17 Juni 2026

Ulfa Ilyas: API Kartini Lahir dari Keresahan Perempuan Akar Rumput

0Shares

Sebelum ikut terlibat dalam proses lahirnya API Kartini, Ulfa Ilyas telah lebih dulu menjalani perjalanan panjang sebagai aktivis mahasiswa dan gerakan rakyat. Berawal dari aktivitasnya di Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) di Makassar hingga kemudian menjadi bagian dari dinamika gerakan di Jakarta, ia menyaksikan langsung berbagai persoalan yang dihadapi perempuan di akar rumput. Pengalaman itulah yang kemudian ikut membentuk gagasannya tentang pentingnya organisasi perempuan yang dekat dengan kehidupan buruh, petani, kaum miskin kota, dan kelompok-kelompok perempuan yang selama ini suaranya kerap terpinggirkan. Dalam wawancara berikut, Ulfa berbagi cerita tentang proses lahirnya API Kartini, perkembangan gerakan perempuan, serta harapannya bagi generasi muda yang ingin terlibat dalam perjuangan kesetaraan. Berikut petikannya:

Ceritakan saat awal² kamu masuk Jakarta, terus menjadi pengurus Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND)

Sebelum menginjakkan kaki ke Jakarta, saya adalah salah satu kader LMND Makassar—sejak tahun 2002 menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas 45 angkatan 2001. Sebagai kader, mengikuti rapat, konsolidasi, pendidikan serta diskusi di kampus hingga basis rakyat miskin (SRMI). Beberapa kali di perkampungan buruh, basis FNPBI, dekat pabrik di Kawasan Industri Makassar (KIMA). Apabila menjelang Mayday banyak hal dibahas, terutama terkait situasi nasional.

Saya juga terlibat di aksi-aksi LMND, aksi-aksi front yang digagas bersama organisasi lain, mengkritik kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat: menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), isu-isu buruh terkait upah, kesejahteraan buruh dan lainnya. Selain itu saya juga menginisiasi dibentuknya kelompok diskusi terkait isu-isu perempuan di kampus Universitas 45 dengan nama Lingkar Studi Perempuan (LSP).

Pada 2005, saya terlibat dalam berbagai kegiatan pendampingan masyarakat di Makassar, terutama terkait akses terhadap program-program sosial dan persoalan yang dihadapi warga di lingkungan tempat tinggal mereka. Bersama rekan-rekan aktivis, saya banyak belajar tentang pentingnya solidaritas, advokasi, dan pendampingan bagi masyarakat yang sedang menghadapi berbagai kesulitan sosial dan ekonomi.

2006 saya menginjakkan kaki ke Jakarta, menyibukkan diri dengan diskusi, rapat-rapat, ikut aksi-aksi LMND, hingga saya menjadi salah satu pengurus LMND Kota Jakarta Pusat.

Bagi saya, awal berada di Jakarta itu hal yang sulit, selain perbedaan budaya dengan saat di Makassar, Jakarta menjadi tantangan bagi saya, pusat kekuasaan tapi potret ketimpangannya begitu nyata. Saya bisa lihat dengan jelas bagaimana kehidupan di pinggir rel, kolong jembatan.

Dinamika LMND di Jakarta begitu cepat, mungkin karena berada di pusat kekuasaan, sehingga harus lebih aktif dan masif untuk melakukan perluasan dan propaganda di kampus-kampus. Para kader LMND disibukkan untuk melakukan konsolidasi, diskusi di basis-basis kampus, rapat dari siang hingga sore hari, setelah itu lanjut rapat dan diskusi lagi di sekretariat.

Dinamika terus berjalan, aksi-aksi massa terus dilakukan. Satu hal yang membuat saya bangga, LMND mengajarkan saya banyak hal: kepemimpinan, solidaritas, kesadaran kolektif, saya mendapat kesadaran sejati disana. LMND juga melatih mental saya menjadi kuat, membuka mata dan pikiran bahwa persoalan mahasiswa tidak bisa lepas dari persoalan-persoalan rakyat tertindas, untuk itu mahasiswa harus terlibat bersama perjuangan rakyat.

Bahwa kamu adalah salah satu yang turut dalam embrio pembentukan ormas Perempuan API Kartini. Bisa cerita soal itu?

Setelah aktif di LMND, saya melanjutkan keterlibatan dalam berbagai organisasi pergerakan yang fokus pada isu-isu demokrasi, keadilan sosial, dan pemberdayaan masyarakat. Pengalaman tersebut memperkaya pemahaman saya tentang pentingnya pendidikan, pengorganisasian, serta pengembangan gagasan sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan sosial.

Sebelum API Kartini terbentuk, berbagai diskusi, pertemuan, dilakukan bersama perempuan dari beragam latar belakang. Forum-forum tersebut menjadi ruang untuk membicarakan berbagai persoalan yang dihadapi perempuan sekaligus merumuskan kebutuhan akan sebuah wadah perjuangan yang lebih fokus pada isu-isu perempuan.

Selain pendidikan politik, pendidikan koperasi untuk kaum perempuan juga dilakukan. Banyak hal dibahas, bahwa kaum perempuan harus berhimpun dan membangun organisasinya sendiri agar lebih rinci mendiskusikan masalah-masalah yang dialaminya. Juga hubungannya dengan sistem yang menindas perempuan, dengan negara terkait kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat yang itu juga berimbas kepada kaum perempuan.

Menjelang Konferensi Nasional Perempuan Indonesia, saya terlibat dalam berbagai persiapan penyelenggaraan, membuat forum yang mempertemukan perempuan dari berbagai daerah dan latar belakang. Konferensi tersebut kemudian menjadi tonggak penting lahirnya API Kartini.

Jadi keterlibatan saya dalam fase embrio pembentukan API kartini lebih pada sebuah keresahan dimana gerakan perempuan yang cenderung terpolarisasi oleh isu-isu elitis dan akademis, tidak menyentuh persoalan perempuan di akar rumput. Dari sana muncul kesadaran agar perempuan di akar rumput membangun wadah atau organisasinya sendiri.

Dalam perspektif saya, karena kaum perempuan di akar rumput (buruh, petani, kaum miskin kota, ibu rumah tangga) adalah korban ganda dari sebuah sistem kapitalisme dan neoliberalisme yang patriarkal, suara mereka tidak terdengar, tidak tertampung dalam satu wadah politik yang ideologis. Untuk itu butuh organisasi progressif, nasionalis, demokratis, kerakyatan dan punya perspektif kesetaraan gender.

Lahirnya API Kartini berawal dari pertemuan sejumlah perempuan yang memiliki kegelisahan yang sama terhadap berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan Indonesia. Dalam forum tersebut, mereka berbagi pengalaman, membahas tantangan yang dihadapi perempuan di berbagai sektor kehidupan, serta mendiskusikan pentingnya membangun ruang bersama yang dapat memperkuat suara dan perjuangan perempuan.

Pertemuan itu mempertemukan perempuan dari beragam latar belakang dan pengalaman. Meski datang dari lingkungan yang berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni mendorong terwujudnya keadilan, kesetaraan, dan kehidupan yang lebih baik bagi perempuan. Dari proses itulah API Kartini kemudian lahir dan berkembang sebagai bagian dari gerakan perempuan di Indonesia.

Dulu nama “API Kartini” dipilih karena apa? Ada filosofi khusus?

Nama API Kartini terinspirasi dari tokoh perempuan Kartini, si pendobrak zaman yang membelenggu perempuan dengan adat patriarki. Kartini, perempuan yang berani bicara lantang tentang penindasan yang terjadi.

Nama organisasi ini dipilih karena ada cita-cita besar di dalamnya, menjadi “Api penerang” bagi gerakan perempuan untuk merombak sistem dan struktur sosial yang timpang, yang membelenggu kaum perempuan. API sendiri adalah singkatan dari “Aksi Perempuan Indonesia”, dan Kartini adalah sosok perempuan yang memberi inspirasi. Melalui surat-surat dan pemikiran yang progresif, sangat berani pada masanya memperjuangkan akses pendidikan yang setara bagi kaum perempuan, juga sebagai simbol emansipasi perempuan, anti feodalisme dan anti kolonialisme. Ini adalah pemikiran yang membuka dan membawa maju kaum perempuan untuk menuju keadilan dan kesetaraan.

Maka itulah nama API Kartini dipilih, agar organisasi ini bisa menjadi pelopor yang menerangi kaum perempuan untuk bergerak-berjuang melawan sistem yang menindas.

Tantangan paling berat pas awal-awal berdiri apa? Dari pemerintah, masyarakat, atau bahkan dari internal perempuan sendiri?

Saya rasa tidak ada. Paling setelah API Kartini terbentuk, fokus utama kami antara lain sibuk melakukan konsolidasi, perluasan struktur di berbagai kota. Melakukan pendidikan, diskusi situasi nasional – situasi daerah. Karena dalam mengambil langkah organisasi butuh masukan dari daerah, biar pengurus pusat bisa melahirkan keputusan yang fair.

Terkait dengan tantangan internal perempuan itu sendiri sudah pasti ada, baik dalam lingkup keluarga maupun masyarakat, saya rasa ini tidak jauh dari pemikiran patriarki yang sudah mengakar. Terkadang untuk ikut rapat, diskusi, atau berangkat aksi, sering terbentur izin dari keluarga atau suami (bagi yang sudah berkeluarga). Sangat sulit untuk bisa mengubah itu, karena mereka menganggap bahwa perempuan yang berorganisasi, berpolitik, adalah perempuan yang menelantarkan keluarga. Apalagi kalau ikut demonstrasi, keluarga melihat itu sebagai hal yang sia-sia, buang-buang waktu, itu tidak pantas dilakukan perempuan. Mereka masih berpikir bahwa perempuan harusnya stay di rumah, mengurus keluarga, mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga. Ini juga yang menjadi tugas besar gerakan perempuan, merombak pola pikir yang sudah mengakar tersebut.

TENTANG GERAKAN PEREMPUAN HARI INI

Menurutmu gerakan perempuan hari ini sudah di titik mana? Lebih maju, beda bentuk, atau malah balik ke titik nol?

Kalau dikatakan gerakan perempuan kembali ke titik nol, itu tidak mungkin ya, karena tidak dapat dipungkiri bahwa gerakan perempuan saat ini sudah bergerak maju. Sejak reformasi 1998, ruang demokratisasi semakin terbuka lebar, termasuk juga dengan ruang bagi gerakan perempuan yang semakin terbuka dalam menyuarakan tuntutannya. Banyak organisasi-organisasi perempuan bermunculan dengan membawa isu-isu perjuangan yang lebih beragam. Seperti penghapusan kekerasan terhadap perempuan, perlindungan dan hak pekerja buruh migran, pernikahan anak, dan kesehatan reproduksi, representasi politik perempuan (kuota 30%), ketimpangan ekonomi, beban ganda perempuan, dan masih banyak isu lainnya.

Walaupun isu gerakan perempuan terfragmentasi, dan cenderung terbagi dalam faksi-faksi (mungkin karena perbedaan pandangan dan strategi), tetapi gerakan perempuan dan masyarakat sipil pada tahap ini berhasil mengkonsolidasikan diri, melakukan aksi bersama dan mendorong disahkannya UU No.12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS). Walaupun perjuangan ini tidak mudah dan butuh waktu yang panjang, tetapi gerakan perempuan berhasil mendesak negara untuk memberikan perlindungan hukum terhadap korban kekerasan seksual.

Selain itu, gerakan perempuan juga berhasil mendorong aturan kuota minimal 30% keterwakilan perempuan dalam partai politik dan pencalonan legislatif. Hasilnya, DPR-RI periode 2024-2029 mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah dengan meloloskan 127 perempuan (sekitar 22,1%) dari total 580 kursi (Sumber: Instagram.tvr.parlemen).

Tidak hanya itu, gerakan perempuan dan masyarakat sipil juga berhasil mendorong pengesahan UU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga (UU PPRT) pada 21 April 2026 kemarin.

Begitu banyak rintangan yang dihadapi oleh gerakan perempuan untuk bisa menyatukan isu. Organisasi-organisasi perempuan disibukkan melaksanakan programnya masing-masing, hingga sulit melakukan konsolidasi, duduk bersama membahas isu besar terkait persoalan kebangsaan.

Sekarang banyak istilah baru: feminisme interseksional, consent, KBG berbasis online, dsb. Bagaimana kamu melihat bagaimana kamu melihat “bahasa” gerakan perempuan yang sekarang? Lebih tajam atau jadi elitis?

Sebenarnya istilah baru yang bermunculan itu bagus, disamping memperkaya istilah, juga semakin mempertajam masalah-masalah baru yang bermunculan, itu membuatnya menjadi jelas. Misal, terkait KBG berbasis online, dulu yang namanya kekerasan itu kita kenalnya ditendang, ditampar, dipukul, dijambak. Nah sekarang, jika foto kita disebar ke media sosial ataupun di whatshap tanpa izin dengan tujuan untuk melecehkan, mengintimidasi ataupun mempermalukan korban, itu sudah termasuk kekerasan berbasis online.

Menjadi elitis jika istilah tersebut hanya berhenti di ruang-ruang seminar, tetapi untuk di kalangan akar rumput istilah tersebut sulit dimengerti. Untuk itu, menjadi tugas bagi gerakan perempuan agar bisa menyederhanakan istilah-istilah tersebut menjadi bahasa yang mudah dipahami, dimengerti kalangan akar rumput. 

Dulu perjuangannya mungkin soal akses pendidikan + poligami. Sekarang isunya meluas ke UU TPKS, pekerja rumah tangga, disabilitas, dsb. Menurutmu, benang merahnya masih sama nggak sama semangat awal API Kartini?

Menurutku benang merahnya masih sama, yaitu Pembebasan Nasional (pembebasan manusia dari ketertindasannya). Mau itu isunya poligami, akses pendidikan, kekerasan terhadap perempuan, dan lain-lain, akarnya adalah perlawanan terhadap penindasan dan kemiskinan, dengan cara memperjuangkan kesetaraan, keadilan gender, membebaskan kaum perempuan dari dominasi patriarkhi yang dilanggengkan sistem kapitalisme dan neoliberalisme.

Kalau melihat anak muda/mahasiswa yang terjun ke gerakan perempuan sekarang. Apa yang bikin kamu bangga? Apa yang bikin kamu gelisah?

Melihat mereka terjun langsung ke gerakan perempuan, tentunya menimbulkan rasa optimisme yang besar. Bangga karena mereka mempunyai nurani dan kepedulian terhadap isu-isu perempuan saat ini, bangga karena mereka mempunyai keberanian untuk terjun langsung bersama gerakan perempuan. Saya melihat anak muda zaman sekarang lebih variatif dalam melihat isu-isu perempuan, mereka bisa menghubungkan persoalan penindasan perempuan dengan isu keadilan lingkungan (ecofeminism), kesehatan mental, dan lain-lain. Selain itu, anak-anak muda sekarang sangat melek teknologi hingga lebih mudah membuat kampanye digital melalui media sosial. 

Yang bikin gelisah adalah ketika anak-anak muda yang sudah aktif dalam gerakan, ketika selesai kuliah harus berhadapan dengan realitas pragmatis dunia kerja, mereka harus memenuhi kebutuhan ekonominya, keluarganya, sehingga pada titik ini menjadi abai pada kerja-kerja penggorganisiran gerakan perempuan. Inilah yang jadi tantangan tersendiri dalam gerakan, harus dicari solusi bagaimana agar semangat perjuangan itu terus ada, terus menyala.

POSISI DAN SIKAP

Dengan pengalamanmu turut membentuk embrio API Kartini, kalau hari ini kamu diajak turun aksi lagi, isu apa yang bisa bikin kamu harus ikut?

Saya tidak mau terjebak terkait isu. Tentunya saya akan melihat dulu tujuan dan isu (tuntutan) dari aksi tersebut. Bukan hanya sekedar ‘turun ke jalan’. Misalnya terkait isu dengan perlindungan terhadap buruh perempuan maupun PRT, isu kebijakan yang diskriminatif terhadap perempuan, masalah kedaulatan agraria/pangan, masalah kebijakan kenaikan harga BBM, menuntut perlindungan terhadap kaum perempuan, menurutku itu hal yang harus direspon dengan turun ke jalan.

Gerakan perempuan sekarang sering dibilang “terlalu vokal di medsos tapi sepi di akar rumput”. Pendapatmu?

Tidak sepenuhnya benar sih. Menurutku media sosial itu merupakan ruang baru untuk menyuarakan isu dan tuntutan perjuangan. Ini adalah hal yang efektif menurutku untuk dilakukan, agar isu-isu gerakan perempuan bisa menyebar dan diketahui dengan cepat. Banyak kasus-kasus kekerasan seksual terungkap justru lewat media sosial, juga banyak kasus kekerasan seksual langsung direspon dan ditangani oleh pihak kepolisian karena kasusnya viral. Ini yang jadi keuntungan bagi gerakan perempuan, memanfaatkan media sosial sebagai alat perjuangan baru.

Tetapi yang menjadi kekuatan utama dalam gerakan perempuan adalah tetap gerakan di akar rumput, memiliki massa yang terorganisir di pabrik, di kampung, perkotaan dan di desa-desa. Dan media sosial adalah alat untuk menyampaikan kegelisahan dan keresahan sosial masyarakat di akar rumput.

PENUTUP DAN PESAN

Buat perempuan muda yang baru mau mulai, tapi takut dibilang “radikal” atau “nggak kodrat”, apa pesanmu?

Jangan biarkan ketakutan atau penilaian orang lain mengubur keinginanmu untuk berjuang membawa perubahan bagi orang banyak. Rasa takut itu wajar, tapi keresahan akan ketidakadilan yang kamu lihat dan rasakan adalah pondasi awal kamu untuk bisa memulai, dan itu berarti kamu memiliki nurani dan nilai kemanusiaan yang tinggi. Bergeraklah dan terjunlah dengan berani!

Closing Statementmu

Perjuangan Gerakan Perempuan tidak harus berdiri sendiri, gerakan perempuan harus bersatu padu dengan perjuangan sektor rakyat lainnya, bergandengan tangan dalam membuat suatu perubahan yang lebih baik. Keadilan dan kesetaraan untuk semuanya. Panjang umur perjuangan yang lebih baik!

***

0Shares