27 April 2026

Menjadi Diri Sendiri Lewat Kanvas

0Shares

Swafoto atau yang kini populer disebut selfie sejatinya sudah ada selama berabad-abad, meskipun dalam bentuk yang lebih tradisional yaitu potret diri dalam lukisan. Dan para seniman perempuan ini telah menciptakan potret diri dengan berbagai alasan, tidak hanya agar orang lain melihat tetapi juga menggunakannya untuk membahas isu-isu sosial atau politik. Dan inilah para seniman yang menggunakan potret diri untuk mewakili diri mereka sebagai seniman yang memiliki haknya sendiri sebagai tindakan feminis dan representasi kekuatan perempuan.

Frida Kahlo

Salah satu nama yang paling ikonik dalam praktik ini adalah Frida Kahlo. Ia dikenal sebagai seniman yang menjadikan tubuh dan pengalamannya sebagai pusat dari karya-karyanya. Sejak kecil, Frida telah menghadapi penyakit polio. Namun, titik balik hidupnya terjadi pada usia 18 tahun, ketika ia mengalami kecelakaan bus yang sangat tragis di Meksiko pada tahun 1925. Cedera yang dialaminya sangat parah: patah tulang belakang, leher, rusuk, panggul, serta sebelas patahan di kaki kanan, dislokasi bahu, hingga luka serius akibat batang besi yang menembus perut dan rahimnya.

Pengalaman-pengalaman tadi menjadi bagian penting di banyak lukisannya. Seperti pada “The Broken Column”, Frida menggambarkan dirinya dengan tulang belakang retak sebagai metafora penderitaannya. Frida tak sekadar menjadikan tubuhnya sebagai objek lukisan, tetapi juga wadah ekspresi emosional sebagai cerminan upayanya terus-menerus berdamai dengan rasa sakit.

Frida Kahlo, The Broken Column. Foto: Daily Art Magazine

Frida telah banyak melukis potret diri, tapi “Self Portrait with Thorn Necklace and Hummingbird” (1940) sarat sebagai ungkapan terhadap pengalaman menyakitkannya. Ia menghadap ke arah penonton di depan latar belakang dedaunan. Duri-duri membentuk kalung di sekelilingnya, menusuk kulitnya dan menyebabkannya berdarah. Seekor burung Kolibri—yang biasanya diasosiasikan dengan kebebasan—tergantung di kalung tersebut. Namun, ia gambarkan burung itu hitam dan tak bernyawa. Kucing hitam di sebelah kanan melambangkan nasib buruk, sementara monyet yang biasa digunakan oleh Frida sebagai lambang perlindungan. Alhasil potret diri ini penuh dengan gambaran penderitaan, patah hati, dan kesengsaraan.

Frida Kahlo, Self-Portrait with Thorn Necklace and Hummingbird, 1940. Foto: Daily Art Magazine

Melalui lukisan, ia sampaikan perasaannya di setiap goresan kuas. Frida tidak menyembunyikan rasa sakitnya, tetapi justru ia pamerkan sebagai terapi, sebagai bentuk perlawanan terhadap norma sosial yang menuntut perempuan untuk tegar dan diam dalam penderitaan.

Artemisia Gentileschi

Jika Frida menggunakan tubuhnya sebagai medan ekspresi personal, maka Artemisia Gentileschi menghadirkan potret diri sebagai pernyataan identitas dan posisi dalam dunia seni. Dalam karyanya “Self-Portrait as the Allegory of Painting” (1638–39), ia melukiskan dirinya sendiri sebagai personifikasi seni lukis. Dengan kuas di satu tangan dan palet di tangan lainnya, ia menegaskan dirinya sebagai pelaku, bukan sekadar objek dalam seni.

Artemisia Gentileschi, Self-Portrait as the Allegory of Painting, 1638-1639. Foto: Daily Art Magazine

Karya ini menjadi sangat signifikan jika dilihat dalam konteks zamannya. Pada era Barok, representasi perempuan dalam seni sering kali bersifat cabul atau objektifikasi. Namun, Gentileschi justru membalikkan perspektif tersebut. Ia menampilkan perempuan sebagai subjek yang aktif, berdaya, dan memiliki otoritas.

Pengalaman hidupnya turut memengaruhi arah karyanya. Di masa muda, ia mengalami trauma akibat kekerasan seksual yang dilakukan oleh seorang rekan di bengkel tempatnya belajar. Peristiwa ini meninggalkan jejak mendalam dalam hidup dan karya-karyanya. Namun alih-alih tunduk pada trauma, Gentileschi justru mengolahnya menjadi kekuatan artistik. Ia menghadirkan perempuan dalam lukisannya sebagai sosok yang kuat dan berdaya, bukan korban yang lemah.

Käthe Kollwitz

Lahir pada tahun 1867 dalam keluarga dengan nilai-nilai progresif, Kollwitz tumbuh dengan kesadaran sosial yang kuat. Pengalaman hidupnya diwarnai oleh berbagai tragedi, termasuk kelaparan selama Perang Dunia I di Berlin dan kematian putranya, Peter, di medan perang Belgia.

Dalam catatan hariannya, ia menulis:

“Jangan sembunyikan dirimu, jadilah dirimu sendiri, dan temukan jati dirimu”

—Käthe Kollwitz, Buku Harian, 18 Februari 1917

Käthe Kollwitz, Self Portrait, (1924), woodcut. Foto: www.kollwitz.de

Kutipan ini mencerminkan pendekatan Kollwitz terhadap seni dan kehidupan. Potret-potret dirinya menjadi dokumentasi perjalanan batin yang intens. Ia tidak berusaha menampilkan diri secara ideal atau menyanjung, melainkan secara jujur dan kritis.

Seiring waktu, potret dirinya berkembang dari sekadar upaya penegasan identitas menjadi eksplorasi yang lebih dalam tentang sifat manusia. Ia menggunakan wajah dan tubuhnya sendiri sebagai medium untuk memahami pengalaman manusia secara universal—tentang duka, kehilangan, dan ketahanan.

Käthe Kollwitz, Self Portrait, 1926-1936, bronze. Foto: www.kollwitz.de

Kollwitz menjadi profesor perempuan pertama di Akademi Seni Prusia, namun kemudian harus menghadapi tekanan politik hingga akhirnya dipaksa mengungsi oleh rezim Nazi. Ia hampir dikirim ke kamp konsentrasi karena keyakinan anti-fasisnya. Hingga akhir hayatnya ia terus berkarya, menggunakan seni sebagai alat untuk mendorong perubahan sosial ke arah yang benar.[]

Sukir Anggraeni. Dari berbagai sumber

0Shares