25 Februari 2024

Resensi Film: Wednesday

0Shares

What day is today? It is “Wednesday“. Serial Wednesday ditayangkan Netflix di penghujung tahun 2022. Pemeran utama Jenna Ortega bersama Luis Guzman, Catherine Zeta Jones, dan Isaac Ordonez.

Penulis naskah  Alfred Gough dan Miles Millar dan disutradarai oleh Tim Burton. Wednesday Addams (Jenna Ortega) adalah anak sulung dari keluarga Addams atau The Addams Family.

Bagi yang pernah mengikuti serial ini sebelumnya pasti telah mengenal baik keluarga ini beserta seluruh anggota keluarganya yang unik.

The Addams family pernah merupakan sebuah kisah keluarga yang dibuat oleh seorang kartunis Amerika, Charles Addams pada tahun 1938.

Pada awalnya muncul sebagai 150 kartun panel tunggal terpisah yang kemudian dimuat dalam The New Yorker. Sejak 18 September 1964 hingga 8 April 1966, menjadi serial singkat berdurasi tiga puluh menit di ABC Television. sebanyak 64 episode. 

Kartunis Charles Addams terinspirasi oleh kampung halamannya di Westfield, Jersey baru, sebuah area yang penuh dengan rumah mewah bergaya Victoria dan kuburan kuno. Dalam seri komik aslinya The Addams Family tinggal di sebuah rumah gothic di Cemetery Ridge.

Netflix merilis serial Wednesday, pertama kali pada 23 November 2022 di layanan streaming Netflix. Wednesday digambarkan sebagai anak yang cerdas, berani, menguasai bela diri, gemar melakukan percobaan terutama yang berkaitan dengan penyiksaan dan kematian.

Selalu memberi pendapat dengan nada sarkastik mengenai segala hal ditambah raut muka dingin dan kostum serba hitam, membuatnya tampil berbeda. Wednesday yang penyendiri menampakkan jati diri yang kuat dan percaya diri.

Dikisahkan, Wednesday dikeluarkan dari sekolah karena tindakannya saat membalas perlakuan para anggota klub renang terhadap adiknya, Pugsley (Isaac Ordonez) dirisak oleh siswa dari klub renang.

Wednesday membalas dengan cara melepaskan dua kantong plastik yang penuh dengan ikan piranha saat para anggota sedang berlatih di kolam renang. Orang tuanya kemudian mengirim Wednesday ke Nevermore Academy, sekolah almamater orang tua Wednesday, bahkan kepala sekolahnya adalah teman lama mereka menimba ilmu. Murid-murid di sekolah ini terdiri dari kelompok murid dengan kekuatan masing-masing. 

Pada awalnya Wednesday tidak menyukai Nevermore Academy, namun lambat laun ia mulai beradaptas. Terlebih setelah melihat sebuah kejanggalan atas kematian temannya. Wednesday bertekad untuk menyelidiki peristiwa tersebut.

Penyelidikannya justru membawanya pada sejarah leluhurnya Goody. Leluhur keluarga Addams dari pihak ayah, Gomez. Dimunculkan pertama kali pada episode 2.

Dikisahkan bahwa Goody beserta seluruh keluarga besarnya dirantai dan dikurung dalam sebuah tempat atau rumah. Diluar, orang banyak dibawah pimpinan Crackstone mulai berteriak-teriak dan membakar rumah itu. Ibu Goody memintanya untuk lari menyelamatkan diri dan kelak meneruskan marga keluarga mereka. 

Goody berhasil menyelamatkan diri dan kelak melawan Crackstone. Terkuak sejarah Joseph Crackstone yang melakukan penyerobotan tanah Jericho milik keluarga Goody dengan dalih keluarga penyihir.

Joseph Crackstone kemudian dielu-elukan sebagai pendiri kota Jericho, dimana Nevermore berdiri.

Laurel Gates, satu-satunya keturunan Crackstone, berusaha membangkitkan arwahnya dengan cara membuka segel kutukan Goody Adams dengan menggunakan darah Wednesday Addams, untuk merebut tanah yang diklaim sebagai milik keluarganya, dimana diatasnya berdiri Nevermore.

Serial dengan genre komedi dan horor dengan latar belakang kemampuan supranatural tokoh-tokohnya, kuburan dan warna hitam.

Namun sejarah leluhur yang melatar belakangi film itu sendiri adalah horor yang sesungguhnya. Kisah mengenai pembakaran keluarga penyihir.

Dalam salah satu serial The Addams Family juga dikisahkan mengenai penolakan masyarakat atas keluarga ini karena hasutan seorang pengusaha real estate.

Kisah perburuan penyihir atau pembersihan penyihir (witch-hunt atau witch purge) merebak di Eropa, terutama di Italia Utara, Jerman, Prancis, dan Swiss, juga di Belanda, Belgia, dan Luksemburg. 

Perburuan penyihir di Eropa Modern Awal dan Kolonial Amerika terjadi pada masa Modern Awal atau sekitar 1450 sampai 1750. Pada periode yang sama dengan terjadinya Reformasi dan Perang Tiga Puluh Tahun. 

Setidaknya sekitar 35.000 sampai 50.000 orang dieksekusi mati. Hukuman mati terakhir terhadap orang yang dituduh penyihir di Eropa terjadi pada abad ke-18

Menurut buku Witch Hunts in the Western World, ”Puluhan ribu orang tewas di Eropa dan daerah jajahan Eropa; jutaan orang lagi disiksa, ditangkap, diinterogasi, dibenci, dituduh, atau ketakutan,” Buku lain yang menceritakan ini, Der Hexenwahn (Ketakutan Berlebihan kepada Penyihir).

Jakob Sprenger dan Heinrich Kramer (nama Latin Henricus Institoris), menulis buku berjudul “Malleus Maleficarum” (The Hammer of Witches-Palu Penyihir).

Buku itu berisi kisah rekaan tentang penyihir berdasarkan cerita rakyat, menyajikan alasan menentang ilmu sihir secara teologi maupun hukum, dan menyediakan panduan untuk mengenali dan menumpas para penyihir. 

Tuduhan penyihir terutama dialamatkan pada perempuan. Sebagian besar adalah perempuan miskin, janda, kaum lansia, dan tabib namun siapa pun bisa jadi tertuduh, dan seringkali dijadikan kambing hitam atas musibah apapun.

Menurut majalah Jerman Damals, mereka dituduh sebagai ”penyebab udara dingin yang membeku serta wabah siput dan ulat yang menghancurkan bibit tanaman dan buah”.

Fenomena ini juga dikenal sebagai Satanic Panic dan menyebabkan ratusan orang dituduh mempraktikkan sihir dan dieksekusi.

Gelombang peristiwa histeria massal serupa terjadi di beberapa negara Eropa daratan dan koloni-koloni Amerika pada waktu berdekatan.

Salah satu contohnya adalah Pengadilan Penyihir Salem (1692-1693) yang terkenal. Skotlandia termasuk dalam jajaran negara dengan jumlah tertuduh yang diadili dan dieksekusi tertinggi di Eropa.

Perburuan penyihir di Skotlandia terjadi antara 1563 dan 1736. Sebanyak 3.837 orang (84 persen di antaranya adalah perempuan) diadili sebagai penyihir.

Dari angka tersebut, 3.212 orang disebutkan namanya, tapi hanya 305 kasus yang diketahui vonis pengadilannya. Sementara itu, ada 205 tertuduh penyihir yang diketahui dieksekusi dan jasadnya dibakar habis.

It was October 15, 1633, and Alison Dick wasn’t allowed to sleep. She was covered in grime. Freezing wind cut through her like a knife. Several soldiers loomed outside the dank church steeple that had become her cell.

They had been paid 14 shillings to keep her awake, though history doesn’t record how. Perhaps they yelled or poked her or threw water on her.

Local church court documents say only that Dick “is ordaned to be wakeit heirafter.” Likely she was not allowed to sleep for days, growing increasingly incoherent, angry, and perhaps even suffering from hallucinations.

A week prior, Dick had confessed to being a witch. Her husband “gave hir, soull and bodie quick and quidderfull to the devill,” she said.

Almost a year later, on November 19, 1633, Alison Dick and her husband William Dick were burned for witchcraft. Dikutip dari “Why Is Scotland Apologizing Now for Witch Trials 300 Years Ago?” yang tayang di laman Atlas Obscura.

Di Indonesia kita mengenalnya sebagai mitos. Beberapa tokoh legenda seperti Nyi Roro Kidul, Nenek Lampir, Ratna dan lain-lain. Juga kekuatan supranatural seperti pawang hujan, peramal, dukun dan lain-lain sebutan.

Sebagian besar tokohnya adalah perempuan. Kita percaya bahwa ada kekuatan alam, kekuatan roh atau pribadi di luar kekuatan manusia. Namun kita patut tetap waspada.

Kekuatan supranatural di jaman ini mungkin justru terletak pada kekuatan dunia virtual, yang tersebar dalam berbagai media digital. Jadi, langkah aman adalah tetap waspada dan tidak mudah tersulut hasutan.

Kembali pada serial Wednesday. Kisah menegangkan perburuan penyihir ditampilkan sekilas dan menjadi latar belakang sejarah serial Wednesday.

Beberapa pengamat film menyebutkan film ini sebagai reboot dan sebagian lagi menyebutnya sebagai spin-off (sebuah film yang mengisahkan tentang satu tokoh yang berasal dari sebuah film yang pernah sukses di pasaran). Ada pula pendapat yang berbeda,

Wednesday doesn’t tread any ground that previous versions of The Addams Family have, ruling out it being a reboot.

It’s also not directly a sequel to any specific version of The Addams Family. Instead, it’s something entirely its own.

Showrunners Millar and Gough said that it “didn’t feel like a remake or a reboot” but rather something new. They elaborated, “It’s something that lives within the Venn diagram of what happened before, but it’s its own thing.”

Adam Lock called it a “welcome addition to the franchise.” In fact, we don’t see that much of the rest of the Addams family at all; the series is focused on Wednesday and a whole set of new characters.

Perhaps, instead of more remakes of franchise films in the future, we can simply have more spin-off projects like this one that has a creative approach to an established property.

Well, apapun itu, rasanya tak sabar menunggu Wednesday season 2. So, watch out, Wednesday is coming to your room. Check it out.***

Ernawati

0Shares
×

Salam Sejahtera

× Hai