28 April 2026

Menumbuhkan Keberpihakan, Merawat Empati, Menuju Advokasi yang Inklusif

0Shares

Workshop Values Clarification and Attitude Transformation (VCAT) yang diselenggarakan oleh Suluh Perempuan bekerja sama dengan Yayasan Inisiatif Perubahan Akses menuju Sehat (IPAS) bukan sekadar ruang belajar biasa. Ia menjadi ruang refleksi yang dalam—tempat para pendamping, aktivis, dan penyintas bertemu, saling mendengar, sekaligus menguji ulang nilai-nilai yang selama ini mereka yakini.

Mengusung tema “Membangun Perspektif Inklusif dan Berpihak pada Korban Kekerasan”, kegiatan ini menjadi bagian dari proses kaderisasi ideologis Suluh Perempuan. Tujuannya tidak hanya memahami Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR), tetapi juga menanamkan dimensi etis, reflektif, dan transformatif dalam kerja-kerja pendampingan.

Sejak awal, workshop ini menegaskan arah berpihak. Bahwa advokasi bukan hanya soal teknik, tetapi juga soal sikap. Sikap bagaimana seorang pendamping memandang korban, memahami pengalaman mereka, dan bersedia berdiri di sisi yang sering kali diabaikan.

Dari Penyintas, Menjadi Penguat Sesama

Dalam sambutannya, Ketua Umum Suluh Perempuan, Siti Rubaidah, membuka ruang dengan kejujuran yang kuat: organisasi ini dibangun oleh para penyintas itu sendiri.

“Aku sendiri dulu penyintas, Ani penyintas, mayoritas kita disini penyintas, ada yang sudah move on dan menjadi survivor, bahkan ada yang jadi paralegal,” ungkapnya.

Pengalaman personal itu bukan hanya latar belakang, tetapi menjadi energi penggerak. Ada yang masih berjuang dengan kasusnya sendiri, namun tetap memilih mendampingi orang lain.

“Ibu Santi itu masih bergelut dengan kasusnya, tapi dia memaksakan diri untuk jadi pendamping, dia tidak ingin jatuh korban-korban lain,” lanjutnya.

Namun ruang seperti ini juga tidak selalu mudah. Rubaidah mengakui bahwa dalam pelatihan sebelumnya, ada peserta yang mengalami triggering—perasaan tidak berdaya yang kembali muncul, bahkan berhari-hari setelah kegiatan.

“Karena peserta adalah korban juga, maka ada yang masih triggering, merasa ketidakberdayaannya muncul,” katanya.

Pengakuan ini penting. Ia menegaskan bahwa proses belajar tentang kekerasan tidak pernah netral—selalu beririsan dengan pengalaman personal, luka, dan ingatan.

Mengenali Nilai, Mengakui Bias

Di sinilah metode VCAT mengambil peran. Ignatia dari IPAS menjelaskan bahwa VCAT adalah metode untuk membantu peserta mengenali nilai-nilai personal yang membentuk cara pandang mereka.

“VCAT itu sebuah metode diskusi untuk menghantarkan kita mengenali nilai-nilai personalnya,” jelasnya.

VCAT Training dengan fasilitator dari IPAS. Jakarta, 18 April 2026. Dok. Suluh Perempuan

Nilai-nilai ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia dibentuk oleh pengalaman hidup, lingkungan, dan berbagai pengaruh sosial yang melekat sejak lama. Karena itu, bahkan di antara para aktivis yang sama-sama mengaku berpihak pada korban, lapisan nilai itu bisa berbeda.

“Mungkin pandangan kita terhadap satu hal kita semua akan bilang berpihak. Tapi kemudian bisa jadi ada layer-layer di mana saya akan lebih susah berpihak,” ujarnya.

Pernyataan ini membuka satu hal penting: keberpihakan tidak selalu otomatis. Ia bisa goyah, terutama ketika berhadapan dengan situasi yang menantang empati.

VCAT tidak bertujuan menyeragamkan nilai. Ia justru menolak pendekatan yang memaksa.

“Kita menentang otoritarianisme, tidak mau kemudian seperti ‘pokoknya sebagai pendamping kamu harus memiliki satu set nilai yang seperti ini’,” tegas Ignatia.

Sebaliknya, yang dibangun adalah kesadaran mengenali bias, mengakuinya, dan memutuskan bagaimana bersikap ke depan.

“Oh saya ternyata masih punya bias di sana dan di sini… kira-kira ke depan saya mau seperti apa,” menjadi pertanyaan kunci yang diharapkan muncul dari proses ini.

Membangun Empati yang Kritis

Workshop ini tidak berhenti pada refleksi personal. Ia mendorong transformasi sikap—dari sekadar memahami menjadi bertindak.

Tujuan-tujuan yang dirancang dalam kegiatan ini mencakup:

Mengidentifikasi nilai dan bias personal

  • Meningkatkan kesadaran tentang stigma dan victim blaming
  • Menguatkan keberpihakan pada korban
  • Mengembangkan empati kritis
  • Mendorong praktik advokasi yang adil dan inklusif

Empati yang dimaksud bukan empati yang dangkal, tapi empati yang sadar yang mampu melihat kompleksitas pengalaman korban tanpa menghakimi.

Namun, proses ini juga diiringi dengan kesadaran bahwa tidak semua pertanyaan akan langsung menemukan jawaban.

“Apakah kita akan menemukan solusi… mungkin tidak. Tapi setidaknya mari jadikan ini sebagai forum untuk mengenali,” kata Ignatia.

Menjaga Ruang Aman, Merawat Proses

Karena topik yang dibahas sangat sensitif—kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender—workshop ini sejak awal menekankan pentingnya ruang aman.

“Selama kegiatan ini, kita pasti nol toleransi terhadap kekerasan… silakan langsung di-call out,” tegas Ignatia.

Peserta juga diberi ruang untuk berhenti sejenak jika merasa tidak nyaman.

“Kalau diskusi yang kemudian bisa men-trigger perasaan… tidak apa-apa kalau mau keluar dulu,” tambahnya.

Dari Ruang Diskusi ke Praktik Advokasi

Pada akhirnya, workshop ini menegaskan satu hal penting: advokasi yang adil tidak lahir dari pengetahuan semata, tetapi dari kesadaran diri yang terus diperiksa.

Salah seorang peserta tengah presentasi dalam diskusi kelompok di VCAT Training. Jakarta, 18 April 2026. Dok. Suluh Perempuan

Output yang diharapkan pun tidak sederhana—mulai dari meningkatnya perspektif inklusif, terbangunnya empati, hingga komitmen untuk mendampingi korban dengan pendekatan berbasis korban.

VCAT menjadi pengingat bahwa menjadi pendamping bukan hanya tentang membantu orang lain, tetapi juga tentang terus mengolah diri sendiri.[]

Sukir Anggraeni

0Shares