28 September 2022

Resensi Film: Sayap Sayap Patah

0Shares

Apakah kamu seseorang yang berjiwa nasionalis? Jika iya, kamu bisa menonton film sayap-sayap patah. Film ini mengisahkan tentang keluarga muda, dimana sang suami adalah polisi yang bertugas memerangi terorisme. Film yang disutradarai oleh Rudi Sudjarwo ini terinspirasi dari kerusuhan Markas Brimob, Depok, tahun 2018 lalu. Kala itu terjadi kerusuhan yang menewaskan 5 orang anggota Densus 88 dan para tahanan berhasil melarikan diri.

Film yang diperani oleh Nicholas Saputra sebagai Adji dan Ariel Tatum sebagai Nani adalah sepasang suami istri. Adji merupakan anggota Densus 88 yang terlibat menangani kasus terorisme dan Nani sebagai seorang istri yang mendukung penuh karir suami walaupun seringkali ia dirundung kecemasan serta kekhawatiran akan keselamatan Adji.

Berbicara mengenai terorisme, terorisme adalah sebuah tindak kejahatan luar biasa yang menimbulkan berbagai kerusakan, menimbulkan ketakutan dan kecemasan terhadap banyak individu, bahkan memakan banyak korban baik fisik maupun psikis dan biasanya korban dari aksi terorisme ini dipilih secara acak yang kemudian dijadikan sebagai sumber pesan. Dalam adegan teror yang ada dalam film Sayap-Sayap Patah, aksi teror dengan bom bunuh diri. Diceritakan, sang pelaku meyakini bahwa inilah caranya untuk berjuang dijalan Allah. Demi mendapatkan surga ia merelakan kematiannya.

Tragisnya, sang pelaku aksi bom bunuh diri tersebut adalah seorang perempuan. Mengapa aksi teror dilakukan oleh perempuan? Selama ini aksi teror kerap kali dilakukan oleh laki-laki dan identik dengan pesona maskulinitas. Lantas apa yang membuat perempuan menjadi pelaku aksi teror?

Ada berbagai macam alasan, pandangan masyarakat atas perempuan sebagai makhluk kelas dua membuat perempuan seringkali merasa tidak berharga, ketidakberdayaan perempuan dalam mengambil suatu keputusan di tengah masyarakat luas membuat perempuan pasif dan termarginalkan. Terjadinya relasi kuasa sehingga ketidakberdayaannya membuat perempuan kerap kali tidak memiliki pilihan,

Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Musdah Mulia dalam pengantar buku Perempuan dan Terorisme: alasan mengapa perempuan dijadikan sebagai pelaku terror karena adanya paparan radikalisme agama yang biasanya di doktrin oleh suami, sementara sebagian yang lain melibatkan diri karena adanya gangguan jiwa, dibelenggu oleh laki-laki atas nama agama, frustasi dengan ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender serta ketimpangan sosial di lingkungan mereka. 

Sejatinya perempuan adalah mahluk yang dipilih Tuhan secara khusus untuk menjaga kehidupan. Dititipkannya sebuah rahim kepada perempuan demi keberlangsungan kehidupan. Oleh sebab itu, sebenarnya peran penting perempuan adalah sebagai penghubung untuk sebuah perdamaian bukan justru melakukan aksi terror dalam kejahatan.

Hal menarik dari cerita di film ini adalah hubungan yang setara antara suami istri dalam penokohannya. Selayaknya dalam berelasi laki-laki dan perempuan memiliki hubungan yang setara, saling mendukung dan menghargai satu sama lain. Adji adalah suami yang berprofesi sebagai polisi dalam menangani kasus terorisme. Meskipun pekerjaan banyak menyita waktunya untuk berada di luar, bahkan ia tak bisa memastikan kapan akan pulang. Adji tidak pernah absen memperhatikan sang istri yang tengah hamil. Adji sering melakukan hal-hal kecil untuk menyenangkan dan memastikan Nani baik-baik saja,

Nani sempat mengalami gangguan pada janinnya karena selalu memikirkan bahaya yang mengintai Adji, namun ia berusaha menanganinya dan tidak menceritakan masalahnya kepada Adji. Hal ini dilakukan Nani agar Adji tetap dapat menjalani tugas kenegaraannya dengan baik.

Dalam scene terakhir, terjadi kerusuhan di Mako Brimob. Kerusuhan ini mengakibatkan 5 orang anggota kepolisian disandera hingga berakhir dengan kematian. Adji adalah satu dari polisi yang meninggal dalam kerusuhan tersebut. Sebelum menemui ajal, Adji mengantarkan Nani ke rumah sakit bersalin. Dokter menyatakan bahwa persalinan masih sekitar 12 jam lagi. Hari itu adalah hari pertama kepindahan Adji ke Mako Brimob, sehingga Nani mendesak Adji berangkat ke kantor. Tapi siapa sangka ternyata itu adalah pertemuan terakhir antara Nani dengan Adji sang suami.

Pembelajaran yang dapat diambil dari film ini adalah jiwa patriotik dan semangat rela berkorban dalam menjalankan tugas negara. Adji adalah sosok perwira muda yang begitu idealis. Hampir sebagaian besar hidupnya dihabiskan untuk memburu sel-sel jaringan teroris. Sebagai penonton saya serasa diingatkan betapa beratnya menjalani profesi ini, karena waktu pribadinya dihabiskan untuk melindungi rakyat dari ancaman terorisme.

Sayap Sayap Patah mengingatkan bahwa ternyata masih ada polisi yang baik ditengah merosotnya reputasi polisi dimata masyarakat saat ini. (*)

Penulis: Rizkia Permata R.A.

Editor: Humaira

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai