Di balik helm dan jaket hijau yang setiap hari melintas di jalanan, ada sosok perempuan tangguh bernama Lily Pujiati. Lahir di Blitar pada 5 Oktober 1972, Lily bukan sekadar pengemudi ojek online, melainkan juga Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), organisasi yang memperjuangkan hak-hak pengemudi transportasi daring, kurir, dan pekerja sektor transportasi lainnya.
Sejak dipilih menjadi ketua pada tahun 2022, Lily aktif mengorganisir perjuangan para pengemudi. Salah satu keberhasilan yang ia kenang adalah ketika SPAI berhasil mendesak pemerintah agar perusahaan aplikasi mewajibkan pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para pengemudi dan kurir online menjelang Idul Fitri 2025.
“Bukan lagi sekadar imbauan, tapi sekarang wajib diberikan dalam bentuk uang tunai,” tegasnya.
Lily menyadari bahwa problem utama driver ojol bukan hanya soal pendapatan, tetapi juga ketidakpastian status kerja. Mereka disebut “mitra” oleh perusahaan aplikasi, namun faktanya sangat bergantung pada sistem dan aturan sepihak. Mulai dari potongan besar, ancaman suspend, hingga beban kerja yang nyaris tanpa batas.
Bagi pengemudi perempuan, beban itu berlipat ganda. Selain harus mengantar order setiap hari, mereka juga tetap memikul tanggung jawab domestik di rumah. “Kadang sedang di rumah, ada pesanan masuk. Kalau ditolak, risikonya bisa kena potong poin bahkan suspend. Benar-benar dilema,” ungkap Lily.
Ia menegaskan bahwa negara harus hadir dengan regulasi yang melindungi, khususnya bagi driver perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga.
Tragedi meninggalnya Affan Kurniawan, seorang driver ojol, menjadi titik balik yang memacu semangat perjuangan. “Kematian Affan harus menjadi desakan kuat agar segera ada payung hukum yang jelas. Status kami sebagai pekerja harus diakui, bukan sekadar mitra,” kata Lily.
SPAI mendesak pemerintah untuk segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang Transportasi Online, termasuk pembatasan potongan maksimal 10% dari pendapatan.
Lily percaya perjuangan ini tidak bisa dilakukan sendirian. SPAI terus berupaya membangun solidaritas dengan mahasiswa dan elemen masyarakat. Menurutnya, pengalaman di Indonesia bahkan menjadi inspirasi bagi gerakan anak muda di Nepal yang muak terhadap korupsi pejabat.
Harapannya jelas: pemerintah dan DPR RI segera mengesahkan regulasi yang adil, memberikan perlindungan hukum, serta memastikan kesejahteraan pengemudi transportasi online di seluruh Indonesia.
“Buruh atau pekerja perempuan juga harus terus berani bersuara, karena hak kita sama dengan laki-laki di ruang publik,” pesan Lily menutup wawancara.(*)
(Sukir Anggraeni)

Terkait
Kanker, Keberanian, dan Makna Hidup yang Dijaga
Perlindungan Anak di Sekolah Terancam Mundur oleh Aturan Baru
Negara Absen di Meja Visum Korban Kekerasan Seksual Anak