17 April 2024

Gelombang-Gelombang Feminisme (1)

0Shares

Apa Itu Gelombang Feminisme?

Selama beberapa generasi, gerakan feminis terus menerus maju ke depan barisan mengadvokasi hak-hak perempuan. Banyak cendekiawan dan aktivis berasumsi bahwa ada tiga “gelombang” feminisme yang berbeda. Namun, dengan “Gerakan #MeToo“, itu telah menandai gelombang keempat kontemporer. Namun, sejarah gerakan feminis jauh lebih kompleks dari itu semata.

Diksi “gelombang” yang mewakili berbagai gelombang-gelombang feminisme dimulai pada tahun 1968 ketika Martha Weinman Lear menerbitkan sebuah artikel di New York Times berjudul “The Second Feminist Wave“.

Artikel Lear menghubungkan gerakan hak pilih abad ke-19 dengan gerakan perempuan selama tahun 1960-an. Terminologi baru ini dengan cepat menyebar dan menjadi cara populer untuk mendefinisikan feminisme.

Meskipun diksi “gelombang feminis” ini membantu orang untuk membedakan antara era aktivisme perempuan yang berbeda, tidak mungkin untuk secara akurat menentukan tanggal tertentu yang memulai atau mengakhiri setiap gelombang feminisme. Nyatanya, setiap era sejarah diilhami oleh tradisi panjang aktivisme yang beragam.

Asal Usul Gerakan Feminisme

Gerakan feminis gelombang pertama terkait dengan Konvensi Hak Perempuan formal pertama yang diadakan pada tahun 1848. Namun, feminis gelombang pertama dipengaruhi oleh aktivisme kolektif perempuan dalam berbagai gerakan reformasi lainnya. Secara khusus, feminis menarik wawasan strategis dan taktis dari perempuan yang berpartisipasi dalam Revolusi Perancis, Gerakan Temperance, dan Gerakan Abolisionis.

Dari Revolusi Perancis

Revolusi Prancis menandai awal dari partisipasi terorganisir perempuan dalam politik” ~ Sejarawan R.B. Rose dalam “Feminisme, Perempuan, dan Revolusi Prancis.”

Ketika Revolusi Prancis dimulai pada 1789, perempuan sering berada di garis depan untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Meski dianggap sebagai “warga negara pasif”, para perempuan ini berperan aktif dalam iklim politik negaranya.

Pada tanggal 5 Oktober 1789, ribuan perempuan Prancis bersenjata berbaris dari pasar di Paris ke Istana Versailles. Mereka menuntut agar raja mengatasi masalah ekonomi mereka dan kekurangan pangan yang drastis terjadi di seluruh Prancis. Sayangnya, pertarungan mereka masih jauh dari selesai dan jauh dari segi kesiapan untuk memiliki nilai tawar.

Beberapa bulan sebelumnya, para reformis berhasil membujuk Majelis Konstituante Nasional Prancis untuk mengadopsi “Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga Negara.” Dokumen ini memberikan hak kewarganegaraan kepada berbagai anggota populasi. Sayangnya, masih mengecualikan perempuan dan kelompok minoritas lainnya dari kewarganegaraan.

Ketika dokumen ini menjadi pembukaan Konstitusi Prancis pada tahun 1791, banyak perempuan mengalihkan fokus mereka untuk memperoleh kewarganegaraan dan persamaan hak. Salah satu perempuan ini, penulis naskah Olympes de Gouges, menulis “Deklarasi Hak Perempuan dan Warga Negara Perempuan” pada tahun 1791.

Deklarasi Gouges dimulai sebagai berikut: “Perempuan dilahirkan bebas dan setara dengan laki-laki dalam hukum. Perbedaan sosial dapat didirikan hanya pada utilitas umum.”

Pernyataannya juga memuat berbagai hak yang harus dimiliki oleh laki-laki dan perempuan. Dokumen ini dan aktivisme kolektif perempuan dalam Revolusi Prancis menjadi sumber inspirasi bagi feminis gelombang pertama.

To be continued…

Kita lanjutkan dalam edisi selanjutnya “Gelombang-gelombang Feminisme”

***(MJ)

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai