4 Oktober 2026

Obituari untuk Nuraini Hilir

2Shares

Oleh IPUNG PURWANDONO

Selamat Jalan, Pejuang yang Tak Pernah Menyerah

Untuk Nuraini Hilir (1973–2026)

Kawan,

Kita kehilangan seorang perempuan yang tak pernah diam ketika ketidakadilan bersuara. Nuraini Hilir bukan sekadar nama dalam catatan sejarah reformasi. Ia adalah nyala yang tetap menyala meski badai mencoba memadamkannya.

Kami mengenalnya sebagai perempuan kelahiran 1973, mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada angkatan 1991. Sejak muda, ia telah akrab dengan jalanan dan aksi. Ditangkap aparat di Polda Condongcatur, Sleman, tahun 1992 bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang perlawanannya.

Ia bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik pada 1994. Bersama kawan-kawan, ia turun ke pabrik-pabrik, berdiri di tengah buruh yang mogok di Tandes, Surabaya, Juli 1996. Di sana, ia menyaksikan kekerasan yang membekas selamanya—kawan-kawan yang diseret di aspal, wajah berdarah, tapi tetap mengepalkan tangan dan berteriak, “Hidup rakyat!” Momen itu meneguhkan tekadnya: ia akan tetap berada di barisan massa.

Tahun 1998, di Jalan Gatot Subroto, Nuraini merekam demonstrasi penolakan Sidang Istimewa MPR. Malam itu, kekerasan meledak. Ia merasa ada yang menghantam kepalanya. Darah mengucur dari kerudung putihnya. Ia selamat, dirawat di Rumah Sakit St. Carolus selama empat hari, kepalanya dijahit, meninggalkan tanda. Kerudung putih berlumur darah itu masih disimpannya. Hari itu, 13 November 1998, dikenal sebagai Tragedi Semanggi I—17 nyawa melayang, termasuk Wawan, mahasiswa Atma Jaya.

Namun Nuraini tak berhenti. Pemilu 1999 menjadi pengalaman berkesan baginya. Ketika PRD lolos verifikasi, ia berkampanye di TVRI dengan pidato yang penuh gelegar. Meski PRD gagal meraih kursi, semangatnya tak surut. Tahun 2001, ia tidak lagi di Komite Pimpinan Pusat PRD, tetapi tetap melakukan advokasi dan pendidikan politik untuk perempuan. Ia membangun Yayasan Sekar dan kembali aktif di PDI Perjuangan.

Hidupnya bukan tanpa ujian. Jelang Idul Fitri 2022, ia menjalani operasi di Rumah Sakit Gatot Subroto, Jakarta. Kanker rektum didiagnosis. Delapan kali kemoterapi ia jalani. Tapi seperti dulu, ia menghadapinya dengan keteguhan. “Pertama kulakukan adalah berdamai dengan penyakitku,” katanya. Desember 2022, dokter menyatakan ia “bersih” dari sel kanker.

Namun Sang Penguasa Alam memanggilnya pulang. Oktober menjadi bulan duka yang beruntun. Belum kering air mata atas kepergian Argo, kabar duka kembali menghantam. Dalam waktu singkat, dua kawan seperjuangan telah berpulang. Nuraini, salah satu kader perempuan terbaik PRD, menyusul dalam keabadian.

Kawan,

Nuraini pernah menjadi bagian dari gelombang pergolakan mahasiswa pascapendudukan Gedung DPR/MPR. Dalam bentrokan di depan Polda Metro Jaya, ia menjadi korban kekerasan aparat. Kepalanya bocor, menerima 12 jahitan. Luka itu menjadi saksi keberanian dan harga yang harus dibayar dalam sebuah perjuangan.

Kini ia telah pergi. Tapi warisannya bukan sekadar kenangan. Ia mengingatkan kita bahwa perjuangan bukan tentang siapa yang masih berdiri, melainkan bagaimana menjaga warisan mereka yang telah lebih dahulu melangkah. Warisan itu adalah keberanian untuk terus berpihak kepada rakyat, merawat solidaritas, melawan ketidakadilan, dan menjaga cita-cita perubahan agar tetap hidup lintas generasi.

Mari menjaga warisan perjuangan mereka. Jangan biarkan api yang pernah menyala padam ditelan waktu. Teruskan nilai-nilai keberanian, kesetiaan, dan pengabdian dalam setiap langkah perjuangan hari ini. Sebab sejarah tidak cukup hanya dikenang; ia harus dirawat dan diteruskan.

Selamat jalan, Nuraini. Tubuh boleh gugur, usia boleh berakhir, tetapi cita-cita keadilan harus terus menyala. Nama dan jejakmu akan tetap hidup dalam ingatan dan semangat mereka yang memilih untuk tidak menyerah.

Beristirahatlah dengan damai dalam tidur panjangmu.

Nuraini Hilir — pejuang reformasi, aktivis perempuan, advokat rakyat. 1973–2026.

2Shares