Saat dunia menyaksikan keajaiban Lionel Messi mengangkat trofi Piala Dunia 2022 di Qatar, sorotan tertuju pada kecemerlangan sang kapten, cerdasnya pelatih Lionel Scaloni, dan kerja keras para pemain Argentina di lapangan. Namun di Argentina, ada kisah lain yang berkembang di luar stadion, di ruang-ruang tamu, kamar tidur, altar kecil yang diterangi lilin, hingga grup WhatsApp yang dipenuhi doa dan ritual.
Ribuan perempuan yang menyebut diri mereka brujas—penyihir—meyakini bahwa mereka turut mengambil bagian dalam perjalanan Argentina menuju gelar juara dunia. Mereka membentuk jaringan bernama La Brujineta, sebuah komunitas yang menggabungkan kata bruja dan La Scaloneta, julukan tim nasional Argentina.
Bagi mereka, kemenangan Argentina bukan hanya hasil kerja para pemain di lapangan. Ada ikhtiar lain yang dilakukan dari rumah-rumah mereka: menjaga, melindungi, dan mengirimkan energi baik untuk Lionel Messi dan rekan-rekannya.
Semuanya bermula setelah kekalahan mengejutkan Argentina dari Arab Saudi pada laga pembuka Piala Dunia. Kekalahan itu mengguncang harapan publik Argentina. Di tengah kecemasan nasional tersebut, Magalí Martínez, seorang perempuan yang mengaku sebagai penyihir, merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Messi.
Ia melakukan ritual yang biasa digunakannya untuk mendeteksi apa yang disebut sebagai “mata jahat”. Dengan meneteskan minyak ke dalam semangkuk air dan mengamati pergerakannya, Martínez percaya bahwa Messi sedang berada dalam pengaruh energi negatif.

“Semuanya terjadi seperti magnet. Saya tahu saya tidak akan mampu menyembuhkannya sendirian.”
Merasa membutuhkan bantuan, ia mengunggah seruan di media sosial dan meminta para penyihir lain di seluruh Argentina bergabung untuk membantu melindungi sang kapten. Respons yang datang jauh melampaui perkiraannya. Ribuan perempuan menyatakan siap ikut bekerja.
Sejak saat itu, Argentina tidak pernah kalah lagi.
Dari berbagai kota di Argentina, para perempuan ini mulai menggelar ritual mereka masing-masing. Ada yang menyalakan lilin, membangun altar, membakar dupa, menggunakan tarot, reiki, astrologi, hingga berbagai praktik spiritual lain yang mereka yakini dapat membantu tim nasional.

Di Rosario, kota kelahiran Messi, Rocío Cabral Menna menjalankan ritual sebelum setiap pertandingan dengan membakar daun salam yang telah ditulisi prediksi skor.
“Kami menganggap diri kami sebagai agen yang, dari cinta, dapat merawat, melindungi, dan menabur kebahagiaan.”
Menurutnya, para pemain bertarung di lapangan, sementara para penyihir bekerja dari rumah untuk menjaga mereka.
“Para pemain berkompetisi di lapangan, dan di rumah, para penyihir merawat mereka.”
Gerakan ini kemudian berkembang menjadi La Brujineta. Awalnya hanya sebuah grup kecil yang dibentuk Antonella Spadafora. Ia mengira kelompok itu paling banyak akan berisi sepuluh orang. Namun dalam hitungan hari, ratusan perempuan bergabung. Antusiasme publik membuat gerakan tersebut berkembang pesat hingga memiliki puluhan ribu pengikut di media sosial.
Bagi sebagian anggota, keterlibatan mereka bukan hanya soal sepak bola. Beberapa mengaitkan praktik spiritual mereka dengan kebangkitan gerakan perempuan di Argentina dalam beberapa tahun terakhir. Mereka melihat kemampuan merawat, melindungi, dan membangun solidaritas sebagai bentuk kekuatan perempuan yang selama ini kerap dipinggirkan.
Andrea Maciel, salah satu pengelola komunitas itu, mengatakan:
“Kami sudah bosan menjadi penyihir yang menyembunyikan identitas kami.”
Fokus utama La Brujineta adalah menyerap energi negatif yang mereka yakini mengelilingi para pemain Argentina, lalu menggantinya dengan energi positif. Namun pekerjaan tersebut, menurut mereka, tidak mudah.
Spadafora mengaku para anggota kerap merasakan dampak fisik setelah melakukan ritual.
“Sakit kepala, pusing, muntah, nyeri otot.”
Ia melanjutkan:
“Kami menyerap semua energi negatif. Ini sangat melelahkan, karena mereka adalah tokoh publik yang menerima begitu banyak energi negatif dari orang lain.”
Untuk membagi beban, para anggota bahkan membentuk kelompok-kelompok kecil yang masing-masing bertugas “menjaga” pemain tertentu selama pertandingan berlangsung.
Meski sebagian ritual berfokus pada perlindungan pemain Argentina, ada pula yang mencoba memengaruhi lawan. Beberapa anggota melakukan ritual yang dipercaya dapat melemahkan performa pemain tim lawan. Namun tidak semua anggota menyetujui pendekatan tersebut.
Dalia Walker, salah satu anggota La Brujineta, memilih ritual yang menurutnya lebih positif.
“Saya lebih memilih menyalakan lilin dan mengirimkan energi baik.”

Setelah Argentina akhirnya menjuarai Piala Dunia, keyakinannya semakin kuat.
“Bagi saya, ini benar-benar Piala Dunia para penyihir.”
Kisah-kisah yang berkembang di antara mereka pun semakin memperkuat kepercayaan tersebut. Magalí Martínez mengaku pernah mengalami pengalaman yang menurutnya bersifat supranatural saat Argentina menghadapi Australia.
Beberapa menit sebelum Julián Álvarez mencetak gol, ia menulis di media sosial:
“Julian Alvarez, aku ingin golmu.”
Empat menit kemudian, Álvarez benar-benar mencetak gol.
Bagi Martínez, itu bukan kebetulan.
Sementara itu, peramal senior Azucena Agüero Blanch mengaku turut membantu perjuangan Argentina dengan menggunakan batu-batu yang dianggap memiliki kekuatan magis.
Di seluruh negeri, praktik-praktik serupa berkembang bersamaan dengan berbagai bentuk takhayul yang dilakukan masyarakat biasa. Banyak warga Argentina sengaja mempertahankan rutinitas yang sama setiap kali tim mereka menang. Ada yang menonton pertandingan di tempat yang sama, mengenakan pakaian yang sama, duduk di kursi yang sama, bahkan menyalakan televisi pada volume yang sama.
Kepercayaan bahwa keberuntungan harus dijaga menjadi bagian dari budaya sepak bola Argentina selama turnamen berlangsung.
Namun di antara semua ritual dan keyakinan tersebut, para perempuan La Brujineta menempatkan diri mereka bukan sebagai penentu kemenangan, melainkan sebagai bagian dari gelombang harapan kolektif bangsa Argentina.
Menjelang final melawan Prancis, Spadafora mengatakan bahwa berbagai metode spiritual yang mereka gunakan memberikan pertanda yang sama.
“Kami tidak ingin memberikan informasi seolah-olah kami memiliki kata terakhir.”
Tetapi ia menambahkan:
“Kami telah memeriksa dengan sebagian besar cara yang kami miliki—pendulum, Tarot, semua metode ramalan—dan itu menunjukkan bahwa Argentina akan menang.”
Ramalan itu akhirnya menjadi kenyataan.
Argentina mengalahkan Prancis melalui adu penalti dan meraih gelar juara dunia ketiga dalam sejarahnya. Bagi dunia sepak bola, kemenangan itu adalah puncak karier Lionel Messi. Bagi jutaan pendukung Argentina, itu adalah akhir penantian selama 36 tahun.
Sementara bagi para perempuan La Brujineta, malam itu menjadi bukti bahwa doa, solidaritas, dan keyakinan yang mereka bangun bersama telah ikut menemani perjalanan Argentina menuju puncak dunia.
Kini, ketika perhatian dunia kembali tertuju pada perhelatan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, para perempuan La Brujineta bersiap mengambil peran yang mereka yakini pernah mengantarkan Argentina menuju kejayaan. Melalui ritual, doa, dan berbagai praktik spiritual yang telah menjadi bagian dari identitas komunitas mereka, mereka kembali bertekad mengawal langkah Tim Tango dalam mempertahankan gelar juara dunia. Entah dianggap sebagai takhayul, tradisi, atau bentuk solidaritas kolektif, bagi para perempuan La Brujineta, perjuangan belum berakhir. Bersama jutaan pendukung Argentina lainnya, mereka kembali menyalakan harapan bahwa trofi paling bergengsi di dunia sepak bola akan tetap berada di tangan Albiceleste.[]
Sukir Anggraeni, dari berbagai sumber

Terkait
Aliansi Perempuan Indonesia Desak Pemerintah Turunkan Harga dan Hentikan MBG di Tengah Krisis Hidup Rakyat
Ulfa Ilyas: API Kartini Lahir dari Keresahan Perempuan Akar Rumput
Sita Pramesthi: Sekolah Rakyat Bukan Solusi Krisis Pendidikan Indonesia