Oleh: Milla Joesoef
Membasuh aku dengan sastra jendra
Rihlahku menerima mata dari cindera
Tak cedera meski berkalang nanah di luka
Ludah tak mau asal kuhantam di muka
Siapa paduka? Apa itu kuasa?
Mana nalar logika? Renik, jasad dan raga
Apakah jagad? Ada dan tiada
Pada sisa, ku bercanda sepenuh nalar-raga
Tamak aku tak punya, bahkan tak punya mahu
Hanyalah kosong, pada semesta tak berbuntu

Terkait
Seni Berkelanjutan ala Deniz Sağdıç
Merayakan Harmoni, Pikiran, Hati, dan Tindakan di Ubud Writers & Readers Festival 2026
Ngabuburit Sedunia, Menunggu Maghrib dengan Cara yang Berbeda di Berbagai Negara