CEPAZ Dibentuk oleh lima organisasi hak asasi manusia, «Con Ellas/For Women” adalah sebuah platform untuk mendukung...
Featured
Kerentanan jurnalis perempuan muncul karena jurnalis berusaha mengungkap fakta dan kebenaran yang seringkali bertentangan dengan kepentingan status quo. Di sini status quo dapat diartikan sebagai kekuasaan dan maskulinitas. Dalam mengungkap fakta dan kebenaran tersebut, aktivitas jurnalis perempuan dinilai berbahaya dan destruktif karena meremehkan kepentingan status quo laki-laki. Jurnalis perempuan masih sering mengalami berbagai bentuk kekerasan dalam pekerjaannya, baik kekerasan verbal, fisik, dan seksual. Dalam pelatihan bersama teman-teman jurnalis, mereka mengatakan bahwa banyak jurnalis perempuan yang pernah mengalami terorisme, intimidasi, bahkan pengungkapan informasi pribadi.
Jakarta – Mega salsabillah yang lebih banyak dikenal sebagai Mega SUCA, bekerja sebagai freelancer, pernah menikah dan dikaruniai 2...
Jakarta – 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu di setiap tahunnya. Dan di sini pula...
Sekali lagi, konflik Venezuela tampaknya terhenti. Tampaknya perubahan politik dalam waktu dekat tidak akan terjadi....
Sejak kemenangan Revolusi Kuba pada tanggal 1 Januari 1959, terjadi hal baru. Proyek sosial, dengan...
Astaga, “Apa-apaan ini… Bukankah setiap manusia baik laki-laki, maupun perempuan memiliki hak atas hasrat dan libido seks. Lantas kenapa demikian?” Tanyaku dalam gumam. Aku kan hanya perempuan biasa, yang juga mengharapkan kenikmatan atas tubuhku, bukan menjadi perempuan yang melayani tanpa kerelaan keakuanku, juga kemauan tiap mereka laki-laki yang menginginkan hubungan intim. Bahkan hal tersebut, menurutku merupakan keadaan yang manusiawi atas kepemilikan tubuh seseorang. Namun aku bersama Raih kembali menyatu dalam pelukan, di tengah keheningan malam.
Jakarta -16 Hari aktivisme melawan Kekerasan terhadap perempuan sudah berakhir, akan tetapi output atau dampak...
Jakarta – Sampul bergambarkan punggung seorang perempuan di taman dengan risleting di punggungnya. Mungkin cukup...
12 Perempuan penulis menelanjangi patriarki. Bukan untuk menunjukan keseksiannya, tapi kebobrokan, kebohongan, kemunafikan, ketidakmampuan mengendalikan syahwat dan kekejiannya. - Dewi Nova (Artivis)
