19 April 2024

Theresa Amanupunnjo: Penyanyi Legendaris Indonesia

0Shares

Profil

Lahir dengan nama Theresa Amanupunnjo dan lebih dikenal dengan nama Theresa Zen, terlahir di Larantuka, Flores pada tanggal 6 Januari 1935. Ayahnya Eferandus Amanupunnjo adalah seorang Sersan Mayor KNIL (tentara Nederland-Indische).

Theresa bekerja sebagai penyanyi di hotel bersejarah Savoy Homann di awal 50-an dengan band bernamakan Rino Gasparini and His Combo, Dipimpin oleh seorang pianis Italia Rino Gasparini.

Dan ada juga dua orang Indonesia yang bergabung dalam band tersebut dan satu lainnya berasal dari Hungaria.

Theresa menyanyikan berbagai lagu dalam berbagai genre di sana untuk menghibur para tamu, baik itu termasuk pop, hawaiian dan juga jazz.

Beliau menikah tahun 1953 dengan Raden Mohammad Zen dari Palembang, saudara dari Sadak, pemilik Savoy Homann saat itu. Theresa mengikuti kompetisi “Bintang Radio Indonesia” yang diselenggarakan oleh Radio Republik Indonesia (RRI).

Theresa menjadi pemenang untuk wilayah Jawa Barat dan dikirim untuk bersaing secara nasional.

Di panggung yang lebih tinggi ini beliau melakukannya sebanyak 4 kali, bersaing dengan beberapa nama legendaris seperti Ratna (penyanyi yang sangat terkenal di tahun 50-an-60-an) dan legenda hidup Titiek Puspa.

Theresa meraih juara ketiga sebanyak tiga kali, berturut-turut pada tahun 1956, 1957, dan 1958, kemudian pada tahun 1961 pada akhirnya beliau berhasil menjadi juara pertama.

Kita masih akan bisa melihat piala-pialanya tersimpan dengan baik di rumahnya.

Ceritanya pada suatu hari Theresa didekati oleh seorang Belanda, yang memberitahunya bahwa seorang komposer sedang mencarinya.

“Saya tanya siapa, dan dia bilang, itu Ismail Marzuki. Saya kaget banget.” Beliau berkata demikian sambil tersenyum.

Ismail Marzuki, terkenal sebagai salah satu komposer legendaris terpenting Indonesia.

Kemudian beliau bertemu dengan Ismail Marzuki tak lama setelah itu, dan mengetahui bahwa Ismail baru saja menulis dua lagu yang Ismail buat khusus untuknya.

Lagu-lagu tersebut merupakan lagu abadi, salah satu karya Ismail Marzuki yang berjudul “Sabda Alam” dan “Kunang-Kunang”. “Sabda Alam” masih sangat populer hingga saat ini.

Kisah Pasar Baru 

Kisah Pasar Baru adalah sebuah album kompilasi yang rilis kala itu pada tahun 1959 di bawah label Irama.

Album ini menghadirkan penyanyi-penyanyi kenamaan seperti Bing Slamet dan Theresa Zen. Orkes Lima Serama pimpinan Amin Usman menjadi pengiring dalam lagu-lagu di album tersebut.

Album Kisah Pasar Baru mendapatkan peringkat ke-58 dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik” versi majalah Rolling Stone Indonesia yang terbit pada edisi #32 bulan Desember 2007. 

Dua lagu dari album tersebut, “Sabda Alam” dan “Pajung Fantasi”, memperoleh tempat masing-masing pada peringkat ke-40 dan ke-70 dalam daftar “150 Album Indonesia Terbaik” yang terbit pada edisi #56 bulan Desember 2009 oleh penerbit yang sama.

Bakat Menurun

Bakat Theresia ini ternyata menurun hingga anak-cucu seperti contohnya Lita Zen.

Bernama lengkap R.A. Suryani Yanti Lalita Zen (lahir 22 Januari 1967) adalah seorang penyanyi dan politikus Indonesia.

Ia dikenal luas sebagai penyanyi yang tergabung dalam grup vokal Indonesia, Elfa’s Singers bersama Agus Wisman, Ucie Nurul dan Yana Julio. Bersama kelompoknya ini, Lita melanglang ke berbagai negara serta menjadi duta Indonesia, antara lain menjadi duta Indonesia pada North Jazz Festifal di Den Haag, Belanda dan di Thailand Jazz Festival pada tahun 1997.

Lita Zen

Dengan pimpinan Elfa Secioria, Elfa’s Singers telah menyandang penghargaan puncak sebagai Grand Champions berturut-turut dalam olimpiade paduan suara dunia di Linz Austria (2000), Busan Korea (2002), Bremen Jerman (2004), dan Xiamen China (2006).

Lita juga aktif sebagai penyanyi rohani di grup musik True Worshippers.

Kemudian ada Iwan Zen yang merupakan vokalis dari grup Halmahera, bernama lengkap Mohamad Ridhwan Lefty Zen lahir pada 22 Januari 1969 dan sempat menyanyi trio bersama Nina Tamam dan Arief Rachman menyanyikan sebuah lagu berjudul “Wanita Lelaki”

https://iradiofm.com/iwan-zen/

Lalu ada Syailendra Zen atau Sa’i Zen dari grup R42, sebuah grup dari Bandung. Mereka terdiri atas Sa’i Zen, Ivan dari keluarga Saba dan Black. Mereka bertiga membentuk kelompok vokal dengan warna R&B. Nama R 42 sendiri dipilih sebagai nama group karena mereka sering ngumpul di sebuah rumah di Jalan Riau no 42 Bandung.

https://twitter.com/saiproject1

Mereka pernah merilis album berjudul “Dari Manusia untuk Manusia” yang rilis di tahun 1997 yang membuat nama mereka dikenal luas. Ini berkat lagu lama milik 2D berjudul “Masih Ada” yang mereka rilis kembali dalam warna R&B dan rap.

Sebuah remake yang terasa segar dan cukup sukses, mengingat lagu Masih Ada adalah lagu yang sangat terkenal tapi mereka bisa membawakan lagi dengan nafas baru tanpa mengurangi keindahan lagunya.

Lagu lain yang juga sempat menjadi hits adalah “Hanya Satu”, sayangnya memasuki era 2000-an nama R 42 tidak terdengar lagi, meskipun mereka sesungguhnya punya potensi.

Selanjutnya ada Karen Theresia Pooroe, lahir di Bandung, 12 November 1987. Salah satu finalis, juara urutan kedelapan dalam ajang adu bakat Indonesian Idol Musim Pertama yang ditayangkan di stasiun TV swasta.

Karen Theresia Pooroe

Seangkatan dengan pemenang Idol lain, seperti Joy, Delon, Nania, Helena Andrian dan lain-lain. Dan bersama mereka juga akhirnya merilis album Indonesian Idol: Indonesian All-Time Hits Compilation.

Sementara dalam penampilannya di Indonesian Idol saat itu Karen membawakan lagu LeAnn Rimes Wildcards: You Light Up My LifeArti Hadirmu milik Audy, Burung Camar lagu milik Vina Panduwinata, dan Cinta Jangan Kau Pergi milik penyanyi asal Malysia Sheila Majid.

Karen di malam Omanya

Seorang seniman juga aktivis Perempuan dan Anak yang kerap mengadvokasi puluhan kasus KDRT dan Pelecehan Seksual.

Dan adiknya Bima Zeno Pooroe, jika kamu pernah dengar atau menonton drama musikal dari Indonesia Kaya yang berjudul Nurbaya yang terinspirasi dari novel sastra karya Marah Rusli, Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai. Serial ini dibintangi oleh Arawinda Kirana, Bukie Mansyur dan Bima Zeno Pooroe.

liputan6.com

Bima Zeno Pooroe memerankan Tuan Maringgih (dalam buku Datuk Maringgih) dimainkan oleh Bima Zeno Pooroe yang telah aktif berkiprah di dunia seni pertunjukan sebagai penyanyi dan pemain teater musikal sejak lama.

“Aku sebelumnya pernah di beberapa judul musikal, kebetulan lumayan aktif dari 2010 sampai sekarang,” ucap Bima. 

Kamu bisa cek nama-nama mereka di spotify dan sebagainya dan dengarkan suara-suara emas mereka.

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai