Perubahan dalam dunia sepak bola putri kini tidak lagi sekadar wacana. Ia bergerak dari kebijakan global hingga praktik nyata di lapangan. Dua perkembangan penting—regulasi baru FIFA dan langkah konkret di tim nasional Indonesia—menunjukkan arah yang sama yaitu membuka ruang lebih luas bagi perempuan dalam kepemimpinan dan ekosistem sepak bola.
Dewan FIFA baru-baru ini menyetujui peraturan penting yang bertujuan meningkatkan representasi perempuan di level tertinggi sepak bola. Kebijakan ini bukan sekadar simbolik, melainkan langkah struktural yang akan membentuk ulang wajah sepak bola perempuan ke depan.
Peraturan baru tersebut mengharuskan setiap tim dalam kompetisi putri FIFA untuk menyertakan setidaknya satu pelatih kepala atau asisten pelatih perempuan. Tidak hanya itu, komposisi staf juga diatur agar lebih inklusif: setidaknya satu tenaga medis perempuan dan dua ofisial perempuan di bangku cadangan tim.
Kebijakan ini akan mulai berlaku pada berbagai turnamen besar, termasuk Piala Dunia Putri U-17, U-20, hingga Piala Dunia Putri FIFA 2027 di Brasil. Dengan cakupan yang luas, regulasi ini menjadi tonggak penting dalam mendorong perubahan sistemik.
Kepala Bidang Sepak Bola FIFA, Jill Ellis, menegaskan urgensi langkah ini.

“Saat ini, jumlah perempuan dalam dunia kepelatihan masih sangat kurang. Kita harus berbuat lebih banyak untuk mempercepat perubahan dengan menciptakan jalur yang lebih jelas, memperluas peluang, dan meningkatkan visibilitas perempuan di pinggir lapangan,” ujarnya.
Data memang menunjukkan kesenjangan yang masih nyata. Pada Piala Dunia Putri FIFA 2023, hanya 12 dari 32 pelatih kepala yang merupakan perempuan. Padahal, perkembangan sepak bola putri secara global meningkat pesat.
Karena itu, FIFA tidak hanya berhenti pada regulasi. Mereka juga mengembangkan strategi jangka panjang yang menggabungkan kebijakan hukum dengan investasi berkelanjutan dalam pendidikan dan pengembangan pelatih perempuan.
Sejak 2021, FIFA telah mendukung 795 pelatih perempuan di 73 asosiasi anggota melalui program beasiswa pendidikan. Selain itu, terdapat program mentorship pelatih elite, beasiswa lisensi UEFA, serta jalur pengembangan khusus bagi pendidik pelatih perempuan.
Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa inklusi tidak cukup hanya dengan aturan—ia membutuhkan ekosistem yang mendukung, berkelanjutan, dan terukur.
Apa yang dirancang di level global itu mulai menemukan bentuk konkret di level nasional, termasuk di Indonesia.
Kehadiran pelatih tim nasional Indonesia, John Herdman, menjadi contoh bagaimana semangat inklusi dapat diterapkan secara nyata dalam praktik sehari-hari tim. Ia tidak hanya fokus pada peningkatan performa, tetapi juga membangun kultur kerja yang lebih terbuka dan setara.

Dalam sesi latihan terbuka timnas Indonesia menjelang FIFA Series 2026, terlihat perubahan mencolok dalam komposisi staf. Herdman melibatkan tiga perempuan dengan peran profesional yang berbeda—sesuatu yang sebelumnya jarang terjadi dalam struktur tim nasional.
Langkah ini menandai pergeseran dari kultur lama yang didominasi laki-laki, menuju pendekatan yang lebih inklusif.
Salah satu sosok penting adalah Maeve Glass, yang bertanggung jawab atas administrasi tim. Perannya sangat krusial: mengatur logistik pemain, mulai dari tiket perjalanan hingga akomodasi tim. Hubungannya dengan Herdman bahkan sudah terjalin selama 15 tahun sejak di tim putri Kanada.

Kehadirannya tidak hanya teknis, tetapi juga emosional. Ia dikenal dengan panggilan “mom” di lingkungan tim—menunjukkan peran kepemimpinan yang berbasis kedekatan dan kepercayaan.
Selain itu, ada Emilia Achmadi, seorang nutrisionis yang memastikan kebutuhan gizi pemain terpenuhi. Perannya terlihat langsung di lapangan, mulai dari distribusi minuman hingga interaksi dengan pemain saat sesi latihan.

Satu perempuan lainnya juga terlibat dalam tim, memperkuat struktur kerja yang lebih beragam dan profesional.
Bagi Herdman, melibatkan perempuan dalam tim bukan sekadar pelengkap, melainkan bagian dari strategi peningkatan performa. Ia percaya bahwa keberagaman perspektif akan memperkaya kualitas kerja tim.
Ia menjelaskan, “Saya membawa tim yang pernah bekerja dengan saya. Mereka memahami metodologi, sistem, kerangka kerja taktis, dan budaya kerja saya. Saya juga berharap mereka yang ahli di bidang masing-masing bisa merangkul budaya Indonesia dan memadukan hal-hal baik dengan staf lokal untuk membantu mengeluarkan yang terbaik dari para pemain.”
Lebih jauh, pengalamannya melatih tim putri Kanada dan Selandia Baru membentuk keyakinannya bahwa perempuan harus mendapatkan kesempatan yang setara dalam sepak bola, termasuk dalam aspek teknis.[]
Sukir Anggraeni, dari berbagai sumber

Terkait
Perempuan, Energi Surya, dan Jalan Baru Ketahanan Energi Pakistan
Dari Fast Fashion ke Hidup yang Lebih Sadar
Puluhan Ribu Pasien Cuci Darah Meninggal Setiap Tahun, KPCDI Desak Perubahan Sistem Layanan Ginjal Nasional