19 Juni 2024

Perempuan di Garis Depan Keberlanjutan

Ilustrasi: Shutterstock

0Shares

Peran perempuan dalam menjaga lingkungan semakin mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Di Indonesia, perempuan memiliki peran penting dalam pelestarian alam, menjaga hutan adat, dan kebersihan perkotaan. Peran ini tidak hanya terbatas pada kegiatan sehari-hari, tetapi juga dalam upaya melawan perampasan lahan oleh negara dan korporasi. Berikut adalah gambaran tentang perempuan Indonesia yang berjuang untuk menjaga lingkungan mereka.

Pelestarian Alam

Banyak perempuan Indonesia yang terlibat langsung dalam upaya pelestarian alam. Di berbagai daerah, perempuan aktif dalam mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan. Mereka mengatur pola tanam yang ramah lingkungan, menjaga kelestarian sumber air, dan mengembangkan praktik-praktik pertanian organik. Contoh nyata adalah para perempuan di desa-desa sekitar Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang mengelola lahan pertanian dengan pendekatan agroforestri. Mereka menanam berbagai jenis tanaman yang tidak hanya bermanfaat secara ekonomi tetapi juga membantu menjaga ekosistem lokal.

Perlindungan Hutan Adat

Hutan adat di Indonesia sering kali menjadi sasaran perampasan lahan oleh negara dan perusahaan untuk kepentingan industri, seperti perkebunan kelapa sawit dan pertambangan. Namun, perempuan adat berdiri di garis depan dalam melindungi hutan mereka. Misalnya, perempuan suku Dayak di Kalimantan yang dengan gigih mempertahankan hutan adat mereka dari ancaman deforestasi. Mereka tidak hanya mengorganisir aksi protes tetapi juga terlibat dalam advokasi hukum untuk memperjuangkan hak atas tanah adat.

Salah satu contoh nyata adalah perjuangan Aleta Baun, seorang perempuan adat Mollo dari Nusa Tenggara Timur. Aleta memimpin komunitasnya dalam melawan perusahaan tambang yang merusak tanah dan hutan adat mereka. Melalui berbagai aksi damai dan advokasi, ia berhasil menghentikan operasi tambang dan menginspirasi banyak perempuan lainnya untuk berjuang demi lingkungan mereka.

Kebersihan Perkotaan

Di kawasan perkotaan, perempuan juga memainkan peran kunci dalam menjaga kebersihan lingkungan. Mereka sering terlibat dalam kegiatan pengelolaan sampah dan daur ulang. Di Jakarta, misalnya, banyak ibu rumah tangga yang tergabung dalam kelompok-kelompok bank sampah. Mereka mengumpulkan sampah rumah tangga, memilahnya, dan mendaur ulang bahan-bahan yang masih dapat digunakan. Kegiatan ini tidak hanya membantu mengurangi jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga mereka.

Konflik Perampasan Lahan

Konflik perampasan lahan masih menjadi masalah serius di Indonesia. Banyak perempuan yang menjadi korban langsung dari kebijakan pemerintah dan korporasi yang merampas lahan tanpa memperhatikan hak-hak masyarakat lokal. Perempuan yang biasanya bertanggung jawab atas kebutuhan rumah tangga seperti air dan makanan menjadi sangat terdampak oleh hilangnya akses ke tanah dan sumber daya alam.

Baru-baru ini, konflik perampasan lahan kembali mencuat di Halmahera Utara, Maluku Utara. Masyarakat setempat tergusur oleh aktivitas pertambangan nikel yang dilakukan oleh perusahaan besar. Perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan dalam konflik ini. Mereka kehilangan tanah pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian utama, serta mengalami kerusakan lingkungan yang parah.

Salah satu isu kritis adalah tercemarnya Sungai Sagea oleh limbah tambang. Sungai ini merupakan sumber air bersih bagi masyarakat setempat, namun kini airnya tidak lagi layak dikonsumsi. Pencemaran ini menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan menurunkan kualitas hidup masyarakat. Perempuan di daerah ini harus berjalan lebih jauh untuk mendapatkan air bersih dan mengalami peningkatan beban kerja sehari-hari.

Meskipun menghadapi tekanan besar, perempuan di Halmahera Utara tetap berjuang mempertahankan hak mereka atas tanah dan lingkungan yang bersih. Mereka aktif mengorganisir protes, bekerja sama dengan organisasi non-pemerintah, dan mencari dukungan dari komunitas internasional untuk menghentikan aktivitas tambang yang merusak lingkungan mereka.

Namun, perempuan tidak tinggal diam. Mereka sering menjadi pemimpin dalam gerakan perlawanan terhadap perampasan lahan. Salah satu contoh adalah perjuangan perempuan di Rembang, Jawa Tengah, yang menolak pembangunan pabrik semen di daerah mereka. Para perempuan ini, yang dikenal sebagai “Kartini Kendeng,” melakukan aksi protes dengan cara menanam kaki mereka dalam semen sebagai simbol perlawanan mereka terhadap proyek tersebut. Aksi ini tidak hanya menarik perhatian nasional tetapi juga internasional, dan akhirnya mengarah pada penundaan proyek.

Mila Nabilah

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai