28 September 2022

Malala Yousafzai Pejuang Hak Pendidikan bagi Perempuan

Pidato Malala bertepatan ulang tahunnya yang ke-16 di Forum Majelis Kaum Muda PBB

0Shares

Tanggal 12 Juli, bertepatan dengan Hari Koperasi Indonesia, PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) menetapkan sebagai Hari Malala di tahun 2013. Saya tertarik dengan isi pidato Malala Yousafzai, untuk itu saya ingin berbagi kepada Sahabat Setia Catatan Tari Adinda. Tetapi sebelumnya, saya ingin menjelaskan sedikit tentang Malala, seorang murid sekolah (pelajar) yang memperjuangkan hak anak perempuan untuk mendapatkan pendidikan.  

Nama lengkapnya, Malala Yousafzai. Lahir di Mingora, Distrik (Lembah) Swat, Pakistan, 12 Juli 1997. Ayahnya bernama Ziauddin Yousafzai, dan ibunya bernama Tor Pekai Yousafzai. Memiliki dua adik laki-laki: Khushal dan Atal. Dari suku Pusthun. Sebagaimana mayoritas orang Pakistan, mereka penganut agama Islam Sunni. (I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban – 2013)

Pada 9 Oktober 2012, Ia ditembak oleh militan Taliban. Waktu itu usianya 15 tahun. Penembakan itu dilakukan, sebab Malala seorang anak perempuan yang berani menentang Taliban. Sikapnya dianggap terlalu kritis. Saat itu Taliban di bawah pimpinan Maulana Fazlullah yang menguasai Lembah Swat melarang semua anak perempuan sekolah. Dua peluru diluncurkan, satu bersarang di kepala dan satu lagi di lehernya. Setelah beberapa hari dirawat di sebuah rumah sakit militer di Peshawar, Pakistan, ia diterbangkan ke Inggris untuk menjalani operasi dan perawatan intensif yang jauh lebih baik, di Rumah Sakit Queen Elizabeth, Birmingham.

Penembakan yang nyaris merenggut nyawanya itu, membuat Malala menjadi ikon perlawanan dunia untuk melawan kelompok ekstremis. Malala kemudian mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian yang diumumkan oleh Panitia Nobel di Norwegia, pada Jumat, 10 Oktober 2014. Peraih Nobel termuda untuk semua kategori sepanjang sejarah.


Pada 12 Juli 2013, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-16, Malala berpidato di Forum Majelis Kaum Muda di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat. Pada saat itulah tanggal 12 Juli ditetapkan sebagai Hari Malala. Ia didaulat menjadi ikon pendidikan global oleh Perserikatan Bangsa Bangsa. Dan bagaimana isi pidato Malala hingga beberapa kali terhenti oleh gemuruh tepuk tangan? Bahkan usai pidato, semua orang termasuk Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon melakukan standing ovation untuknya. Berikut teks lengkapnya yang saya ambil dari TEMPO.CO, New York. Semoga bisa menginspirasi kita semua … 

***

Bismillah Arrahman Arrahim

Atas nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Yang terhormat Sekjen PBB, Bapak Ban Ki Moon. Yang terhormat Presiden Majelis Umum PBB, Bapak Vuk Jeremic. Yang terhormat Utusan Khusus PBB untuk Pendidikan Global, Bapak  Gordon Brown.

Para tetua dan saudara-saudara: Assalamu’alaikum.

Hari ini adalah kehormatan bagi saya untuk bisa bicara lagi setelah sekian lama. Berada di sini, di antara hadirin yang mulia, adalah moment yang luar biasa dalam hidup saya.

Saya juga merasa amat terhormat hari ini karena saya mengenakan syal dari Benazir Bhutto yang telah sahid.

Saya tidak tahu harus mulai dari mana pidato ini. Saya tidak tahu orang mengharapkan saya bicara apa. Pertama-tama,  terima kasih Tuhan, karena kita semua diciptakan sama. Terima kasih juga pada semua orang yang telah berdoa untuk kesembuhan saya yang cepat dan hidup saya yang baru.

Saya tidak bisa percaya betapa besar cinta yang diberikan pada saya. Saya menerima ribuan kartu ucapan semoga cepat sembuh dari seluruh penjuru dunia.

Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk anak-anak yang dengan dunianya yang polos menguatkan saya. Terima kasih untuk para tetua yang doanya menguatkan saya.

Saya juga ingin berterima kasih pada para  perawat, dokter dan staf rumah sakit di Pakistan dan di Inggris yang telah merawat saya. Juga terima kasih pada pemerintahan Uni Eropa yang telah membantu saya sembuh dan menemukan kembali kekuatan saya.

Saya sepenuhnya mendukung  inisiatif Sekjen PBB, Ban Ki Moon, yakni Global Education First Initiative. Juga kerja-kerja Utusan Khusus PBB, Gordon Brown dan Presiden Majelis Umum PBB, Vuk Jeremic. Saya berterima kasih pada kepemimpinan mereka dan pada upaya mereka untuk terus menerus membantu dan memberi. Mereka juga terus-menerus memberikan inspirasi agar kita terus bekerja.

Saudara-Saudariku …

Ingatlah satu hal, Hari Malala bukanlah hari saya. Hari ini adalah hari ketika semua perempuan, anak laki-laki dan anak perempuan, bersuara untuk hak mereka. Hari untuk ratusan aktivis HAM dan pejuang sosial yang tak hanya bicara untuk diri mereka tapi juga berjuang untuk mewujudkan perdamaian, pendidikan dan kesetaraan.

Ada ribuan orang yang dibunuh teroris dan jutaan orang cedera. Saya hanya salah satu dari mereka. Jadi di sini hari ini saya berdiri: satu anak perempuan di antara yang lain. Saya bicara bukan atas nama saya sendiri, tapi atas nama orang lain yang tidak punya suara yang bisa didengar, mereka yang berjuang untuk haknya. Hak untuk hidup dalam damai, hak untuk hidup secara bermartabat, hak untuk memperoleh kesempatan yang sama, hak untuk mendapat pendidikan.


Kawan-kawan …
Pada 9 Oktober 2012, saya ditembak Taliban di pelipis kiri saya. Mereka juga menembak teman-teman saya. Mereka berpikir peluru itu akan membungkam kami. Tapi mereka gagal.

Dari kesunyian itu, muncul ribuan suara lain. Teroris berpikir mereka bisa menghentikan ambisi saya dan mengubah tujuan hidup saya. Tapi hingga kini tak ada yang berubah dalam hidup saya. Kecuali ini: kelemahan, ketakutan dan ketakberdayaan mati. Kekuatan, tenaga dan keberanian lahir.

Saya adalah Malala yang sama. Ambisi saya masih sama. Harapan saya masih sama. Mimpi saya masih sama.

Saudara-Saudariku …
Saya tidak bermusuhan dengan siapapun. Saya di sini tidak untuk menyerukan balas dendam pada Taliban atau semua kelompok teroris manapun. Saya di sini untuk bicara tentang hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan.

Saya juga mau pendidikan untuk anak-anak Taliban dan anak-anak ekstremis yang lain. Saya bahkan tidak membenci Taliban yang menembak saya. Bahkan jika ada pistol di tangan saya dan dia ada di depan saya, saya tidak akan menembaknya.

Ini adalah welas asih yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, Yesus Kristus dan Budha. Ini adalah warisan perubahan yang diturunkan pada saya oleh Martin Luther King, Nelson Mandela dan Muhammad Ali Jinnah. Ini adalah filosofi anti kekerasan yang diajarkan Gandhi, Bacha Khan, dan Bunda Teresa.

Ini adalah semangat memberi maaf yang diajarkan ayah dan ibu saya. Ini adalah apa yang dibisikkan jiwa saya pada saya, “Damailah dan cintailah semua orang.”

Saudara-Saudariku …
Kita menyadari pentingnya cahaya ketika melihat kegelapan. Kita sadar pentingnya bersuara ketika kita dibungkam. Begitu juga, di Swat, di utara Pakistan, kami sadar pentingnya pulpen dan buku ketika kami melihat senjata api.

Ada yang mengatakan, pulpen lebih perkasa dari pedang. Itu benar. Para ekstremis lebih takut pada buku dan pena. Kekuatan pendidikan menakutkan mereka. Mereka takut pada perempuan, kekuatan suara perempuan menakutkan mereka.

Itulah kenapa mereka menembak 14 murid  tak bersalah belum lama ini di Quetta. Itu kenapa mereka membunuh guru dan pekerja polio perempuan di Khyber Pakhtunkhwa. Itu kenapa mereka meledakkan sekolah setiap hari.

Karena mereka takut pada perubahan, takut pada kesetaraan, yang akan dibawa pendidikan ke dalam masyarakat kita.

Saya ingat ada seorang anak laki-laki di sekolah saya yang ditanya jurnalis, “Kenapa Taliban sangat membenci pendidikan?”

Dia menjawab dengan sederhana. Sambil menunjuk bukunya, dia berkata, “Seorang Taliban tidak tahu apa isi buku ini. Mereka pikir Tuhan hanya mahluk kerdil konservatif yang akan mengirim perempuan ke neraka hanya karena mereka pergi ke sekolah.”

Para teroris telah menyalahgunakan nama Islam dan warga Pashtun untuk kepentingan mereka sendiri.

Pakistan adalah negara demokrasi yang cinta damai, orang Pashtun ingin pendidikan untuk anak-anak mereka, dan Islam adalah agama yang mengajarkan perdamaian, kemanusiaan dan persaudaraan. Islam mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya hak anak, tapi juga tugas dan tanggung jawab seorang anak.

Bapak Sekjen PBB …
Perdamaian dibutuhkan untuk keberlangsungan pendidikan. Di banyak tempat, di Pakistan dan Afganistan, terorisme, perang dan konflik membuat anak tidak bisa pergi ke sekolah. Kami capek dengan semua perang ini.

Perempuan dan anak menderita dalam segala bentuk, di banyak tempat di dunia. Di India, anak-anak miskin dan tak berdosa jadi korban perburuhan anak, banyak sekolah dirusak di Nigeria, rakyat Afganistan menderita di bawah ekstremisme selama berpuluh tahun.

Gadis-gadis dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan dipaksa kawin di usia muda. Kemiskinan, ketakpedulian, ketidakadilan, rasisme, dan perampasan hak dasar, adalah persoalan-persoalan utama yang dihadapi lelaki dan perempuan di dunia ini.

Saudara-Saudariku …
Hari ini saya fokus pada hak perempuan dan pendidikan untuk anak perempuan, karena mereka yang paling menderita saat ini.

Ada saat ketika perempuan yang menjadi aktivis sosial meminta lelaki berjuang untuk hak-hak mereka. Tapi kali ini, kita akan berjuang sendiri.

Saya tidak mengusir para lelaki dari perjuangan untuk hak perempuan, tapi saya ingin fokus pada para perempuan, yang harus menjadi independen dan berjuang untuk hak mereka sendiri.

Saudara-Saudariku …
Kini tiba saatnya untuk meneriakkan tuntutan kita. Hari ini, kita menyerukan pada para pemimpin dunia, untuk mengubah kebijakan strategis mereka pada usaha mencapai perdamaian dan kesejahteraan.

Kami menyerukan pada para pemimpin dunia, agar semua perjanjian damai harus melindungi hak perempuan dan anak. Perjanjian yang mengabaikan hak perempuan, tidak bisa diterima.

Kami menyerukan pada pemerintahan di seluruh dunia, untuk mengadakan pendidikan gratis dan wajib untuk semua anak tanpa kecuali.

Kami menyerukan pada pemerintahan di seluruh dunia, untuk terus berperang melawan terorisme dan kekerasan, serta melindungi anak dari kekejaman dan mara bahaya.

Kami menyerukan pada negara-negara maju, memperluas kesempatan pendidikan untuk anak perempuan di negara-negara berkembang.

Kami menyerukan pada  semua masyarakat dan komunitas, untuk bersikap toleran. Untuk menolak prasangka berdasarkan kasta, keyakinan, sekte, agama, warna kulit atau gender. Untuk memastikan ada kebebasan dan kesetaraan bagi perempuan, sehingga mereka bisa sukses.

Kita tidak akan bisa sukses bersama, kalau sebagian dari kita dibelenggu dan tak bisa maju.

Kami menyerukan pada perempuan di seluruh dunia, untuk berani. Untuk menyambut kekuatan di dalam diri mereka dan menyadari potensi mereka sepenuhnya.

Saudara-Saudariku …
Kami mau sekolah dan pendidikan untuk masa depan yang cerah bagi anak-anak.

Kita akan meneruskan perjalanan kita untuk mewujudkan perdamaian dan pendidikan. Tidak ada yang bisa menghentikan kita.

Kita akan terus bicara untuk hak-hak kita. Kita  akan mengubah keadaan dengan suara kita. Kita percaya pada kekuatan kata-kata kita. Kata-kata kita bisa mengubah dunia kalau kita semua bersama, bersatu untuk pendidikan.

Kalau kita mau mencapai cita-cita kita, mari kita mempersenjatai diri dengan pengetahuan, dan mari membuat perisai dari persatuan dan kebersamaan kita.

Saudara-Saudariku …
Kita tidak boleh lupa bahwa jutaan orang hari ini menderita akibat kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakpedulian.

Kita tidak boleh lupa, ada jutaan anak yang tak bisa bersekolah.

Kita tidak boleh lupa, saudara-saudara kita sedang menanti masa depan yang damai dan lebih baik.

Jadi, marilah kita kobarkan perang global memberantas buta huruf, kemiskinan dan terorisme. Mari kita teriakkan tuntutan, mari kita gunakan buku dan pulpen kita, senjata kita yang paling utama.

Satu murid, satu guru, satu buku, satu pena, bisa mengubah dunia. 

Pendidikan adalah satu-satunya solusi. Pendidikan harus diutamakan. Terima kasih.

*Tulisan ini ditulis oleh Alm. Tari Adinda (Bendahara API Kartini) pada 11 Juli 2015 di Tebet Dalam, Jakarta Selatan.

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai