Pada bulan Juni 1959 di Jakarta telah diadakan pameran hasil-hasil karya Kathe Kollwitz. Seorang artis jerman yang terkemuka bertempat di Balai Budaya.
Kathe Kollwitz dilahirkan pada 8 Juli 1867. Karyanya yang unik serta menggambarkan kemiskinan dan peperangan selama kekuasaan fasisme di Jerman sangat menggugah hati.
Republik demokrasi Jerman yang mendasarkan kebudayaannnya pada jiwa kemanusiaan dan perdamaian sejak semula memajukan keseniannya, dimana Kathe Kollwitz merupakan teladan yang baik.
Kathe Kollwitz sendiri adalah seorang Ibu. Mungkin karena ini, maka tema Ibu dan Anak selalu kita jumpai dalam banyak karyanya.
Perasaan seorang Ibu, tanggungjawab Ibu terhadap anaknya merupakan unsur pokok yang selalu menjadi pendorong mengapa dia merindukan dunia baru, dimana manusia hidup damai dan bahagia.
Dengan lukisan-lukisannya sebagai senjata, Kathe Kollwitz bekerja untuk cita-citanya. Seni bukan bentuk-bentuk yang sedap dipandang, dan untuk menghias rumah-rumah orang kaya. Seni adalah teriakan seorang Ibu yang menghendaki pembebasan atas penindasan yang sewenang-wenang, teriakan manusia yang menghendaki keadilan.
Buku hariannya mencatat: “Aku setuju, bahwa pekerjaanku, seni, mempunyai suatu tujuan. Aku ingin mempunyai pengaruh atas zaman ini.”
Beberapa karya Kathe Kollwitz yang mencerminkan kemauan Ibu untuk melindungi keturunannya adalah: “Nie wieder krieg”, sebuah poster yang menggambarkan, seorang Ibu yang berseru menolak peperangan, perang membawa maut dan sengsara.
“Dermakan juga berlebih padamu, pada sesama manusia.” Poster itu menggambarkan seorang Ibu yang montok sedang menyusui. Seorang orok disodorkan kepadanya, orok itu bayi kelaparan, kelebihan air tetek si Ibu akan sangat berguna bagi bayi itu.
Mari kita menarik pelajaran dan menengok ke sekeliling. Betapa banyak barang berlebihan yang diboroskan, sedangkan orang lain sangat membutuhkannya.
Kathe Kollwitz juga sangat tertarik kepada penderitaan dan kemelaratan. Kehidupan kaum buruh yang sangat miskin mengambil tempat utama pula dalam pemilihan motif-motifnya. Untuk kaum buruh telah dilukiskan dua epos besar: Pemberontakan buruh tenun dan perang tani.

Buruh tenun ditindas, diperas tenaganya, nafkahnya sangat rendah, mereka bukanlah manusia yang dapat hidup layak, kelaparan dan kemiskinan mengancam mereka terus-menerus.
Pada sebuah lukisannya terlihat buruh tenun, dia kurus kering, sebuah kerangka dengan pakaian compang-camping, seluruh tenaganya telah dipakai untuk menarik roda, tetapi keadaan mereka makin tergilas. Lihatlah mereka itu adalah manusia-manusia, dalam dadanya hidup semangat, dan semangat itulah yang meletuskan pemberontakan untuk menuntut keadilan.
Dalam perang tani kami melihat lukisan dimana seorang perempuan menjadi pelopor barisan. Dengan seluruh tenaga ia mengajak maju barisan tani yang marah.
Perang dan pemberontakan ini digambarkan oleh Kathe Kollwitz untuk menuntut keadilan. Lukisan-lukisan itu adalah gambaran dari perjuangan kemerdekaan kaum pekerja.
Sudah tentu gambaran kenyataan yang tawar itu tidak disenangi oleh kerajaan Jerman, pemerintah resmi pada waktu itu. Kathe Kollwitz tidak mendapat tempat dan pengakuan istimewa sebagai seniman di Jerman. Usul Menzel dan Liebermen untuk memberinya bintang telah ditolak oleh pemerintah.
Baru setelah Jerman menjadi Republik pada tahun 1918, Kathe Kollwitz diangkat menjadi guru Akademi Kesenian. Dan namanya mulai terkenal jauh diluar perbatasan Jerman.
Pada waktu pemerintahan fasis Hitler, sekali lagi, Kathe Kollwitz yang telah lanjut usianya kembali diasingkan, lukisan-lukisannya tidak boleh dipertunjukkan dalam museum-museum, dan dia dibebaskan dari jabatan-jabatannya yang penting. Sebuah petret diri pada masa itu menunjukkan betapa zaman itu menekan dirinya.

Pandangan Kathe Kollwitz yang maju itu di dapatnya dari ayahnya dan kakeknya, yang sekalipun dari golongan ningrat tapi termasuk tenaga-tenaga yang amat progresif.
Motif ‘Ibu dan Anak’ mendapat penyajian yang menumental dalam lukisannya. “Ibu melindungi anak”. Pandangan si Ibu yang tajam menatap arah bahaya, kedua tangannya yang kokoh merangkul kedua anaknya. Inilah peninggalan warisan yang diberikan kepada kami yang hidup kemudian: “Tugas Ibu, itulah keberanian untuk melindungi keturunan.”

Kathe Kollwitz meninggal pada 22 April 1945 sesudah perang Dunia II dalam usia yang sangat lanjut.
Hidupnya tidak sia-sia, dan jiwanya yang besar terus hidup, memancar melalui buah ciptaannya.[]
Sumber : Majalah Api Kartini, terbit tahun 1959 – No. 3. Ditulis oleh Rukmi B. Resobowo, dengan judul asli “Dengan Lukisannya Berjuang untuk Kebahagiaan Manusia.”

Terkait
Menolak Lupa, Menguji Keadilan
Kado Hari Kartini 2026, RUU PPRT Disahkan
Ketika NIK Menjadi Pengingat Tanggung Jawab