri. Dalam pemaparannya pada kegiatan “VCAT Training Suluh Perempuan 2026”, dr. Zakiah Tourik Mahri, Sp.OG mengajak kita melihat organ reproduksi perempuan secara jernih—ilmiah, membumi, dan penuh kesadaran akan hak kesehatan.
“Jadi sebenarnya organ reproduksi perempuan dibagi dua. Ada organ yang kita sebutnya genitalia, organ perempuan. Itu ada organ eksternal, ada organ internal.”
Penjelasan ini menjadi pintu masuk untuk memahami bahwa tubuh perempuan bukan sesuatu yang misterius. Ia bisa dikenali, dipelajari, dan dipahami secara utuh.
Mengenal Bagian Luar yang Sering Disalahpahami
Organ reproduksi bagian luar atau genitalia eksternal terdiri dari berbagai bagian yang memiliki fungsi penting.
“Organ eksternal terdiri dari bibir kemaluan—ada bibir kemaluan luar dan bibir kemaluan dalam yang kita sebutnya labia. Terus ada klitoris, area yang paling sensitif buat perempuan, itu seperti G-spotnya perempuan.”
Selain itu, terdapat uretra sebagai saluran urine, vagina, dan yang sering disalahpahami sebagai selaput dara.
“Jadi yang namanya selaput dara itu sebenarnya bukan berupa selaput, tapi dia berupa cincin.”
Penjelasan ini penting karena banyak mitos yang mengaitkan selaput dara dengan moralitas perempuan. Secara medis, bentuknya bukan penutup penuh, melainkan cincin di sekitar lubang vagina. Bahkan, kondisi tertutup total justru dianggap tidak normal.
“Kadang orang mengiranya dia berupa selaput yang menutupi lubang vagina, tidak. Dia berupa cincin yang melingkar di lubang vagina, tapi ada juga yang menutupi dan itu berarti sebuah abnormalitas.”
Jika tertutup total, justru bisa menyebabkan masalah serius saat pubertas.
“Karena lubang vagina itu tempat keluarnya darah menstruasi, jadi begitu dia tertutup darahnya akan terjebak di dalam.”
Organ Dalam dan Cara Kerjanya
Masuk ke bagian internal, tubuh perempuan bekerja dengan sistem yang kompleks namun teratur.
“Di genitalia internal itu ada rahim, kalau ukuran rahim normal itu sekitar 6 sampai 7 cm, tapi pada saat kehamilan dia bisa membesar sampai 40 kali lipat.”
Selain rahim, ada tuba fallopi—tempat terjadinya pembuahan.
“Jadi sperma sama sel telur itu ketemunya bukan di rahim, tapi di saluran telur.”
Ada juga indung telur (ovarium), yang memiliki peran krusial dalam reproduksi.
“Sel telur kita itu dari kita lahir jumlahnya sudah ditentukan. Jadi dia tidak akan pernah memperbarui diri.”
Ini berbeda dengan laki-laki, di mana sperma terus diproduksi. Karena itu, cadangan sel telur perempuan terbatas dan bisa berkurang karena berbagai kondisi.
“Misalnya, karena sakit, karena program bayi tabung itu cadangannya bisa berkurang lebih cepat dari seharusnya. Jadi bisa menepouse lebih awal.”
Pemeriksaan dan Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai
Pemeriksaan organ reproduksi bisa dilakukan secara sederhana, terutama untuk bagian luar.
“Kalau misalnya pemeriksaan genitalia eksternal yang kita bisa kerjakan itu sebenarnya hanya kita inspeksi… sama palpasi… kita raba.”
Melalui pengamatan dan perabaan, kita bisa mendeteksi tanda seperti peradangan, benjolan, atau perubahan warna.
Namun, penting juga mengenali tanda-tanda kapan harus ke tenaga kesehatan.
“Kalau misalnya ada nyeri hebat pada saat menstruasi atau darah menstruasi berlebihan… sampai dia lemas, anemia.”
Atau jika ada keputihan tidak normal: “Keputihan yang gatal, warnanya kuning kehijauan, berbau, ada rasa perih, panas.”
Nyeri Haid, Hormon, dan Realitas Tubuh
Nyeri haid sering dianggap hal biasa, padahal penyebabnya bisa beragam.
“Nyeri haid itu bisa macam-macam sebab, bisa berupa tumor, bisa berupa kista, atau memang hanya sel-sel peradangan.”
Perubahan hormon bulanan juga menjadi faktor utama. Bahkan, kondisi tertentu seperti kehamilan atau menopause bisa “menghentikan” nyeri karena tidak terjadi menstruasi.
“Bagaimana caranya supaya dia tidak nyeri, berarti dia harus tidak mens.”
Serviks, Seksualitas, dan Risiko Infeksi
Salah satu bagian yang paling rentan adalah serviks.
“Kenapa dari semua struktur genitalnya perempuan serviks itu penyakit yang paling banyak paling sering dialami? Karena serviks itu yang terpapar langsung.”
Infeksi bisa menjadi pintu masuk bagi bakteri atau virus ke organ dalam.
“Dia bisa menjadi salah satu pintu masuk.”
Karena itu, pemeriksaan seperti IVA atau Pap Smear penting dilakukan.
“IVA atau Pap Smear dikerjakan pada perempuan yang sudah pernah melakukan hubungan seksual… minimal 3 tahun.”
Vaksin HPV dan Upaya Pencegahan
Salah satu langkah penting dalam pencegahan adalah vaksin HPV.
“Makanya vaksin itu penting pada setiap perempuan, sekarang menjadi program pemerintah, sekarang ditetapkannya di kelas 5 SD.”
Vaksin ini bahkan bisa diberikan sejak usia 9 tahun.
“Kalau pada anak-anak, diberikannya 2 kali, kalau pada dewasa diberikannya 3 kali.”
Langkah ini diambil sebagai respons terhadap perubahan sosial.
“Ternyata anak SMA ini banyak sudah melakukan hubungan seksual, dan tidak jarang ternyata anak SMP juga sudah.”
Vaksin HPV terus berkembang untuk melindungi lebih banyak varian virus.
“Dulu Gardasil 4 hanya meng-cover 4 varian… sekarang sudah meng-cover 9 varian.”
Namun, perlindungan tidak berarti tanpa risiko.
“Masih ada 9 varian lagi… mungkin antara 11 atau 13 persen pasti punya resiko buat terkena.Jadi vaksin itu sebenarnya penting banget.”
Kesehatan Reproduksi adalah Hak
Pada akhirnya, pembahasan ini tidak hanya soal organ atau penyakit, tetapi tentang hak atas tubuh.
“Kesehatan reproduksi itu berarti tubuh berfungsi dengan baik, bebas dari penyakit, kemudian aman secara fisik dan mental, memiliki hak atas tubuh sendiri.”
Ini juga berarti edukasi harus hadir untuk melindungi, bukan menghakimi.
“Edukasi ini untuk melindungi, bukan menyalahkan.”
Tubuh perempuan bukan sekadar objek biologis, tetapi ruang hidup yang harus dipahami, dijaga, dan dihormati. Dengan pengetahuan yang tepat, perempuan bisa lebih berdaya—bukan hanya dalam kesehatan, tetapi juga dalam menentukan pilihan atas tubuhnya sendiri.[]
Disampaikan pada acara “VCAT Training Suluh Perempuan 2026” di Sawangan, Jawa Barat, 15/02/2026. dr. Zakiah Tourik Mahri adalah dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) atau kandungan yang berfokus dalam menangani kehamilan dan proses persalinan serta permasalahan pada sistem reproduksi perempuan.

Terkait
Solidaritas untuk Petani Aceh yang Dikriminalisasi
Halalbihalal: Merajut Silaturahim dan Menguatkan Empati
Seni Berkelanjutan ala Deniz Sağdıç