27 Januari 2023

Ecoprint, Bagian dari Green Jobs untuk Adaptasi Perubahan Iklim

0Shares

Hari-hari ini kita dihadapkan pada perubahan cuaca hingga menjelang pergantian tahun. Intensitas hujan cukup tinggi dengan volume yang makin meningkat. Berdasarkan data dari 88 stasiun pengamatan BMKG, suhu udara rata-rata bulan September 2022 adalah sebesar 27.0 derajat celcius.

Berdasarkan nilai-nilai tersebut, anomali suhu udara rata-rata pada bulan September 2022 menunjukkan anomali positif dengan nilai sebesar 0.2 derajat celcius. Anomali suhu udara Indonesia pada bulan September 2022 ini merupakan nilai anomali tertinggi ke-10 sepanjang periode data pengamatan sejak tahun 1981. Anomali suhu udara tahunan adalah perbandingan suhu udara pada tahun tertentu, relatif terhadap rata-rata periode normal.

Perubahan iklim terjadi secara ekstrim. Untuk memahaminya, secara umum, perubahan iklim disebut sebagai fenomena pemanasan global, dimana terjadi peningkatan gas rumah kaca pada lapisan atmosfer dan berlangsung untuk jangka waktu tertentu. Penyebab perubahan iklim dan pemanasan global terdiri dari berbagai faktor yang berbeda serta menimbulkan dampak bagi kehidupan manusia.

Iklim berubah secara terus menerus karena interaksi antara komponen-komponennya dan faktor eksternal seperti erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan faktor-faktor disebabkan oleh kegiatan manusia seperti misalnya perubahan pengunaan lahan dan penggunaan bahan bakar fosil. Dari berbagai sumber disebutkan bahwa perubahan iklim dapat disebabkan oleh efek gas rumah kaca, pemanasan global, kerusakan lapisan ozon, kerusakan fungsi hutan, penggunaan Cloro Flour Carbon (CFC) yang tidak terkontrol, dan gas buang industri.

Dampak dari perubahan iklim seperti yang kita rasakan saat ini adalah tingginya curah hujan, musim kemarau yang berkepanjangan, terjadinya peningkatan volume air akibat mencairnya es di kutub, terjadinya peristiwa alam angin puting beliung dan berkurangnya sumber air. Seperti contohnya yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT merupakan salah satu daerah yang paling merasakan dampak perubahan iklim. Dampak buruk perubahan iklim mulai dirasakan warga NTT pada tahun 2011.

Dampak paling nyata tampak pada tanaman perkebunan. Buah coklat membusuk, jatuhnya harga kopra. jambu mete dan bunga kopi tidak sempat berbuah sehingga rusak bunganya. Perubahan iklim ini telah menyebabkan kerugian finansial secara massal. Hal itu bermula ketika musim hujan berlangsung lama hingga masuk ke musim kemarau. Dampak tersebut juga dirasakan di berbagai daerah dan menimbulkan gangguan pada berbagai aspek kehidupan. Jelas bahwa perubahan iklim dapat menjadi ancaman bagi perekonomian dan pembangunan secara berkelanjutan.

Green Economy

Sebagai adaptasi, saat ini mulai dilakukan upaya untuk mencegah dan mengurangi dampak dari perubahan iklim. Negara-negara di dunia mulai memperkenalkan konsep green economy sebagai salah satu solusi. Dalam green economy tersebut dibutuhkan green skills dan green jobs.

Green skills adalah kemampuan pekerja untuk mengoptimalkan pengelolaan serta konservasi sumber daya alam yang bermanfaat untuk perusahaan dalam memproduksi barang atau jasa. Sedangkan green job adalah pekerjaan yang layak, dan berkontribusi terhadap kelestarian. Lingkup pekerjaannya dapat berasal dari sektor tradisional, termasuk manufaktur dan konstruksi, serta bisa juga dari sektor baru, seperti energi terbarukan dan efisiensi energi.

Green job sendiri memiliki tujuan untuk melindungi dan memulihkan ekosistem, meningkatkan efisiensi energi dan bahan baku, meminimalkan limbah dari proses produksi dan polusi yang dihasilkan, membatasi emisi gas rumah kaca serta mendukung adaptasi terhadap perubahan iklim. Organisasi Buruh Internasional mencatat, pergeseran ekonomi ke arah yang lebih hijau berpotensi menciptakan 24 juta pekerjaan baru secara global pada tahun 2030.

Dalam World Employment and Social Outlook, Organisasi Buruh Internasional mengatakan bahwa pekerjaan ramah lingkungan baru sangat bergantung pada implementasi keberlanjutan di sektor energi. Pasar global untuk barang dan jasa yang berwawasan lingkungan saat ini dapat mencapai US$ 1.370 Milyar per tahun. Lebih lanjut lagi, diprediksi akan terdapat 1,2 miliar pekerjaan yang bergantung pada lingkungan yang stabil dan sehat. Industri ini mencakup pertanian, perikanan, kehutanan, farmasi, hingga pariwisata.

GENEVA (ILO News) – Twenty-four million new jobs will be created globally by 2030 if the right policies to promote a greener economy are put in place, a new ILO report says. According to World Employment and Social Outlook 2018: Greening with Jobs , action to limit global warming to 2 degrees Celsius will result in sufficient job creation to more than offset job losses of 6 million elsewhere. New jobs will be created by adopting sustainable practices in the energy sector, including changes in the energy mix, promoting the use of electric vehicles and improving the energy efficiency of buildings. Ecosystem services – including air and water purification soil renewal and fertilization, pest control, pollination and protection against extreme weather conditions – sustain, among others, farming, fishing, forestry and tourism activities, which employ 1.2 billion workers.

Ecoprint Bagian dari Green Jobs

Tehnik batik ecoprint dapat menjadi salah satu pilihan dalam green jobs. Ecoprint dari kata eco atau ekosistem (alam) dan print, mencetak. Batik Ecoprint dibuat dengan cara mencetak menggunakan bahan-bahan yang terdapat di alam sekitar sebagai kain, pewarna, maupun pembuat pola motif. Bahan yang digunakan berupa dedaunan, bunga, batang bahkan ranting. Bersifat ramah lingkungan dan tidak menimbulkan pencemaran air, tanah atau udara. Sehingga kain yang dihasilkan sangat ramah lingkungan.

Ernawati (kiri) bersama kain ecoprint hasil karyanya

Karena sifatnya yang ramah lingkungan maka produksi ecoprint dapat menjadi pilihan yang tepat. Bahan-bahan ecoprint dapat diperoleh dengan cara menanam sendiri di pekarangan rumah. Beberapa jenis tanaman cukup mudah ditanam dan tumbuh dengan cepat seperti bunga tapak dara, bunga kertas, beberapa jenis semak-semak, pakis dll. Sehingga selain menghasilkan bahan ecoprint, jenis pekerjaan ini juga bersifat berkelanjutan.

Ecoprint merupakan proses memindahkan dan meninggalkan jejak alam di kain. Berbagai motif indah dapat dihasilkan dari dedaunan dan bunga. Bahkan batang kayu, kulit bawang dan beberapa limbah dapur lainnya dapat menghasilkan pewarna alami. Dapat dikatakan semua bahannya berasal dari rumah sendiri sehingga tidak membutuhkan banyak biaya untuk memulai prosesnya. Setelah menghasilkan satu produk, daun-daun yang digunakan dapat diubah menjadi kompos karena daun hasil kukusan tidak terkena zat kimia sehingga aman dan ramah lingkungan.

Proses dengan menggunakan pounding juga menghasilkan daun serta bunga kering yang juga dapat diubah menjadi produk seni lainnya. Sebagai hiasan dinding atau sampul buku. Tergantung bagaimana kreativitas kita. Produksi ecoprint memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga menjadi kelebihan terlebih produk ini dapat dijalankan secara perorangan di rumah dengan modal rendah. Kemajuan teknologi informasi dapat membantu memudahkan dalam pemasaran produk tersebut.

Saat ini harga jual selembar kain Ecoprint masih cukup tinggi. Hal ini terutama karena produk ini dikerjakan secara manual dan membutuhkan waktu seminggu hingga siap dipasarkan. Aplikasi dari produk ecoprint dapat berupa baju, tirai, sprei, tas dan lain-lain. Tehnik ecoprint juga dapat diperkenalkan pada anak-anak sehingga dapat dijadikan sebagai salah satu bahan ajaran.

Selain itu, semakin sering melakukan kita akan semakin mengenali jenis daun-daunan yang dapat digunakan untuk membuat ecoprint. Jenis daun apa yang tepat dengan tehnik kukus, dan jenis apa untuk pounding. Setelah menguasai kedua tehnik tersebut, kita juga dapat mengembangkan pekerjaan dalam bentuk pelatihan pada perorangan maupun komunitas. Keahlian kita dapat dihargai dalam bentuk jasa. Termasuk penyediaan bahan pewarna dll.

Kebutuhan untuk mampu beradaptasi dengan perubahan iklim memang tidak semata bergantung pada jenis pekerjaan ini. Upaya lebih besar diperlukan untuk mengatasi krisis lingkungan secara global. Untuk memulainya kita bisa melakukan secara bertahap maupun serentak. Untuk upaya yang lebih besar, kita serahkan pada pemerintah. Kita memulai dengan upaya sederhana namun besar manfaatnya. Jadi jangan putus asa dan berkecil hati. Menjaga lingkungan, memilah sampah dan mulai mengurangi volume sampah plastik dengan kembali ke alam.***

Penulis: Ernawati

Editor: Humaira

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai