11 Agustus 2026

Merdeka di Ruang Digital Berarti Aman dan Terlindungi

1Shares

Kemerdekaan di era digital bukan sekadar soal kebebasan mengakses dan menggunakan teknologi. Bagi Evie Sagita, seorang pendidik dan Kepala Sekolah SD Harapan Bunda Kota Tangerang Selatan, kemerdekaan juga berarti merasa aman ketika belajar, bekerja, berbagi gagasan, dan berkarya di ruang digital. Perempuan, menurutnya, harus dapat memanfaatkan teknologi tanpa dihantui rasa takut menjadi korban pelecehan, perundungan, maupun penyalahgunaan data pribadi.

Pandangan tersebut menjadi penting karena saat ini ruang digital sudah jadi bagian hidup sehari-hari anak dan perempuan. Media sosial, grup percakapan, bermacam platform digital dapat menjadi ruang untuk belajar dan membangun relasi, tetapi pada saat yang sama juga membuka celah terjadinya berbagai bentuk eksploitasi. Di lingkungan sekolah yang ia pimpin, Evie menemukan bahwa persoalan tersebut dapat bermula dari hal-hal yang kerap dianggap sepele, seperti saling mengejek di grup percakapan, menyebarkan foto teman tanpa izin, hingga mudah mempercayai orang yang baru dikenal melalui internet.

Bagi Evie, persoalan ini tidak cukup dijawab dengan melarang anak menggunakan hape/teknologi. Yang dibutuhkan adalah pendidikan digital yang membuat anak dan perempuan mampu mengenali risiko, menjaga diri, berpikir kritis, serta berani mengambil tindakan ketika menghadapi ancaman di ruang digital. Ia menekankan pentingnya memahami perlindungan data pribadi, mengenali modus penipuan, menggunakan kata sandi yang kuat, mengaktifkan verifikasi dua langkah, serta berani melaporkan akun yang melakukan pelecehan atau tindakan mencurigakan.

Sebagai pendidik yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan sejak 2007, Evie melihat sekolah memiliki peran penting dalam membangun benteng perlindungan bagi anak. Sekolah, menurutnya, tidak cukup hanya mengajarkan kecakapan menggunakan teknologi, tetapi juga perlu menanamkan etika, tanggung jawab, dan keberanian untuk bercerita ketika anak menghadapi persoalan di media sosial. Kolaborasi antara guru dan orang tua juga menjadi bagian penting agar perlindungan anak berjalan seiring antara sekolah dan rumah.

Dan dalam rangkaian serial Suara Perempuan Memaknai Kemerdekaan”, Tejo Priyono dari Suluh Perempuan mewawancarai Evie Sagita mengenai makna kemerdekaan di ruang digital, kerentanan perempuan dan anak terhadap eksploitasi digital, pentingnya literasi digital, serta peran sekolah dan keluarga dalam menciptakan ruang digital yang lebih aman. Berikut wawancaranya.

Apa makna kemerdekaan bagi Ibu, khususnya dalam konteks kebebasan dan keamanan perempuan di ruang digital saat ini?

Menurut saya, kemerdekaan saat ini bukan hanya tentang bebas menggunakan teknologi, tetapi juga merasa aman saat berada di dunia digital. Perempuan harus bisa belajar, bekerja, berbagi ide, dan berkarya tanpa rasa takut menjadi korban pelecehan, perundungan, atau penyalahgunaan data pribadi. Jadi, kemerdekaan di era digital adalah ketika kita bisa memanfaatkan teknologi dengan tenang, percaya diri, dan tetap terlindungi.

Sebagai seorang pendidik, ancaman atau bentuk eksploitasi digital apa yang paling sering Ibu temui menimpa anak-anak atau sesama perempuan di lingkungan sekolah?

Yang paling sering saya temui adalah penggunaan media sosial yang kurang bijak. Misalnya, saling mengejek di grup percakapan, menyebarkan foto teman tanpa izin, atau mudah percaya pada orang yang baru dikenal melalui internet. Walaupun terkadang dianggap bercanda, dampaknya bisa membuat anak kehilangan rasa percaya diri bahkan mengalami tekanan psikologis. Karena itu, kami selalu mengingatkan siswa agar berpikir sebelum mengunggah atau membagikan sesuatu.

Mengapa perempuan dan anak muda sering kali menjadi kelompok yang paling rentan terhadap eksploitasi digital?

Menurut saya, karena mereka adalah pengguna internet yang sangat aktif. Mereka cepat mengikuti tren dan senang berinteraksi di media sosial. Sayangnya, tidak semua memahami risiko yang ada. Pelaku kejahatan digital sering memanfaatkan rasa penasaran, kepercayaan, atau keinginan seseorang untuk diterima dalam pergaulan. Itulah sebabnya edukasi sejak dini sangat penting.

Langkah konkret atau digital literacy skill apa yang wajib dikuasai perempuan agar benar-benar merdeka dari jebakan eksploitasi di dunia maya?

Hal pertama adalah memahami cara menjaga data pribadi. Jangan mudah membagikan informasi penting atau mengunggah sesuatu yang bisa disalahgunakan. Selain itu, perempuan perlu belajar mengenali modus penipuan, membuat kata sandi yang kuat, mengaktifkan verifikasi dua langkah, dan berani melaporkan akun yang melakukan pelecehan atau tindakan yang mencurigakan. Yang paling penting adalah selalu berpikir kritis dan tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya.

Bagaimana peran sekolah dan tenaga pendidik dalam membangun “benteng pertahanan” agar siswa tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga berdaya dan terlindungi dari eksploitasi digital?

Menurut saya, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab. Guru perlu menjadi teladan dalam beretika di dunia digital, sekaligus membuka ruang diskusi agar siswa berani bercerita jika mengalami masalah di media sosial. Kami juga perlu bekerja sama dengan orang tua agar pengawasan terhadap penggunaan gawai dapat berjalan seiring antara sekolah dan rumah. Dengan begitu, siswa tidak hanya pintar menggunakan teknologi, tetapi juga mampu melindungi diri dan menghargai orang lain di ruang digital.

***

1Shares