Kekerasan terhadap perempuan bukanlah persoalan yang berdiri sendiri. Ia berakar kuat pada struktur sosial yang timpang—dari relasi kuasa yang tidak setara, norma patriarkal, hingga stigma yang terus melekat pada korban. Dalam banyak kasus, korban justru harus menghadapi penghakiman, disalahkan, bahkan dipaksa menyangkal pengalaman mereka sendiri.
Realitas ini menunjukkan bahwa persoalan tidak berhenti pada pelaku, tetapi juga pada cara masyarakat—termasuk pendamping—memahami dan merespons korban. Praktik pendampingan dan advokasi masih kerap diwarnai bias personal, prasangka, serta keterbatasan perspektif dalam melihat keragaman identitas korban. Padahal, korban datang dari berbagai latar belakang: gender, seksualitas, disabilitas, usia, ras, hingga kondisi sosial.
Situasi ini menjadi alasan pentingnya menghadirkan ruang belajar yang tidak sekadar menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menggugah kesadaran dan mengubah cara pandang. Di sinilah metode Values Clarification and Attitude Transformation (VCAT) menjadi relevan.
VCAT merupakan pendekatan reflektif yang dirancang untuk membantu individu menggali, mengklarifikasi, dan mentransformasi nilai serta sikap personal. Metode ini tidak berhenti pada pemahaman teoritis, tetapi mendorong perubahan nyata dalam cara berpikir dan bertindak.
Pendekatan Values Clarification and Attitude Transformation (VCAT) menjadi penting untuk membantu peserta mengenali nilai, merefleksikan sikap, serta membangun perspektif inklusif dan empatik.
Melalui proses refleksi diri, peserta diajak untuk mengenali bias yang selama ini mungkin tidak disadari. Dalam ruang aman yang disediakan, mereka dapat secara jujur mengakui prasangka tanpa takut dihakimi. Ini menjadi langkah awal untuk membangun perubahan yang lebih mendalam.
Tidak hanya itu, VCAT juga mendorong transformasi sikap—dari yang semula menghakimi menjadi lebih empatik dan terbuka terhadap keragaman. Fokusnya jelas: perbedaan nilai personal tidak boleh memengaruhi kualitas layanan atau perlakuan terhadap orang lain, terutama mereka yang berada dalam posisi rentan.
Pendekatan ini juga diterapkan secara praktis dalam berbagai sektor. Dalam pendidikan, VCAT membantu tenaga pendidik memahami bahwa inklusi bukan sekadar menerima, tetapi menciptakan ruang belajar yang adil dan adaptif bagi semua. Sementara dalam layanan kesehatan, metode ini mendorong praktik yang bebas stigma, khususnya dalam isu-isu sensitif seperti kesehatan reproduksi dan HIV.
Melihat urgensi tersebut, Suluh Perempuan menyelenggarakan workshop VCAT sebagai bagian dari proses kaderisasi ideologis. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat pemahaman tentang Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi, tetapi juga menambahkan dimensi etis, reflektif, dan transformatif dalam kerja-kerja pendampingan dan advokasi.
“Workshop ini menjadi bagian dari proses kaderisasi Suluh Perempuan untuk memperkuat perspektif korban dalam advokasi dan pendampingan,” ujar Jung Nurshaba Natsir mewakili Suluh Perempuan.

Jung menjelaskan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar pelatihan, workshop ini diarahkan untuk menumbuhkan keberpihakan yang kuat terhadap korban kekerasan—tanpa terkecuali. Peserta didorong untuk mengidentifikasi nilai dan bias personal, meningkatkan kesadaran terhadap stigma dan diskriminasi, serta mengembangkan empati kritis terhadap pengalaman korban.
“Tujuan akhirnya adalah membentuk kader yang tidak hanya memahami isu secara konseptual, tetapi juga memiliki keberanian moral untuk berpihak dan bertindak secara adil. Melalui VCAT, inklusi tidak lagi berhenti sebagai wacana. Ia menjadi nilai yang hidup, yang diwujudkan dalam sikap, cara berpikir, dan praktik sehari-hari dalam mendampingi korban,” pungkas Jung.[]
Sukir Anggraeni

Terkait
Mengawal Keadilan Andrie Yunus dan Melawan Impunitas
Solidaritas untuk Petani Aceh yang Dikriminalisasi
Halalbihalal: Merajut Silaturahim dan Menguatkan Empati