Selama lebih dari satu dekade, Sita Pramesthi, S.Si mendampingi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui Sekolah Rakyat Kejawan di Surabaya. Berangkat dari kegelisahan terhadap tingginya angka putus sekolah dan pernikahan dini di lingkungannya, ia membangun ruang belajar yang hingga kini tetap bertahan dengan dukungan para relawan dan mahasiswa. Dalam wawancara dengan redaksi www.suluhperempuan.org, pendiri Sekolah Rakyat Kejawan itu berbagi pengalaman mendampingi anak-anak di akar rumput sekaligus menyampaikan pandangannya mengenai program Sekolah Rakyat yang digagas pemerintah. Berikut petikannya:
Bisa jelaskan apa itu Sekolah Rakyat Kejawan?
Sekolah Rakyat Kejawan berdiri pada 12 April 2012 sebagai bagian dari pemberdayaan yang saya lakukan di masyarakat sekitar sini. Jadi, dari tahun 2008 saya melakukan pemberdayaan mulai dari mendirikan kesehatan, Posyandu Balita-Lansia, kemudian 2010 saya entrepreneur, mendampingi UMKM, kemudian kelompok tani, mendirikan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya), dan PAUD gratis. Nah, dari pilar-pilar yang kami lakukan dalam melakukan pemberdayaan itu kita menemukan beberapa hal yang menjadi salah satu kendala di masyarakat, yaitu tentang pendidikan.
Jadi, di Posyandu Balita-Lansia banyaknya kasus anak-anak yang Bawah Garis Merah, stunting, kemudian di lansia juga seperti itu, pemahaman yang kurang bagaimana mereka harus menjaga lansia. Dari situ barulah kita sadar.
Terus juga satu lagi, saya ingin sekali untuk memutus pernikahan dini. Jadi, di sekitar Kejawan sini pernikahan dininya itu lumayan. Nah, kenapa kok itu terjadi? Akhirnya, kita cari di masyarakat, kita lakukan SWOT, dan hasilnya karena tingkat pendidikan mereka kurang. Saya berharap adanya pendampingan lewat pendidikan akan memuliakan, meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekitar kami. Itulah awalnya berdiri Sekolah Rakyat Kejawan.
Sekolah Rakyat Kejawan itu hanya sebuah komunitas, dan kami mandiri. Secara umum, Sekolah Rakyat Kejawan itu mendampingi anak-anak sekitar dalam dua hal.

Satu, secara akademis, memastikan mereka bisa mengakses sekolah, mendapatkan sekolah, apapun alasannya. Orang tuanya, latar-belakangnya rata-rata kurang dalam hal pendidikannya, jadi tidak bisa mengajari anak-anaknya, itu kita dampingi.
Jadi, diakseskan ke sekolah umum sebenarnya, anak-anak itu tidak sekolah di Sekolah Rakyat Kejawan ini tidak, mereka tetap diakseskan ke sekolah umum, tapi kalau sore berkumpul sampai malam belajar di SRK, diajar oleh anak-anak mahasiswa secara gratis. Jadi, kami kerjasama dengan anak-anak mahasiswa untuk mengajar di sekolah rakyat.
Kedua, non-akademis. Segala kendala terkait dengan mereka tidak bisanya sekolah, itu juga kami bantu. Seperti, misalkan karena mereka rata-rata, jadi yang saya tangani itu menengah ke bawah. Jadi, di daerah kantong yang ruwett, dengan ekonomi yang kurang, pendidikan yang kurang, beberapa sistem nilai yang salah, banyak hal yang harus kami rubah terkait masyarakat. Tidak cuma menggeser beberapa nilai, mengubah persepsi mereka tentang pendidikan. Itu yang paling fundamental.
Jadi kalau tidak punya akte kami bantu untuk bikinkan akte. Tidak punya sangu (bekal) sekolah, saya setiap pagi masak untuk sarapan biar anak-anak itu punya bekal. Setiap pagi mereka datang ke rumah untuk ambil sarapan. Tidak punya orang tua, ya kami jadi orang tuanya. Tidak punya wali, ya kami jadi walinya, yang pasti mengusahakan agar mereka tetap bisa bersekolah. Jadi secara garis besarnya seperti itu.
Apa yang bikin Mbak mau mengajar dan mendirikan Sekolah Rakyat Kejawan?
Saya berpikir bahwa itu bagian dari pengabdian saya terhadap masyarakat. Yang saya mampu saya mulai dari sekitar saya. Saya konsen di pendidikan, saya diberi anak-anak yang cerdas-cerdas, saya ingin berbagi bahwa anak lain juga bisa seperti itu.
Saya sadar bahwa anak-anak itu tidak bisa memilih mereka dilahirkan di keluarga mana, maka sebagai bagian dari masyarakat, saya ingin berkontribusi agar bisa membantu mereka, agar bisa memberikan akses kepada mereka, agar bisa berbagi kebahagiaan dan membuka mata mereka bahwa mereka bisa mengubah hidupnya dengan pendidikan. Bahwa pendidikan bukan sekedar wajib belajar, bukan sekedar kewajiban yang harus ditempuh orang tua untuk menyekolahkan anaknya, tetapi mengubah persepsi itu bahwa pendidikan bukan sekedar kewajiban tetapi amanah yang harus mereka berikan, hak yang harus mereka berikan kepada anak-anak untuk mengubah hidup mereka sendiri, orang tua dan anak-anak mereka di masa depan.
Bedanya apa mengajar di Sekolah Rakyat Kejawan dengan sekolah formal?
Saya guru PAUD, saya mendirikan dua PAUD dan semua gratis. Tapi kalau mengajar di sekolah formal saya tidak pernah. Tapi saya tahu—karena saya juga lulusan ITS. Dulu pernah kerja praktek semacam magang untuk mengajar di sekolah.
Saya menilai bahwa hambatan pendidikan yang dihadapi anak-anak di lingkungan dampingan saya tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi. Dalam praktiknya, banyak anak membutuhkan pendampingan belajar yang lebih intensif dan metode pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Karena itu, menurut saya, penguatan layanan pendidikan yang inklusif dan adaptif menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian lebih besar dari para pemangku kebijakan.
Kurikulum di Sekolah Rakyat Kejawan seperti apa?
Kurikulumnya kita mengikuti sekolah nasional, cuma metode pembelajarannya saja yang dirubah karena kemampuan mereka dalam menyerap itu berbeda dengan anak-anak secara umum.
Selama bertahun-tahun mendampingi anak-anak di Kejawan, saya menemukan bahwa banyak peserta didik menghadapi tantangan belajar yang tidak selalu dapat diakomodasi oleh sistem pendidikan umum. Karena itu, Sekolah Rakyat Kejawan berupaya menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing anak agar mereka dapat mengikuti proses belajar dengan lebih baik.
Dari itu saya yakin bahwa sistem pendidikan perlu memberi ruang yang lebih luas bagi pendekatan pembelajaran yang inklusif dan beragam. Dengan dukungan yang tepat, setiap anak memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai potensi yang dimilikinya.
Adan jenjang apa saja di Sekolah Rakyat Kejawan?
Di sini yang kami dampingi ada dari SD sampai SMA, bahkan sampai kuliah. Memastikan bahwa mendampingi mereka terus agar bisa kuliah sampai selesai.
Tentang Sekolah Rakyat (SR) yang digagas dan dibiayai oleh pemerintah apa tanggapan Mbak?
Secara garis besar itu bagus ya programnya. Tapi tidak tepat. Belum saatnya. Sebenarnya, pemerintah lebih baik memperbagus, meningkatkan kualitas sekolah-sekolah umum agar rasa keadilan mendapatkan pendidikan bisa diterima oleh seluruh anak-anak Indonesia. Jadi, perbanyaklah sekolah-sekolah, terutama di daerah-daerah. Sehingga anak-anak itu bisa mengakses sekolah dengan mudah daripada dia bikin sekolah rakyat. Itu satu.
Yang kedua, tentang peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kita, SDM kita, lebih baik juga itu dipakai untuk mereka-mereka yang cerdas tapi tidak mampu melanjutkan kuliah. Sekarang berapa sih jumlah anak-anak yang lulus S1 di Indonesia? Berapa sih yang S2? Kita kalah jauh dari negara luar. Nah, seharusnya itu lebih tepat untuk meningkatkan kualitas IPM-nya, memperbanyak membantu anak-anak kuliah yang nggak mampu, jadi dia bisa kuliah bahkan kalau bisa kuliah gratis.
Terus yang ketiga transparansi. Hingga saat ini kita tidak tahu, masyarakat tidak tahu berapa dana yang dipakai per anak dari anggaran yang Kementerian Sosial jalankan di masyarakat.
Dan apakah sekolah rakyat ini bisa sustainable? Paling cuma kebijakan politis. Nanti ganti presiden juga sudah selesai nggak akan dilanjut. Karena kritik buat Indonesia adalah kalau punya program pendidikan termasuk pergantian kurikulum tidak didasarkan pada analisa kondisi by data dengan kurikulum yang sebelumnya. Apakah bagus? Apakah kurang? Kalau bagus apa yang dilanjut? Kalau kurang apa yang ditambahi? Tidak. Tidak ada analisa tentang itu dan tidak pernah di publish kepada masyarakat.
Kebijakan perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia hanya dibuat atas dasar politis. Setiap menteri membuat kebijakan sendiri. Setiap presiden—CC menteri pendidikannya—membuat kebijakan sendiri yang mungkin mereka anggap sebagai sesuatu prestise dari kabinet itu sehingga pendidikan kita berjalan di tempat selama 50 tahun terakhir. Tidak ada kemajuan.
Menurut Mbak apa plus minus SR itu? Ada sistem asrama, dan ada 3 jenjang pendidikan sekaligus.
Kalau seharusnya, kalau itu benar-benar sejalan dan sustainable sampai terus, iya. Itu benar-benar mendampingi dengan benar. Memberikan kesempatan kepada anak-anak dari yang tidak mampu untuk memastikan bahwa mereka bisa terus mendapatkan fasilitas pendidikan, wajib belajar, itu plusnya. Minusnya, itu tadi yang saya bilang di atas tadi. Tidak ada jaminan sustainable-nya.
Visi SR adalah untuk memutus transmisi kemiskinan lewat pendidikan, dan mencetak agen perubahan pada setiap keluarga miskin melalui pendidikan. Menurut Mbak, sebagai pengajar di akar rumput, adakah resep ampuh agar visi tersebut benar-benar terwujud?
Ya yang pasti kualitas kurikulumnya, kemudian pendampingannya. Jadi kurikulum yang diterapkan harus sesuai dengan kompetensi si anak, harus sesuai dengan bakat dan minat anak. Karena bakat dan minat anak itu berbeda-beda. Jadi memastikan bahwa pendidikan yang didapatkan anak-anak itu benar-benar bisa mereka pakai untuk merubah hidup mereka dan membuat mereka punya skill yang mereka bisa terserap di dunia kerja. Atau mereka bisa menjadi startup, menciptakan kerja sendiri, itu saya rasa susahnya karena fasilitas pemerintah tidak full mendukung seperti itu.
Kemudian mereka di asramakan, dibina, nah itu seharusnya banyak hal yang mereka bisa dapatkan di situ. Perilaku, sistem nilai yang mengubah cara pandang mereka, mengubah cara hidup mereka sehingga mereka menjadi generasi yang tangguh dan siap di masa depan. Dan itu membutuhkan waktu yang tidak cuma setahun, dua tahun, tiga tahun atau satu periode presiden. Itu adalah hal yang harus dilanjutkan terus. Tidak bisa itu hanya incidensius atau satu kepengurusan presiden. Pendidikan bisa kita lihat hasilnya setelah kita lihat lima tahun dari lulusan pertama jadi apa mereka.
Nah, apakah saya bisa menilai berhasil apa nggak sekolah rakyat ini? Kalau ini kebijakan politik, apakah ada jaminan dari pemerintah saat ganti presiden ini dilanjutkan? Kalau ada jaminan, mungkin saya bisa jawab hasilnya apa. Tapi kalau enggak ada jaminan, percuma saja saya bicara hanya di atas kertas, hanya teori. Percuma di omongkan karena tidak ada faktanya. Saya tidak mau berbicara tentang idealnya adalah seperti ini, tidak ada idealnya sebelum ada kepastian bahwa kegiatan ini bisa berlanjut. Karena pendidikan, pemberdayaan itu sebuah aktivitas jangka panjang dan baru bisa kita lihat hasilnya.
Syarat siswa SR harus dari keluarga miskin ekstrim, wajib tinggal di asrama. Mbak setuju?

Ya saya setuju konsep seperti itu. Artinya memberikan kesempatan dari anak-anak yang tidak mampu, yang nggak mau sekolah untuk mendapat perlakuan khusus sehingga mereka bisa bersekolah. Kemudian metodenya saja yang bisa kita lihat hasilnya, tepat atau tidak.
Sebenarnya itu bagus tapi tidak pada tempatnya. Seharusnya fasilitas itu diberikan saja di sekolah-sekolah umum bahwa ada bebas biaya untuk anak-anak itu, ada fasilitas, ada perlakuan. Jadi tetap di akseskan ke sekolah umum. Pemerintah harus betulkan fasilitas sekolah-sekolah. Pemerintah belum bisa menjalankan amanat dari UUD 45 bahwa pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan anak-anak miskin sampai sekarang ini belum terjadi, malah bikin sekolah rakyat.
Sekarang sejauh mana, kita lihat di daerah pelosok 3T apakah sekolah rakyat bisa menjangkau di situ? Enggak. Paling cuma beberapa, itu pun juga dipoles saat pemerintah akan berkunjung terus dibuat-buat.
Jadi sebenarnya konsepnya saya setuju, tapi kalau diterapkan saat ini saya tidak setuju, benar-benar tidak setuju. Dananya lebih baik dipakai untuk peningkatan kualitas sekolah-sekolah dan peningkatan skill para guru, perbaikan infrastruktur/bangunan, memastikan bahwa seluruh Indonesia, seluruh pulau, anak-anak adil mendapatkan berpendidikan, mendapatkan haknya untuk bersekolah. Sekolah rakyat tidak menjawab dan bukan solusi atas yang terjadi di masyarakat kita, di masyarakat menengah ke bawah. Saya ada di lapangan, saya tahu sendiri apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
Kalau mau memberi usul kepada Kemensos/pemerintah yang mengelola SR, untuk sempurnanya program tersebut, Mbak usul apa? Kurikulum, pengajarnya atau pendanaan?
Kalau diminta usul dibubarkan saja programnya. Program itu nggak usah ada, tapi dananya dipakai untuk memastikan bahwa anak-anak miskin bisa bersekolah, bahkan bisa kuliah, di situ aja.
Jadi dihapus saja program sekolah rakyat. Itu bukan solusi atas terpuruknya pendidikan Indonesia sampai saat ini. Jadi saya sedih banget itu.
Presiden sekarang ini tidak membuat maju pendidikan, justru menarik mundur pendidikan Indonesia. Mereka mempertaruhkan masa depan anak-anak kita dengan program-programnya nggak jelas, yang tidak memberikan dampak apapun pada peningkatan kualitas pendidikan, baik secara SDM maupun hal-hal yang mendukung pendidikan, infrastruktur, bangunan, kurikulum, kompetensi guru dan sebagainya. Itu yang bikin saya yang di bawah sedih.
Saya itu bagian dari masyarakat yang berusaha membantu pemerintah agar anak-anak disini bisa mengakses, bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Pemerintah seakan-akan tidak melihat itu. Mereka tidak memberikan rasa keadilan kepada anak-anak, mereka tidak mendengarkan. Mereka dari atas bikin saja usulan tanpa menganalisa, tanpa melihat di lapangan kebutuhan yang sebenarnya. Jadi mereka bikin kebijakan dari atas tanpa ada analisa dari bawah. Karena mereka cuma senang saja bikin itu, karena mereka punya banyak keuntungan, tapi tidak memberi keuntungan kepada rakyat Indonesia, terutama anak-anak.
Mbak ingin alumni Sekolah Rakyat Kejawan nanti jadi generasi seperti apa?
Di Sekolah Rakyat Kejawan ini jadi tempat belajar bagi anak-anak juga bagi para pengajarnya yaitu tadi anak-anak mahasiswa. Kita masih terhubung semuanya dari generasi dari angkatan pertama hingga saat ini 2026, itu masih ada grupnya. Dan kita selalu sharing, selalu memantau saat ini mereka jadi apa. Sama dengan pengajarnya. Mahasiswa-mahasiswa yang sudah pernah mengajar di sini itu pun masih terkumpul dalam grup. Jadi kita saling bantu. Pengajar yang sudah jadi dia akan memberikan akses untuk para pengajar yang ada sekarang. Kalau udah lulus ini bisa masuk. Dia juga berusaha membantu bila ada anak-anak sekolah rakyat yang berprestasi dan butuh akses mereka juga bantu.
Harapannya sudah pastilah supaya mereka paling tidak satu, mengalami peningkatan kualitas diri lebih baik dari sebelumnya. Itu aja yang paling saya ingin. Dua, mereka bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya sendiri dan orang tuanya.
Closing Statement
Tolonglah seluruh rakyat Indonesia, terutama juga pemerintah, sadarlah bahwa kita sudah tertinggal jauh dari negara-negara lain. Jadi, seluruh warga, seluruh rakyat Indonesia harus bahu-membahu untuk memperbaiki pendidikan, untuk membuat anak-anak kita benar-benar menjadi generasi emas, tanpa itu kita tidak mungkin bisa mewujudkannya.
***

Terkait
Rini Hartono: Politik Adalah Jalan Memperjuangkan Hak Perempuan
Yunita Djangel: Kepercayaan Perempuan Korban adalah Segala-galanya
Lami dan Ruang Pertama bagi Mitra yang Mencari Pertolongan