9 Juli 2026

Memahami Tubuh Sendiri Adalah Langkah Awal Melindungi Diri

0Shares

Di banyak ruang, perempuan masih sering diajarkan bagaimana menjadi ibu yang baik, istri yang baik, atau anak yang berbakti. Namun, tidak banyak ruang yang benar-benar mengajarkan bagaimana memahami tubuh sendiri, mengenali hak atas kesehatan reproduksi, serta berani mengambil keputusan terhadap tubuhnya sendiri.

Kesadaran itulah yang dibangun melalui Sekolah Gender Suluh Perempuan di Desa Cibokor, Cianjur. Dalam sesi bertema “Kesehatan Reproduksi dan Infeksi Menular Seksual”, dr. Adinda Bunga Syafina, Sp.B mengajak peserta melihat bahwa kesehatan reproduksi bukan sekadar urusan medis, melainkan persoalan hak perempuan.

“Kadang kitanya yang tidak tahu bahwa kita punya hak itu. Padahal negara memiliki berbagai aturan yang menjamin hak-hak perempuan,” ujarnya.

Indonesia telah berkomitmen memenuhi hak kesehatan reproduksi sejak menandatangani ICPD 1994. Komitmen tersebut mencakup kesehatan ibu, keluarga berencana, pencegahan infeksi menular seksual, kesehatan seksual, perlindungan dari kekerasan seksual, deteksi dini kanker, kesehatan reproduksi remaja hingga lanjut usia. Namun, menurut dr. Adinda, tantangan implementasi masih besar.

Ia menegaskan bahwa kesehatan reproduksi berarti perempuan sehat secara fisik, mental, dan sosial sepanjang hidupnya, bukan hanya saat hamil atau melahirkan.

“Hak reproduksi adalah hak yang menjamin kesejahteraan perempuan sepanjang hidupnya, bukan hanya ketika hamil atau melahirkan.”

Dalam paparannya, dr. Adinda juga mengkritisi ketimpangan beban reproduksi yang lebih banyak dipikul perempuan. Beragam metode kontrasepsi hormonal beserta efek sampingnya masih didominasi perempuan, sementara pilihan bagi laki-laki sangat terbatas.

dr. Adinda Bunga Syafina, Sp.B mengajak peserta ‘Sekolah Gender Suluh Perempuan’, Desa Cibokor, Cianjur, Minggu (5/7/2026), untuk mengenali hak-hak kesehatan reproduksi, serta memahami pentingnya deteksi dini, serta mewaspadai penyakit infeksi menular seksual (IMS). Foto: Dok. Suluh Perempuan

“Kalau tidak ada cara lain lagi, yang kalah siapa? Perempuan.”

Ia juga menyoroti praktik sunat perempuan yang menurut dunia medis tidak memberikan manfaat kesehatan dan lebih didorong oleh konstruksi sosial daripada alasan medis.

Selain itu, dr. Adinda menekankan pentingnya perempuan hadir dalam ruang-ruang pengambilan keputusan. Pengalaman biologis perempuan harus menjadi dasar penyusunan kebijakan yang menyangkut cuti hamil, kesehatan reproduksi, perlindungan pekerja perempuan, dan berbagai layanan publik lainnya.

“Makanya penting ada perempuan di posisi-posisi yang bisa menjelaskan apa sih kesulitan kita sebagai perempuan.”

Bagian kedua paparan membahas infeksi menular seksual (IMS). Ia menjelaskan bahwa jutaan kasus baru terjadi setiap tahun dan sebagian besar tidak menunjukkan gejala. Penyakit seperti sifilis, gonore, herpes genital, HPV hingga HIV dapat berdampak serius bagi perempuan maupun bayi apabila tidak terdeteksi sejak dini.

“Sering kali penyakit ini tidak bergejala. Banyak orang tidak menyadari dirinya terkena IMS.”

Ia menjelaskan bahwa HPV merupakan penyebab utama kanker serviks, salah satu penyebab kematian akibat kanker tertinggi pada perempuan. Karena itu, deteksi dini, vaksinasi HPV, serta akses terhadap layanan kesehatan menjadi sangat penting.

Dr. Adinda juga mengingatkan bahwa perilaku seksual yang aman, kesetiaan pada pasangan, dan keberanian memeriksakan diri merupakan langkah pencegahan yang tidak boleh diabaikan. Banyak perempuan baru mengetahui dirinya terinfeksi setelah penyakit berkembang menjadi lebih berat karena gejalanya samar.

Di penghujung sesi, ia mengajak peserta melihat bahwa pengetahuan adalah bentuk perlindungan. Memahami tubuh sendiri bukanlah hal yang tabu, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan, martabat, dan masa depan perempuan.

Melalui Sekolah Gender, Suluh Perempuan terus menghadirkan ruang belajar yang mendorong perempuan mengenali hak-haknya, memahami kesehatan reproduksi secara utuh, serta berani memperjuangkan layanan kesehatan yang adil, aman, dan bebas dari diskriminasi. Pengetahuan yang dimiliki perempuan diharapkan tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi menyebar ke keluarga dan komunitas sehingga semakin banyak perempuan mampu mengambil keputusan yang tepat bagi tubuh dan kehidupannya sendiri.[]

Sukir Anggraeni

0Shares